Pages

Sunday, June 8, 2014

Seutas Janji Yang Terpenuhi dan Yang Teringkari

Janji.

Satu kata tersebut kumasukkan dalam kategori kata yang kubenci. Kata sederhana itu mampu menyulapmu serupa orang penuh hutang dengan debt collector yang akan mengejarmu dengan setia, lebih setia daripada kekasihmu. Atau mengubahmu seperti terdakwa pengadilan yang berhak dituntut jika tidak terpenuhi janjimu. Lebih parah lagi, ketika kata tersebut ternyata membuatmu menjadi seorang pengharap tidak rasional yang entah sengaja ataupun tidak mengikat kaki pada janji itu sendiri. Tak bersedia pergi kemanapun. Irasional. Bahkan justru mampu membuatmu menjadi seorang pemberi harapan yang menggantung orang lain hanya dengan seutas benang tipis. Sekali lalai, orang lain terluka.

Janji adalah kata yang sederhana. Terlalu sederhana. Hingga tak sadar kita akan dampaknya. Hingga segala kehati-hatian dikesampingkan. Sebab terlalu mudah dia diucap. Maka, aku membencinya. Sengaja kupenjarakan kata tersebut pada kerongkongan paling dalam. Aku kunci yang kuncinya sengaja ku buang ke sembarang sudut. Ah. Tapi aku tak tahu, mantra apa yang kamu gunakan sampai aku terhipnotis. Aku tak tahu, cara seperti apa yang kamu lakukan untuk menemukan kunci itu dan memberikannya padaku.

"Aku akan pergi." Katanya.
"Sampai kapan?" Begitu responku. Sejujurnya aku membenci responku sendiri. Untuk apa menanyakan sampai kapan?! Toh intinya kau akan pergi juga.
"Belum tahu. Belum bisa dipastikan. Tapi, bisa aku minta satu hal?" Ragu-ragu kau lontarkan pertanyaan itu. Ragu pula aku untuk mengangguk.
"Tunggu aku. Berjanjilah."
"Kamu tahu sendiri, aku tak pernah berjanji."

Ah! Permintaan itu sungguh keterlaluan. Kau meminta kata yang aku kurung dan kubenci -sejak aku paham atas konsekuensi dari kata itu- untuk muncul ke permukaan percakapan kita. Lalu, janji macam apa itu? Ketika aku bahkan tak tahu akan sampai kapan. Ketika kau sendiri tidak bisa memberikan garansi apapun untuk kembali. Ini ide gila!

"Kau tahu alasan aku tak pernah mau berjanji atas apapun? Karena masing pihak akan merasa terbebani. Karena masing pihak akan saling mengharap. Karena masing pihak bisa saja saling melukai. Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Sama sekali tidak mudah." Ucapku memberi alasan.

Ada jeda diam disini. Lama. Lama, sampai dingin menyergap sebab kita berdua, namun sendiri. Dalam pikiran masing-masing.

Kemudian akhirnya kau memecah keheningan.

"Yang aku tahu, dengan janjimu aku punya alasan untuk kembali pulang. Sebab aku butuh alasan untuk pulang. Sebab aku butuh pulang. Untuk alasan itu, tak bisakah kamu membuat sedikit perkecualian? Sekali sepanjang usiamu. Sekali."

Aku kalah. Seutas janji terikrar. Kau janji akan kembali, aku janji untuk menanti.

***

Sudah dua tahun lebih sejak kepergianmu. Hari ini, banyak sekali orang disini. Banyak sekali. Di rumahku. Sebagian besar memakai baju hitam. Sebagian lagi, bernuansa gelap. Hanya sedikit yang menggunakan warna sedikit cerah. Doa dan ucapan duka cita bergantian diucapkan oleh para tamu. Ayat-ayat Tuhan dibacakan sejak pagi tadi. Ada air muka sendu yang berusaha ditegarkan. Ada juga air mata yang pasrah dijatuhkan. Ada kata maaf yang diucapkan dari pihak keluargaku kepada tamu yang datang. Banyak sekali. Maaf yang diatasnamakan aku. Meski aku sendiri tidak ingat kapan aku pernah menitipkan maaf-maaf itu untuk disampaikan oleh keluargaku.

