Pages

Tuesday, September 4, 2012

Sembunyi

Sayang, nyanyikanlah syair lagu itu. Karena di celah nadanya aku sembunyikan rasaku. Sayang, hanyutlah pada lautan tulisan itu. Karena di antara baris-barisnya aku sembunyikan rinduku. Sayang, pandangilah balutan warna pada kanvas itu. Karena di balik cerahnya aku sembunyikan cemburuku.

Sayang, semisal ikatan waktumu sedikit melonggar dan kau memiliki cukup ruang untuk bergerak, temukanlah mereka. Temukan mereka yang aku sembunyikan darimu. Sebab aku tak memiliki cukup keberanian untuk meletakkan mereka diatas nampan dan menyuguhkannya dihadapanmu.

Sayang, temukan aku. Sebab aku telah sesak di desak rindu. Sebab aku telah sesak dihimpit rasa. Sebab ada baris kata yang ingin kubisikan tepat didekatmu.

"Aku mencintamu, pasti."

Tuesday, August 28, 2012

Menyelipkan Kenangan

Akan ada saatnya, ketika bertemu satu sama lain bukanlah  merupakan hal yang mudah dilakukan. Maka temui aku dalam kenanganmu.  Kenangan yang akan aku simpan dalam amplop mungil berwarna biru muda dan aku selipkan dalam butiran memorimu. Berharap akan dengan mudah kau temukan dalam tumpukan kenangan lain, karena biru muda adalah warna favoritmu.

Kepadamu, aku ingin menyelipkan secarik kenangan yang akan menggariskan senyum ketika kau baca. Yang akan membuatmu sedikit melamun ditengah waktumu menyesap pahit kopi. Atau mungkin yang akan berkelebat saat kau berada di sekitar teman terbaikmu.Di masa depan. Kenanglah kita. Dalam ingatan terbaikmu dan dengan senyum paling bahagia.

“Jalan yuk!” Ajakku dari seberang telepon mu.
“Mau kemana?” Jawabmu.
“Nggak usah banyak nanya. Jemput aja dulu, ntar baru aku kasih tau mau kemananya.”
“Dih? Ni anak ……”
Telepon sengaja segera kututup sebelum terlalu lama mendengar banyak alasan darimu dan segera menggantinya dengan mengirim pesan singkat.

Buruan mandi! Abis itu jemput aku. Oke? Jangan kelamaan, keburu siang.

Brisik! Iya, bentar.

Aku mengenalmu dengan baik. Sangat baik. Dan itu membuatku tahu bagaimana cara menanganimu. Sebut saja seperti itu. Meski dengan banyak omelan, toh kau pun akan datang juga akhirnya.

“Mau kemana sih? Pagi-pagi udah ribut.” Tanyamu ketika berada didepan rumah ku.
“Keliling kota. Kita tourist-day ya?” Aku mencetuskan ide gilaku. Meskipun sebenarnya tidak terlalu gila.
“Gila! Mau ngapain sih?!”
TOURIST-DAY! Udaaah, ikutin aja sih. Pokoknya kita keliling kota dan aturannya cuma satu, berlagak jadi turis. Titik.”  Jelasku sambil menekankan kata ‘turis’.
“Male…….”
“Ayok buruan berangkat, keburu panas.” Paksaku sambil mendorongmu keluar dari halaman rumah.

Inilah salah satu hal yang akan aku masukkan dalam amplop mungil berwarna biru muda yang nantinya akan kau miliki. Berlibur. Menjadi turis di kota sendiri. Menelusuri jalan yang  mungkin setiap hari kita susuri. Berdua. Mengabadikan momen dalam sebuah jepretan kamera di depan bangunan khas kota ini yang mungkin sudah bosan kita lihat. Menyecap makanan pinggir jalan  yang lagi-lagi telah kita lewati berkali-kali. Tapi disinilah kita. Melakukan hal-hal yang biasa dengan cara yang tidak biasa.

“Dapet darimana ide kayak gini?” Kamu membuka percakapan ketika kita menapak langkah di salah satu jalan di kota ini.
“Dari sini.” Jawabku sambil menunjuk kepala. “Kita nggak mungkin punya waktu untuk liburan sama-sama keluar kota. Jadi, kita harus bisa liburan sama-sama di kota sendiri.” Lanjutku.
Kamu tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHA. Dalam rangka apaan?” Tanyamu lagi setelah berhasil menghantikan tawamu.
“Nggak ada. Di masa depan nanti, belum tentu kita punya waktu buat liburan sama-sama. Jangankan liburan, ketemu aja mungkin udah susah.”
“Emang kamu mau kemana?” Ada garis khawatir di wajahmu. Terlihat. Meskipun aku tau kau berusaha menyembunyikannya.
“Belum tau. Tapi kemanapun aku, kamu. Dimanapun kita, disini atau di tempat lain. Kita akan punya kehidupan masing-masing, kan?”
“…”
“Makanya itu, kita harus liburan sama-sama. Sebelum kehabisan waktu.” Ucapku sambil tersenyum.

Ada banyak tawa yang kita gantung di sepanjang perjalanan kita hari ini. Ada banyak warna yang kita gariskan. Ada banyak celoteh yang kita rekam dalam-dalam di kaset memori. Ada banyak gambar yang terabadikan. Hari ini.

“Aku udah pernah bilang kan kalo kamu teman terbaikku?” Kali ini aku membuka pembicaraan di sela-sela kita menyantap makan.
“Iya.” Jawabmu singkat.
“Dan kamu juga tahu kalau aku menganggapmu lebih dari teman terbaik.” Lanjutmu.
Aku terdiam. Aku sudah tau kalimat ini akan kembali terucap. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Sangat kecil. Aku bahkan ragu kamu melihat anggukanku atau tidak.
“Dan?” Tanyamu.
“Kamu tetap teman terbaik, van.”
Lagi-lagi ada senyum kecilmu disana. Tulus. “Iya, aku tahu.”

Kalau rasa mampu menerima permintaan, aku memilih untuk meminta rasa agar mengalir menjadi satu dengan aliran rasa paling tulus yang kau miliki. Setidaknya menurutku. Tapi rasa tidak memiliki kebaikan semacam itu, dia lebih memilih mengalir ke arah manapun yang ia kehendaki. Sebenarnya, diam-diam aku mengirimkan doa pada Tuhan, meminta agar Tuhan bersedia menjungkirbalikkan perasaanku untukmu. Tapi sepertinya malaikat tidak bersedia mengamini, sehingga doaku pun tidak terkirim. Mungkin tersangkut di gumpalan awan sana. Atau mungkin doa itu hanya berputar di langit-langit kamarku. Entahlah.

“Thanks ya?” Ucapmu setelah mengantarku ke depan pintu rumah.
“Aku yang makasih. Kan aku yang ngajak tadi.”
“Iya. Sama-sama makasih kalau gitu.”
Aku tersenyum. “Van, aku mau kamu mengingatku se-menyenangkan ini. Itu saja.”
“Selalu, ren.” Jawabmu sambil tersenyum dan mengusap kecil kepalaku.
“Bye. Lain kali kita liburan lagi. Semoga masih ada waktu.” Pamitmu.

Secarik kenangan hari ini, aku masukkan dalam amplop mungil berwarna biru. Seperti kataku tadi, akan aku kirimkan segera dan aku selipkan dalam butiran memorimu. Kusisipkan tawaku disana, berharap tawa itu akan menular padamu.

Jika esok, waktu menyembunyikan kita berdua, maka temui aku dalam kenanganmu.

Saturday, August 4, 2012

Akhir Tanpa Akhir

Aku ingin menceritakan satu kisah, sekedar ingin kuperingatkan saja pada kalian yang tergelitik untuk menelusuri kisah ini, kisah ini tanpa akhir. Lebih tepatnya belum memiliki akhir, karena aku sendiri belum dapat memutuskan akhir seperti apa yang seharusnya tertulis. Jadi lebih baik kalian putuskan dulu apakah kalian ingin tetep membacanya, atau tidak.

"Selamat ulang tahun. Maaf baru bisa ngucapin sekarang. Sengaja, biar bisa jadi orang terakhir." Ucap Odi dengan segaris senyum di ujung pertemuan kita malam itu. Waktu menunjukkan pukul 23.15, setidaknya menurut jam yang menempel di tangan kiriku.
Aku tersenyum. "Kamu aneh. Biasanya orang-orang berlomba-lomba buat jadi yang pertama."
"Kenapa harus jadi yang pertama kalau akhirnya ditinggalkan?  Bukannya lebih baik jadi tempat terakhir dan tempat menetap?" Balasnya dengan ringan.
Aku hanya bisa membalas dengan tersenyum canggung.
"Kalau aku minta satu permintaan boleh?" Tanya Odi kali ini dengan suara yang sedikit lirih.
"Apa?"
"Kalau aku minta kamu berhenti mencari tempat menetap lain, bisa?"
"Maksudnya?"
"Aku minta kamu tetep disini. Disampingku. Nggak ada orang lain lagi. Mau?" Tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
"..." Aku mengangguk. Pelan. Agak berat.