Dari sekumpulan orang yang ada disini, aku menangkap sosokmu. Meski jauh, aku bisa memastikan itu kau. Hanya saja, air mukamu tidak bisa kupastikan. Tidak jelas. Raut itu, entah apa maksudnya. Tatapan kosong tapi berisi. Tahu tujuan tapi hilang arah. Aku gagal menerka.

Perlahan langkahmu mendekat. Pada keluargaku. Pada petiku.

"Disa minta maaf. Untuk janji yang tidak sempat ditepati. Dia menitipkan ini." Susah payah ibu mengucapkan kalimat singkat itu padamu. Ada getar disana. Getar sebab ingin terlihat tegar. Sepucuk kertas itu diberikan padamu.

Tidak ada ucapan duka cita darimu. Tidak seperti tamu lain. Tidak pula ada ucapan doa darimu. Tidak sepatah katapun. Berlalu begitu saja setelah menerima sepucuk kertas itu. Duduk diantara banyak tamu, tapi terlihat sendiri. Diam. Dengan sepucuk kertas yang sama sekali tidak kau buka. Hanya tatapan lurus ke depan, tapi tidak terlihat menatap apapun.

Ada penyakit yang menemaniku tak lama sejak kau meninggalkan kota ini. Tak hanya menemani, ternyata ia pun menggerogoti. Sayangnya, tubuhku tidak cukup kuat untuk melawannya. Aku rasa tubuhku terlalu cepat menyerah. Untuk satu janji yang pernah aku ucap, aku ingin menepatinya. Satu-satunya janji yang pernah terikrar. Yang pernah terlontar. Tapi penyakitku tidak mengijinkan.  Seandainya, kau pulang lebih cepat. Barangkali aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku bisa menepati janjiku. Barangkali aku bisa pergi darimu tanpa harus menitipkan maaf pada ibu.

Aku tidak pandai berjanji, bukan? Satu-satunya janji yang kau minta, tidak juga aku lunasi. Sebab pada akhirnya, kau pulang setelah aku mengingkari janji. Setelah aku tidak bisa menanti. Kertas itu, tidak kunjung kau buka. Dan kau sama sekali tak berniat membukanya. Haruskah aku yang membacakan? Meski tak terdengar olehmu.

Maaf untuk tidak menanti. Terimakasih karena kembali.

Terlalu singkat sepucuk kertas itu untuk seorang yang telah mengingkari janji. Aku ingin menulis lebih banyak. Hanya saja, penyakitku menghilangkan beberapa persen fungsi tanganku. Pada dua kalimat itu saja, aku harus berdoa lebih banyak pada Tuhan agar bisa terbaca tulisanku olehmu.

Pada langkahmu, aku lekat. Pada setiap jejak kaki yang kau buat, aku mendampingi. Untuk tebusan sebuah janji yang aku ingkari.


Source: http://popcultureaddictlifeguide.blogspot.com

Thursday, February 27, 2014

Ada Yang Janggal Pada Hutan Kenanganmu

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Hampir tak ada gugur daun disini.
Kemana kau sembunyikan?
Atau memang kau larang pohon-pohon ini melepas sedikit beban mereka?
Agar tak terbaca kenanganmu oleh siapapun.
Termasuk kau.

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Kudengar pohon-pohon ingin berbicara padamu.
Tapi kau seolah tuli.
Kudengar daun-daun itu rindu jatuh, luruh pada tanah.
Rindu kau baca sebelum habis menyatu dengan bumi.
Tapi lagi-lagi kau seolah tak tahu.

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Pada kotak kaca tepat di tengah hutan.
Daun kenangan serupa kertas yang dirobek menjadi penghuninya.
Kelabu pekat melekat pada lembaran-lembaran daun itu.
Apa yang coba kau kurung?
Apa yang coba kau elak?

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Ketika aku merasa kenangan itu terlalu kuat untuk kau lepas.
Terlalu sakit untuk kau ingat.
Hingga mati-matian kau kurung dalam kotak kaca.
Agar tak terjamah oleh tangan namun tetap kau lihat.
Meski kau tolak.

Ara, tak ada yang salah dengan kelabu kenanganmu.
Sudah terlalu banyak kejanggalan disini.
Luruhkan saja.
Biar pohon melepas daun yang ingin jatuh untuk kau baca.
Kemudian hilang menjelma pupuk.
Biar pecah kotak kaca itu dan berhamburan kelabu milikmu.
Berhamburan dimakan angin.