Anggukan berat beberapa saat lalu bukan karena aku ragu. Bagaimana bisa disebut ragu kalau akupun sudah memutuskan memang hanya dia satu-satunya? Anggukan berat itu karena Pras. Iya, Pras yang kebetulan adalah sahabat dekat Odi. Lelaki yang hampir disaat bersamaan pernah mendekatiku. Beberapa minggu lebih dulu dibandingkan Odi. Kebetulan. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya adanya suatu kebetulan di dunia ini. Bagaimanapun, bukankah semua hal memang sudah tertulis? Jadi bagaimana mungkin ada suatu "kebetulan"?

Sebenarnya aku lebih suka kalau dari awal mereka menjadi musuh saja. Musuh bebuyutan kalau perlu. Hingga aku tak perlu repot-repot memikirkan nasib dan perasaan Pras. Memikirkan perasaanku sendiri yang jatuh cinta berkali-kali pada Odi saja sudah cukup merepotkan. Dan sekarang ditambah memikirkan Pras dan hubungan persahabatan mereka. Ini benar-benar merepotkan.

***

Hari ini genap satu bulan perayaan untukku dan Odi.
"Aya!" Panggil seseorang dari arah belakangku.
Aku berbalik. Benar saja. Pras sedikit berlari menghampiriku.
"Kenapa?"
"Bisa ngomong berdua bentar?"
"Apa?"

Alih-alih menjawab, Pras justru menarikku ke taman samping kampus yang memang jarang terjamah mahasiswanya.

"Mau ngomong apa?" Tanyaku lagi setelah duduk beberapa saat.
"Udah berapa lama kamu sama Odi?"
"Ngapain sih tanya kayak gitu?"
"Aku tanya, udah berapa lama kamu sama Odi?" Tanyanya ulang. Dari suaranya aku tahu Pras menahan emosinya.
"Satu bulan." Jawabku ketus.
"Jadi dia alasanmu menjauh tiba-tiba dari aku?"
"Bukan."
"Bohong!" Tuduhnya kali ini sedikit berteriak.
"Memang bukan."
"Jadi kalau bukan dia, gara-gara apa tiba-tiba kamu jauh?"
"Harusnya sebelum kamu tanya, kamu ngaca dulu pantes atau nggak dulu kamu deketin aku!" Jawabku keras.
"Maksudnya?" Kali ini suaranya melunak.
"Odi bilang kamu punya cewek. Dan masih berani-beraninya waktu itu kamu deketin aku?!"
"..." Pras terdiam. Sejenak.
"Jadi itu alasan kamu menjauh dari aku dan lebih memilih Odi?"
"Iya." Jawabku pendek dan yakin.
"Hanya itu?"
"Iya."
"Kalau alasannya hanya itu, harusnya kamu pun nggak memilih Odi." Ucap Pras ragu.
"Maksudnya?"
"Buat Odi pun, kamu bukan satu-satunya, Aya." Jawabnya sambil berdiri dan berjalan pelan.
"..."

Lidah ini tiba-tiba gagu. Beku. Dan semua menjadi abu-abu.



Friday, June 22, 2012

Kosong


Tolong jelaskan padaku tentang rasa ini. Rasa kosong yang tak juga dapat didefinisikan. Apakah rasa kosong yang senyap dan meronta kejenuhan? Ataukah rasa kosong yang lega dan dapat menidurkan dengan lelap? Rasa seperti apakah ini? Ketika kosong tak hanya sekedar kosong. Ketika rasa disadari memiliki kemampuan untuk memecah dirinya sendiri, dan menuang gamang pada titik-titik tertentu. 

Kosong ini bukan hanya kosong. Kosong ini tak terdeksripsi dan terdefinisi dengan baik, bahkan dalam lembaran-lembaran kamus sekalipun. Jadi, harus kemana aku mencari penjelasan ini? Harus kepada ahli bahasa kah yang alih-alih tidak menjawab jawaban yang aku cari namun justru menjelaskan bahasa indonesia yang baik dan benar? Pada kenyataannya, mungkin hanya kamu yang tahu persis jawaban itu. Tapi bagaimana caranya aku mendapatkan jawaban darimu tanpa harus menampakkan diri kehadapanmu? Bukan karena tak ingin, hanya saja tak mampu.