Sebab, tak ada yang lebih bahagia.
Tak ada yang lebih bahagia dibanding menerima semua.

Wednesday, February 26, 2014

Sepucuk Surat Teruntuk Han

source: http://bhindthepen.com

Han, sungguh aku meminta maaf. Sebab surat ini akhirnya kutulis untukmu, meski belum kuputuskan akan memberikannya padamu atau tidak. Saat ini, aku hanya merasa aku harus mengalirkan semua. Harus. Kalau tidak, barangkali aku akan meledak serupa bom rakitan para teroris. Aku harus menuliskannya, meski entah akan kau baca, kusimpan, kukubur sampai kau menemukannya ketika rambut kita telah sama-sama memutih atau barangkali aku bakar seketika setelah selesai kutulis.

Jujur saja, aku masih berpikir bagaimana cara memulainya. Bagaimana cara menceritakan kisah yang aku pikir takkan pernah aku kisahkan, dulu. Terlebih padamu. Rajutan tinta ini, sungguh aku tidak tahu harus memulainya darimana. Sebab dulu, sempat aku berpikir akan menyimpan memori ini dalam absurdnya ingatan. Rahasia yang hanya dapat kubaca sendiri sampai otakku habis dimakan pikun. Tapi aku harus menuliskannya. Harus. Sebelum mati aku dihimpit sesak yang mendesak.

Han, kau sering kali bertanya doa apa yang aku kirimkan dengan pos kilat kepada Tuhan di setiap tahun tanggal kelahiranku. Kemudian, aku selalu mengatakan padamu bahwa doa itu rahasia orang yang berdoa dan Tuhan. Tidak boleh diberitahukan siapapun kalau ingin dikabulkan. Tetapi sampai saat ini, doaku belum dikabulkan, Han. Barangkali doaku sedang mengantri terhimpit dikerumunan doa-doa lain. Semoga doa itu tidak pingsan atau bahkan mati sebelum sampai ke pangkuan Tuhan. Maka, aku akan memberitahumu. Doaku. Yang setiap tahun selalu kau tanyakan. Aku akan mengatakan pada Tuhan bahwa ini akan menjadi rahasia Kita bertiga. Hanya bertiga. Aku, Tuhan, dan kau.

"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita ........................."

Selalu seperti itu setiap tahunnya. Selalu. Dalam 5 tahun terakhir. Sekarang kau tahu kan kenapa aku tidak pernah mau memberitahumu? Karena harusnya tidak perlu ada doa seperti itu. Seharusnya aku sudah cinta sejak tali pernikahan ini mengikat kita. Sejak janji sehidup semati menjadi kontrak tak terpatahkan. Atau bahkan seharusnya jauh sebelum itu.
 
Pernah dengan sukarela aku menjatuhkan rasa pada lelaki, sebelum dirimu. Aku menemukan benih diantara kami dan memutuskan untuk menanam benih itu dalam hati masing-masing tanpa tahu jenis dari benih tersebut. Kupikir barangkali itu benih mawar, lily atau mungkin justru benih pohon besar dan kuat. Dan kau tahu? Sialnya aku mengetahui apa jenis benih tersebut setelah menikah denganmu. Ilalang. Benih itu ilalang. Ilalang yang meski kurusak seperti apapun akan tetap bersikeras tumbuh. Yang meski kubiarkan tanpa air dan pupuk tetep mampu bertahan. Benih semacam itu, Han. Benih yang aku kutuk setiap hari. 

Benih itu pernah membuatku meminta pada Tuhan untuk mempertemukanku dengannya kembali, dan Tuhan mengiyakan permintaanku. Kau ingat, saat kita merayakan hari jadi pernikahan yang ke-3 bersama anak kita? Saat itu aku bertemu dengannya, Han. Ya. Lelaki yang menghampiri kita, berjabat tangan denganmu dan kusapa dengan gagu itu. Masih sangat kuingat bagaimana aku menahan lari jantung yang tiba-tiba menjadi hiperaktif. Masih kuingat senyum dipaksaan yang aku berikan sambil berdoa semoga kau tidak menyadarinya. Sejak saat itu aku tahu, aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Sebab benih itu masih terlalu kuat. Terlalu banyak. Dan aku belum menemukan cara untuk membasmi semuanya.