"Dia siapa? Kekasihmu?" Tanyamu sedikit menyelidik.
"..." 
"Benar kekasihmu?" Tanyamu lagi.
"..."
"Ya. Dia kekasihmu." Kamu menyimpulkan karena tahu aku tak mungkin menjawab. Aku hanya tersenyum, pahit.
"Kalau begitu, aku pergi. Trimakasih untuk semua." Lanjutmu.

Membiarkanmu pergi dengan keputusan sendiri adalah satu-satunya cara termudah untuk melepasmu. Karena aku rasa terlalu berat mengusirmu secara gamblang ketika aku sendiri mengharapmu. Aku rasa membiarkanmu berpikir bahwa rasaku beralih darimu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan. Karena benar-benar mengalihkan rasa darimu sudah jelas terlalu sulit. Maka kubiarkan segala kesimpulan yang kamu buat dan segala pikiran yang kamu punya, karena mengusirmu bukanlah kemampuanku, namun membiarkan kamu pergi karena keinginanmu sendiri adalah keahlianku.

Aku sendiri belum bisa memutuskan, siapa yang melepas dan siapa yang dilepaskan. Mungkin aku, mungkin juga kamu, atau kita berdua. Aku melepaskan diri dan tentu saja melepasmu. Maka seharusnya kosong ini tak ada. Karena seharusnya kosong ini terganti ikhlas. Tapi bisakah ini dikatakan ikhlas ketika aku bahkan sama sekali tidak merasa lega? Mungkin kosong ini senyap yang hampa. Tapi bisakah dikatakan hampa ketika aku memang menghendaki segalanya seperti ini?

Mungkin ini ikhlas yang sedang membelajarkan diri, ikhlas yang masih saja sedikit merasa kehilangan meski telah merelakan. Atau mungkin ini hampa yang  dikehendaki, hampa yang masih memiliki sedikit cadangan oksigen dibalik dirinya. Hhhhh. Sedikit saja jelaskan padaku rasa apa ini, karena kurasa aku kelelahan menyelami garis yang tak juga berujung pangkal.

Aku menyerah. Tetiba aku berada di depan sebuah rumah yang benar-benar aku kenal. Aku berdiri di beranda tersebut tanpa mengetuk pintu, apalagi memencet bel. Hanya berdiri. Mematung. Kaku. Sampai sang pemilik rumah membuka pintu, entah kebetulan atau memang takdir.

"Apa harus se-kosong ini untuk melepasmu?" Ucapku. Ragu. Kaku.

Diam. Sunyi. Senyap. Tapi ini bukan hampa. Ini berarti. Aku tahu. Ini menanti. Menanti pemecah dari segala sunyi. Namun, tak ada jawaban terurai hanya ada peluk hangat yang meluluhkan kaku. Pecah sudah bendungan di pelupuk mata yang kubangun, hilir air mata mengalir. Aku tetap tak tahu rasa apa ini, ketika tetiba aliran darah seperti memiliki satu komando untuk mengisi kosong yang hampa. Ini nyaman. Itu saja.

Tuesday, May 8, 2012

Pas de Titre

Aku harap kita memiliki kamus yang sama. Kamus untuk memaknai perilaku, agar tak ada yang salah paham. Aku harap kita memiliki standarisasi yang sama, agar tak ada yang terlalu berharap. Tapi bukankah hidup butuh dinamika?

Aku harap kita bisa memaknai detail-detail ini bersama. Sehingga paling tidak, tak ada lebih banyak detik yang terbuang untuk mengira-ngira makna dari setiap jengkal perilaku kita. Tapi kita tak punya banyak waktu yang bersedia melonggarkan diri untuk kita habiskan bersama. Apalagi untuk menyediakan diri bagi kita berdua untuk mengartikan tiap sentimeter gerak yang kita lakukan. Tidak, waktu tidak bersedia untuk itu.