Kita akan baik-baik saja, Han. Aku akan membuatnya baik-baik saja. Percayalah, akan ada saatnya aku menemukan hati yang pernah kujatuhkan padanya. Dan aku janji, setelah aku menemukan hati itu seketika itu pula aku akan langsung memberikannya padamu. Aku akan menemukan benih kita. Benih untuk memenuhi lahan rasa yang kupunya agar tak ada tempat lagi bagi ilalang. Aku akan berdoa lebih keras lagi pada Tuhan.

"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita. Barangkali sama seperti aku mencintainya."

Seperti itu, berulang-ulang.

Monday, October 28, 2013

Lembaran Kuyup Di Tengah Bising Perdebatan

Semesta punya banyak kehidupan. Hanya saja, seringkali manusia lupa atau mungkin sengaja melupakan hingga bisa berlagak sebagai pemeran utama, sedang pada nyatanya semua manusia juga figuran. Sedang pada nyatanya, kehidupan mereka hanya satu dari sekian banyak tumpukan skenario yang sama-sama usang. Sama-sama lusuh. Tertimbun semesta.

Banyak yang lupa. Bahkan warna pun punya kehidupan, ketika merah dan biru tidak lagi menjadi pemeran utama tetapi harus rela menyatu, melebur demi menjadi violet. Menjadi figuran. Samar dari pandangan. Tak banyak yang ingat. Tak banyak.

Pada salah satu lembaran lusuh dari tumpukan skenario, terbaca perdebatan disana. Tentang lelaki dan perempuan. Lelaki dan perempuan yang sedang berebut tahta kesakitan. Bersikeras menjadi yang paling sakit diantara keduanya. Menganggap masing-masing dari mereka adalah tokoh utama yang sedih dan pedihnya layak dilihat.

"Akulah yang paling sakit. Aku yang dua kakinya harus menapak pada dua perahu berbeda karena tak bisa memilih. Aku!" Ucap lelaki itu.
"Lalu bagaimana denganku? Kau pikir menjadi bayang-bayang adalah impianku? Kau pikir enak menjadi seorang yang selalu berusaha tak terlihat? Pura-pura tak ada!" Wanita itu melawan.
"Aku tahu. Tapi paling tidak mengertilah posisiku barang sedikit."
"Mengerti posisimu yang bisa mengambil untung dari dua perahu? Posisi seperti itu yang kau sebut paling sakit, ketika posisimu justru yang paling bisa menyakiti?"  Tawa sinis tergambar pada wajah wanita itu.
"Bukan seperti itu! Aku bukannya tak mau memilih tapi tak mampu! Kau pikir aku tega menyakiti wanita yang selama ini justru menjadi salah satu orang yang menjagaku? Lalu, kau pikir aku bisa meninggalkanmu keika kau menjadi keinginan hati?!"

Bersikeras lelaki itu bertaruh bahwa ia yang paling sakit. Dia yang harus menjaga keseimbangan dirinya agar kedua perahu itu tidak oleng, terbalik. Agar dia juga tidak kuyup oleh air laut karena dua perahu tersebut memutuskan membuangnya. Berkali-kali pula lelaki itu menganggap ialah yang memiliki luka paling banyak, sebagai kompensasi melindungi dua wanita. Dia percaya, dia dikutuk Tuhan untuk memiliki memar yang banyak karena sempat terlalu tamak. Maka dia pun bersedia menjadi yang paling sakit. Maka dia pun tak pernah rela jika wanita itu menganggap dirinya paling sakit ketika dia merasa dia lah yang pantas sakit.  "Aku yang paling luka." Begitu ucapnya.

Tak lelah wanita itu berdebat bahwa ia yang paling banyak menangis sampai dia kekeringan. Sampai kemarau. Sampai miskin air. Karena dia lah yang harus menjelma menjadi hantu. Yang harus menjadi pengemis pinggiran jalan. Tak terlihat atau tak dilihat. Ia harus menjaga lelaki itu dan dirinya sendiri agar orang tak sinis melihat mereka. Lebih baik membuat orang tak menyadari kehadiran mereka dibanding harus dilirik sinis. Begitu pikirnya. Dia tahu, Tuhan sudah murka karena dia mengambil milik orang lain tanpa permisi. Dia pencuri. Maka dia pun percaya dia lah yang paling sakit. "Aku yang menangis sampai kering." Begitu katanya.

"Kau enak! Ketika kau memutuskan melepas salah satu, kau masih bisa berpegang pada satu yang lain! Sedang aku? Ketika kau memutuskan melepasku, aku bisa apa selain mengapung sendiri diatas kapal dan buta arah!" Wanita itu mengamuk.
"Menurutmu begitu? Menurutmu aku bisa dengan mudah melepas salah satu? Kalau mudah, sudah daridulu aku lakukan! Kau tidak pernah terpikir jika kalian melepasku, aku kuyup dimakan laut?!" Balas lelaki itu dengan nada tak kalah tinggi.

Satu lembaran pada tumpukan skenario itu terus berdebat. Berisik. Menggema. Tanpa mereka sadar, ada lembaran lain pada tumpukan itu. Tak hanya lusuh dan usang tapi juga basah. Hampir sobek. Ada wanita lain disana sedang menggenggam payung. Berusaha melindungi lembaran skenarionya agar tak basah dari hujan air matanya sendiri. Tapi gagal. Wanita yang sebenarnya telah lama menempati tahta kesakitan tanpa perlu berdebat. Sebab ia yang terkhianat tapi tetap mencoba percaya. Ia yang tahu tapi harus berpura bodoh. Ia yang rela tapi belum juga ikhlas. Ia yang berusaha bahagia tapi tak bisa berhenti menangis.

Barangkali, wanita ini tokoh utama dalam cerita. Tapi dilupakan oleh lelakinya sendiri dan dianggap figuran. Yang sedih dan pedihnya tidak perlu dilihat. Barangkali, dia wanita yang lembar skenarionya tak boleh sobek demi jalannya sebuah cerita.

Wanita ini menggenggam erat ujung payungnya. Agar tak sobek lembar skenario oleh air matanya. Agar bisa selesai sebuah cerita. Barangkali ujungnya adalah tawa dia dan lelakinya. Tanpa ada tokoh wanita lain. Barangkali.


gambar diambil dari: www.merdeka.com

Monday, September 30, 2013

AHSENA

Mereka bilang, duniaku ini riuh. Banyak celoteh lalu lalang di sekitar. Banyak kisah berhamburan di pinggir jalan. Bahkan katanya, rumah-rumah di sekitarku juga berbicara. Tak jarang ada yang mengeluh dengan ramainya duniaku. Namun ibu bilang, aku ini spesial. Menurut ibu, sejak dulu aku mempunyai gelembung. Gelembung dimana tak banyak orang bisa masuk ke dalamnya. Gelembung ini membuat aku harus menikmati hingar-bingar kesunyian. Mendengar sepi yang berteriak.

Seperti biasa, aku menjaga warung milik ibu. Sejak awal, sudah kubilang bukan kalau tak banyak orang bisa masuk ke dalam gelembungku? Maka, ibu sengaja selalu menyuruhku menjaga warung. "Tak apa nak kalau tak ada yang bisa berada dalam gelembungmu, tapi setidaknya biarkan orang mendekati. Dipinggiran saja tak apa." Begitu menurut ibu.

Begitulah. Warung kami memang satu-satunya di sekitar daerahku. Banyak orang mampir untuk membeli sesuatu. Ya, mampir. Kalaupun ada yang bertahan cukup lama di warung, itu karena bertemu ibu dan mengobrol. Bukan bertemu aku. Tak ada seorangpun yang pernah mengobrol denganku selain ibu. Kecuali kalau kalian menghitung "Berapa mbak?" atau "Warungnya lagi ramai ya mbak?" dengan mulut dibesar-besarkan sebagai obrolan.

Setiap malam aku punya singgasana tersendiri di depan warung. Kursi tua dari bambu yang bentuknya saja sudah tidak jelas. Malam memang mempunyai nikmatnya sendiri bukan? Sunyi dan damainya membuat banyak orang jatuh cinta dengan malam. Kujamin tak hanya aku yang mencintai malam. Kalian mungkin akan tertawa, aku, orang yang sudah ada dalam gelembung sunyi masih juga mencari kesunyian. Aku sendiri juga kurang mengerti alasannya. Hanya saja, setiap malam banyak percakapan di kepalaku. Banyak sekali. Mereka berkeliaran.