Mungkin kamus kita berbeda bahasa atau mungkin kita yang berbeda dalam memahami. Aku bosan meraba. Aku bukan murid pramuka yang bisa dengan lancar membaca sandi-sandi morse yang kau buat. Sebenarnya aku lebih suka menjadi buta, setidaknya kau mungkin akan mengirimkanku huruf braille sehingga aku hanya perlu membaca tanpa harus lagi kesulitan menafsirkan. Bukannya menjadi orang normal yang seakan-akan seperti makhluk bilingual dan dapat dengan mudah menebak-nebak bahasa isyarat yang kau ciptakan. 

Rasa-rasanya asaku terlalu menggantung tinggi, atau justru kamu yang meninggikan, sampai-sampai aku kelelahan mendongak. Bagaimana jika kita koyak saja asa itu, biar menjadi serpih meski tetap bertahan menggantung di atas sana? Akan mustahil menarik kembali asa tersebut untuk jatuh ke pelukan tanah padahal salah satu dari kita menahan keberadaannya untuk tetap menggantung. Tinggi. Baiknya biarkan saja dia terkoyak diatas sana, agar dia mengerti arti dari gores-gores luka sebenarnya. Dan menikmati sakit sebagai santapannya. Dengan begitu, dia tahu benar kemana dia harus berpijak. 

Karena mengucap harap untuk menjadi makhluk abadi di satu hati adalah sia-sia, sementara kau telah memiliki penghuni tetap hati sedang aku hanya bagian dari taman bermain.

Friday, May 4, 2012

Absurdia

Aku jatuh. Benar, aku menjatuhkan rasa padamu. Tidakkah kamu dengar? Rasaku sudah jatuh tanpa perlawanan. Bergelimpangan, bergaungan menyusuri tiap sudut antara kita. Seharusnya kamu mendengar segalanya. Segala gaung suara dari rasaku yang sepertinya meraung-raung atau mungkin seperti bunyi lonceng yang mengetuk sunyi malam. Tidakkah kamu lihat? Rasaku sudah jatuh tersungkur diam, tanpa berniat bergeser dari hadapanmu. Seharusnya kamu melihat segalanya. Segala kondisiku setiap kita bertemu. Kondisi yang aku rasa bukan lagi seperti aku.

"Din, lagi dimana?" ucapmu diseberang telepon.
"Di kantor. Kenapa?" 
"Balik kantor nggak ada acara kan? Jalan yuk! Bosen ni. Kamu kesini ya?"
"Mau kemana emang?"
"Udaaah ikut ajaaa. Yang penting kamu kesini dulu." Ujarmu bersemangat.
"Iya. Ntar lagi aku kesana."

Kondisi seperti ini yang seharusnya kamu lihat. Lembaran kertas kerja menunggu untuk aku gapai, tapi harus lebih bersabar untuk menunggu tengah malam nanti. Saat kamu sudah puas menjalankan semua rencanamu dan membiarkan aku pulang disambut lambaian kertas-kertas itu. Atau mungkin seharusnya kamu melihat kondisi dimana aku lebih memilih menemanimu duduk di teras rumahmu daripada menghadiri undangan makan malam dari bos besar ku. Tapi sepertinya kamu tak pernah melihat. Entah sengaja membutakan mata, atau memang benar-benar buta.

"Kenapa kamu? Diem mulu daritadi. Tumben bener. Sariawan?" Tanyaku di sela-sela perjalanan kita.
"Tau ah. Bete."
"Bete kenapa? Bete gara-gara sariawan?" Godaku.
"Ni orang ya, nggak bisa serius dikit apa?!" Ujarmu dengan kesal. Dan detik selanjutnya sudah tak ada jeda lagi antara satu kalimatmu ke kalimat lainnya. Membiarkan aku dengan ikhlas mendengar kesalmu. 

Mungkin sebenarnya saat ini aku lebih berharap indera pendengaranmu memiliki gaung yang dapat mengubah suara-suara disekitarnya. Mengubah suara "Santai aja sih, nggak usah dipikir banget." menjadi "Kita selesaiin ini bareng-bareng." atau mengubah "Nggak usah ribet lah." menjadi "Semua akan baik-baik saja.". Tapi gua pendengaran mana yang bisa mengubah suara dan gaung menjadi dua hal yang berbeda?!

Sialnya, saat ini aku berada di tempurung bernama sahabat. Dan dapat disimpulkan bahwa jikapun pendengaranmu mengalami kerusakan parah dan dapat mengubah gaung suara ku, kamu bisa dengan mudah mengatakan bahwa aku adalah sahabat yang baik. Ya. Begitu saja.