Tak lama, seorang laki-laki dengan pakaian kantor yang tidak lagi terlihat rapi datang dan menunjuk sebuah rokok. Dia salah satu pelanggan warung kami. Maka dengan sigap, aku mengambil rokok yang diminta dan mengambil uang yang diulurkannya. Begitu setiap hari. Laki-laki itu selalu datang, lebih sering membeli sebungkus rokok saja meski kadang ditambah dengan sebotol air mineral. Tapi kali ini, setelah mengulurkan uang, dia duduk di singgasanaku dan dengan bahasa isyarat dia meminta kertas dan pulpen. Dengan segera aku mengambil yang diminta.

-Boleh saya duduk disini dulu?- Begitu tulisnya dan hanya saya balas dengan anggukan.

Sejak hari itu, setiap hari laki-laki tersebut selalu membeli sebungkus rokok terkadang dengan sebotol air mineral dan duduk di kursi yang aku anggap singgasanaku. Diam saja dan hanya berbicara dengan rokoknya. Barangkali saat ini dia sudah mengubah kepemilikan dari singgasana itu. Karena jelas aku menjadi tersingkir. Namun, setelah beberapa saat duduk, dia kembali berdiri dan mengulurkan selembar kertas padaku yang berada di belakang meja kaca.

-Saya sedang butuh teman cerita. Keberatan kalau kamu menemani?-

Dia memberi isyarat memintaku duduk di sebelahnya dan akupun mengikuti. Sepertinya dia sudah mulai bercerita. Aku tak tahu tentang apa. Gelembungku membisukan segalanya. Tapi raut wajahnya menggambar sesuatu. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Sesuatu yang sedih. Entah apa itu. Begitupun hari-hari selanjutnya. Seperti kebiasaan baru, dia akan bercerita tentang entah apapun itu dan aku mencoba mendengar raut-raut wajahnya sembari menerka. Sedih, kesal, gembira, bahkan kosong. Ya. Raut wajah kosong yang sampai saat ini  tidak pernah aku mengerti artinya.

Oh iya, namanya Ahsena. Nama laki-laki itu. Dia menuliskannya sewaktu pertama kali dia memintaku menjadi teman bercerita. Ah-se-na. Kalian tahu? Diam-diam aku sering menyebut namanya. Terlebih saat dia bercerita. Membaca raut wajah dan menyebut namanya, kemudian membayangkan ketika aku menyebut namanya, pemilik wajah yang lebih sering menatap lurus ke depan tersebut akan membalikkan wajahnya padaku. Tepat setelah aku menyebut namanya. Ahsena. Tapi tentu saja kalian tahu, hal itu tak pernah terjadi. Sesering apapun aku memanggil namanya, sesering itu pula gelembungku membungkam segalanya. Ahsena hanya terus bercerita tentang hal yang tidak juga aku ketahui.

Hari ini, Ahsena datang dengan membawa sesuatu. Sesuatu berbentuk undangan. Dia mengulurkannya padaku kemudian berbicara dengan ibu yang kebetulan berada di sampingku. Raut wajahnya berbicara kebahagiaan namun raut wajah ibu mendung. Mendung yang terlihat dipaksa bahagia. Kau tahu? Seperti tangis langit yang tetap mencoba menghadirkan matahari. Seperti itu. Tak lama, Ahsena pamit dan ibu memandang undangan yang kupegang. Sesegera kubuka undangan itu dan tak berapa lama muncul nama Ahsena di atas nama seorang wanita. Aku limbung, gemetar hebat. Ibu memelukku. Punggung Ahsena masih terlihat di seberang sana. Menjauh. Air mataku berteriak.

Ibu, sekali saja bu! Sekali saja pecahkan gelembungku! Sekali saja. Biar aku memanggilnya. Memanggil namanya dan dia berbalik. Itu saja, bu. Itu saja.

Tubuhku memanggil. Air mataku berteriak. Raut wajahku menyebut. 

"Ahsena."

Tapi gelembungku jauh lebih tebal dari yang kukira. Ahsena. Laki-laki itu sama sekali tak pernah berbalik.


Memanggil nama itu menjelma menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang membiasakan diri untuk tidak didengar.

Sunday, September 22, 2013

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. 
Banyak.
Tetapi bibirku tersulam.
Tanganku mengejang.
Aksaraku kabur, berlarian ke segala arah.
Otakku sibuk mengumpulkan aksara, kemudian lupa mengingat.
Aku kaku.
Mati.

Monday, May 6, 2013

Seorang Miner Adalah Ksatria Diantara Banyak Pria

Apakah seorang miner berarti? Tak diragukan jawabnya adalah ya.
Lebih penting dan berarti dari pikiran kebanyakan orang.

Dia adalah ksatria diantara sekian banyak pria. Dia merupakan tulang punggung indusrti, seorang serdadu yang bertempur digaris depan setiap hari melawan musuh abadi umat manusia, rasa lapar, rasa sakit, dan rasa terabaikan.

Petani membajak lahan, dengan segala peralatan modern mereka, berawal dari tambang. Produk-produk yang dihasilkan seorang miner memberi makan dunia dengan harga yang bisa mereka jangkau.

Seorang miner ada dibelakang ruang operasi dokter. Semua metal yang membuat pisau bedah awalnya ada ditangan seorang miner. Mesin cetak bisa berputar karena miner telah menghasilkan bahannya dengan sekop dan pacul mereka. Surat kabar yang anda baca setiap hari, buku-buku panduan di universitas terlahir dari kegelapan disebuah penambangan.


Apakah seorang miner berarti? Tak diragukan jawabnya adalah ya.
Lebih penting dan berarti dari pikiran kebanyakan orang.

Miner seorang yang gagah berani. Dia pergi ketempat dimana sedikit orang yang berani kesana, dan dia melakukannya setiap hari. Dia menjalani hidup dalam bahaya, namun dia tak pernah mundur untuk menaklukkanya. Miner merasakan cucuran keringat dibahu mereka agar orang lain bisa hidup dalam kenyamanan. Tangan dan wajahnya bermandikan lumpur agar orang lain bisa hidup bersih.

Miner bekerja dimana sinar sang Surya tak pernah ada, dimana cahaya bintang tak pernah kelihatan, dengan tujuan menghasilkan cahaya yang bisa menerangi dunia. Metal yang diperlukan sebuah turbin raksasa dan kawat tipis yang menghasilkan cahaya pada sebuah bola lampu semua berawal dari tambang.

Dia adalah manusia biasa, namun dengan hati yang besar dan perasaan yang sangat mendalam, dia tidak malu untuk menangis pada saat tangisan diperlukan. Perasaan seorang penambang sedalam bahan galian yang dia cari. Saat memasuki “shaft” dia sadar sepenuhnya bahwa lelaki pemberani pendahulunya telah berkorban untuk membuat hal itu tercipta baginya.

Miner adalah pemuja sejati. Dia membangun rumah ibadah yang besar, monument dari satu keyakinan yang menjulang berabad-abad, bermula dari tambang batu dimana dia mengambil bebatuan untuk membangun fondasi dan dinding, agar orang lain bisa beribadah dengan khusyuk dalam ketenangan dan kedamaian.

Secara spiritual, miner hadir di tempat ibadah melebihi semua pendeta dan ulama. Pikirkanlah, siapa yang menciptakan plat perak dimana cawan suci diletakkan? Atau siapa yang mengambil dari perut bumi piala keselamatan dan penebusan yang terbuat dari emas?
Perhatian seorang miner adalah perhatian untuk sesama. Ingatlah hal itu lain kali anda mendengar bunyi dentang lonceng gereja atau bedhug masjid yang memberikan seruan kepada semua orang untuk datang dan berbagi dalam keyakinan.


Apakah seorang miner berarti? Tak diragukan jawabnya adalah ya.
Lebih penting dan berarti dari pikiran kebanyakan orang.

Negara-negara industri haus akan produk yang mereka hasilkan bagaikan seorang raksasa yang mencari di padang gurun. Tuntutan peradaban modern terus bertambah, bertambah dan bertambah.

Miner menjawab semua itu dan tak kan pernah mengecewakan kaumnya akan panggilan tugas mulia ini. Dengan kekuatan dan ketabahan sebagaimana layaknya bijih yang dia ambil dari perut bumi, miner memimpin dunia menuju masa depan.

Ditulis oleh: Herry Siswanto
Kota          : Tembagapura

Tulisan di atas adalah karya dari penambang yang Alhamdulillah ditakdirkan jadi orangtua saya. Tulisan ini dibuat dalam rangka "farewell party" setelah 24 tahun menjadi penambang yang lebih sering memotong-motong detik waktu di bawah tanah dibandingkan di atas tanah. Lebih sering pulang dengan lumpur di tubuh daripada rapi dan bersih selayaknya manusia pada umumnya. Begitulah.