Seharusnya aku sadar, posisi terdekat kita justru membuat kita berdua tetep jauh. Kamu, dalam garis cakrawala senja sedang aku dalam pekat hitam malam. Sedekat apapun kita, garis kita tetap berbeda. Kita, bukan dua hal yang bisa melebur satu.

Tuesday, April 17, 2012

Apakah Salah?

Kamu datang terlalu cepat. Jingga langit masih di depan mata. Bahkan genangan-genangan murni sebagai tanda bahwa air langit sempat bermain-main menjejak tanah sore tadi belum mengering. Lampu-lampu pinggiran jalan belum seluruhnya menyala. Aku pun masih terduduk di ruang tamu, bagian terdepan dari rumah, setelah beranda tentunya. Mengawasi, tanpa tahu mengawasi apa. Ketakutan, tanpa tahu objek nyata yang aku takuti. Aku kosong dan belum tahu bagaimana mengisinya kembali.

Lalu bagaimana bisa kamu datang kembali? Saat aku bahkan sedang belajar tertidur siang tadi. Belajar melepas asa ke dalam dunia mimpi, karena berharap amnesia sudah jelas tidak mungkin dikabulkan. Kecuali jika aku dengan ikhlas membenturkan kepala ke dinding, dengan resiko bonus cacat fisik. Bagaimana bisa kamu ada di depan sana, tepat di depan rumahku ketika aku bahkan baru saja mengembalikan buku kisah kita di rak buku paling atas, kemudian mengambil buku lain yang judulnya saja bahkan belum aku baca utuh? 

Keabnormalan macam apalagi yang ingin kamu bawa ke hadapanku? Kalimat-kalimat macam apalagi yang akan kamu tuliskan di lembaran buku kita? Sepertinya aku memang harus terbiasa dengan kebiasaanmu membuat aku tergila-gila dalam sesaat lalu kemudian memaksaku untuk cepat waras pada detik selanjutnya. Wujud kerelaan lain seperti apa yang harus aku pelajari, ketika aku bahkan belum tamat membaca satu teori kerelaan? 

Kamu lah wujud yang selama ini aku awasi dari ruang tamuku. Mengawasi agar bukan kamu, wujud yang berdiri di depan rumah. Kamu lah sosok yang selama ini aku takuti datang kembali. Kamu lah orang yang membuatku masih saja duduk di ruang tamu, berharap memiliki kekuatan untuk menyuruhmu pergi bahkan sebelum kamu memasuki dinding pagar.

Matahari bahkan belum tuntas mengantarku ke dalam gelap malam. Suara-suara jangkrik belum muncul untuk mengajarkan kerelaan. Dan aku belum sempat bercerita dalam mimpi malam yang panjang agar nyataku dapat baik-baik saja. BAIK-BAIK SAJA SECARA TOTAL. Bukan separuh, sepertiga atau malah masih seiris. Aku ingin baik-baik saja secara total. Titik. Lalu bagaimana bisa kamu berdiri di depan rumah dan mengetuk pelan pintu di hadapanmu? Yang pada akhirnya tanpa sadar aku membukakan sekat yang membatasi kita.

"Apa kabar?" Ucapmu dengan segaris senyum ikhlas.
Aku diam.
"Boleh aku masuk?" Ucapmu dengan nada yang teratur.
Aku diam.
"Aku pulang. Pulang ke hadapanmu. Boleh?" Tuturmu pelan sambil mengulurkan tangan. Memintaku untuk menggenapi.
Aku diam.

Bagaimana jika aku bukan jalan pulangmu? Bagaimana jika rumah ini bukan tempatmu untuk pulang? Bagaimana jika kamu, hanya mengira aku adalah tempatmu pulang? Bagaimana jika akulah tempatmu berpergian dan suatu saat kamu akan pulang ke arah lain? 

Jikapun aku bukan tempatmu untuk pulang, apakah masih ada kekuatan untuk melepasmu lagi ketika jabat tangan kita sudah bertaut? Apakah masih ada sisa-sisa teori kerelaan yang aku tahu untuk melepasmu pergi ke tempa seharusnya kamu pulang?

Aku melihat uluran tanganmu di hadapan ku. Dengan sisa-sisa keyakinan yang berserakan, tangan kita berjabat.

"Jika aku bukan tempatmu pulang dan aku tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan lagi, apakah salah?" Ucapku lirih.