Pages

Saturday, January 2, 2016

Yang Tidak Bersedia Beranjak

Pada tiap-tiap kepergian, akan selalu ada kekosongan yang ditinggalkan. Celah-celah yang sempat terisi tidak serta merta tertutup seketika setelah ditinggalkan pemiliknya. Pada tiap-tiap kepergian, akan selalu ada alat pemutar waktu otomatis di dalam kepala pemilik kenangan yang kadang dengan sedikit memaksa menyeretnya untuk tenggelam dalam kolam memori. Aku tahu itu. Kau tahu itu. Tidak pernah ada yang mudah untuk menghadapi kepergian. Tidak pernah.

Ada hukum alam dalam satu hubungan. Bahwa pihak yang lebih kuat yang akan meninggalkan terlebih dahulu. Bahwa pihak yang lebih lemah harus rela menunggu waktu datang untuk menghapus lukisan-lukisan peninggalan yang tertempel disegala sisi dinding ruang. Begitu katanya. Atau justru harus benar ikhlas jika lukisan-lukisan itu tidak bersedia dihapus dan memaksa menjadi dekorasi ruangan yang tidak diinginkan.

"Bukan aku seharusnya yang bersikeras berdiri di sisimu. Aku tidak punya hak menghalangimu bergerak dari hidupmu saat ini. Kita harus saling melepaskan. Saling meninggalkan. Sebelum melukai satu sama lain." Begitu keputusanmu. Keputusan sepihak yang semena-mena, menurutku.  
 
Langkah kaki kepergianmu menggema di ujung jalan setapak. Langkah kaki kepergianmu aku hitung dalam hati sampai lelah. Langkah kaki kepergianmu meninggalkan jejak yang kemudian hilang dihembus angin. Sedang aku mengecil di ujung jalan lainnya, berusaha bertahan dari langkah kakimu yang menjauh namun perlahan menusuk hati. Semakin jauh semakin menusuk tajam.

Ditinggalkan adalah perkara menguatkan diri dari semua benda disekitarku yang membicarakanmu. Ditinggalkan adalah perkara menjadi tuli untuk setiap berita tentangmu. Atau ditinggalkan adalah perkara melenyapkan semua jejak tentangmu. Tapi aku bisa apa? Aku bisa apa ketika ruang kosong yang tercipta setelah aku melenyapkan segalanya tetap saja berbicara tentangmu?! Ketika pigura-pigura yang kupecahkan tetap berteriak namamu.

"Pergilah. Kamu layak mendapatkan cinta yang baru." Bisikmu terakhir kali. Seperti sudah terlalu lelah berkata-kata.

Kakiku tidak bersedia beranjak kemanapun. Tidak bersedia dilangkahkan kemanapun meski bersikeras kau dorong pergi.

Aku percaya, hati memilih caranya sendiri untuk bertahan hidup. Untuk baik-baik saja. Memintaku menunggumu adalah salah satu cara untuk membuat hati bertahan hidup. Memintaku menggantungkan harap bahwa kau akan kembali adalah cara hati menjadi baik-baik saja.

Sebab itu, dititik ini aku menunggumu. Ditemani waktu yang terombang-ambing ketidakpastian.

Thursday, November 5, 2015

Pramadhani Reihan Tuasikal

Selamat malam, gadis tangguh.

Aku bertanya-tanya, keadaan seperti apa yang akan membuatku kembali pada blog yang mungkin sudah berganti penghuni menjadi laba-laba. Atau bahkan tarantula. Ternyata keadaan seperti ini. Saat ini. Pada hari disaat dering telepon dini hari menjadi momok yang menakutkan. Yang ingin tidak aku acuhkan tapi tetap tidak bisa ditolak. Hari disaat namamu berhamburan dimana-mana. Segala doa dikirimkan dengan berbagai macam cara yang kilat. Manusia sosial media menjelma kamu. Semua. Kemudian, memori terbaik tentangmu dipanggil kembali oleh para pemiliknya. Memori yang barangkali sudah banyak terkubur dibalik kertas-kertas lusuh kehidupan. Ah. Jadi begini rasanya diingatkan tentang kamu.

Bona, aku banyak melakukan kesalahan. Hari ini. Sungguh. Jadi aku rasa sudah seharusnya aku meminta maaf terlebih dulu. Jurus-jurus tangguhku yang kamu agung-agungkan itu tidak berlaku hari ini. Mereka lari. Pergi. Tanpa ijin. Jurus yang selalu tenang atau paling tidak terlihat tenang itu hilang. Terbang. Jurus selalu baik-baik saja atau paling tidak terlihat baik-baik sajapun tiba-tiba sembunyi. Mungkin mereka sibuk mengantar dan menjagamu supaya kamu tetap baik-baik saja. Semoga saja begitu.
Maaf ternyata aku tidak setangguh ekspektasimu. 

Ah. Sudahlah. Surat ini seharusnya membuatmu bahagia saat membacanya, bukan? Sama seperti aku yang dulu bahagia membaca suratmu. Jadi, terimakasih Bona sudah menjadi adik tangguh yang tidak merepotkan kakak-kakakmu yang memang ratu repot ini. Terimakasih sudah menjadi adik kuat yang bahkan melepasmu pergi ke kota yang kejam itu tidak membuat kami khawatir. Karena kami tahu, kamu jauh lebih kuat untuk melawan kota kejam itu. Terimakasih sudah membuat kami selalu merasa kamu baik-baik saja bahkan disaat kamu harus berjuang untuk tetap baik-baik saja pada sakit yang tidak kenal ampun itu. Meski sebenarnya aku lebih senang mendengar kamu merengek sejadi-jadinya.

Maaf tidak sempat membiarkan kamarku diacak-acak olehmu dan tidak sempat menyanyi lagu-lagu pilihan idiot dengan tampang polos. Maaf tidak sempat membawamu keliling jogja setelah kamu sembuh.  Tapi malam ini, aku keliling Jogja. Sekedar untuk merasa utangku terlunasi. Semoga kamu tahu. Baik-baik di "rumah" ya. Bermainlah. Bersenang-senanglah. Sebab Allah SWT sangat dekat denganmu. Amin. Sekali lagi, terimakasih karena membiarkan memoriku hanya mengingat kamu yang sehat. Kamu yang bahagia. Kamu yang tangguh. 

Di waktu lain nanti, kalau kita diijinkan bertemu kembali semoga akan ada lebih banyak waktu bersama. Lebih banyak cerita yang dikisahkan. Lebih banyak teori yang diperdebatkan. Lebih banyak hal idiot menyenangkan yang dilakukan.
Jogja hujan, sayang. Semoga suratku tidak luntur sebelum sampai padamu. Atau sobek sebelum terbaca olehmu. 

"Tangguh itu bersikeras kamu genggam dalam perjalananmu pulang. Sampai akhir."



Pramadhani Reihan Tuasikal
18 Februari 1992 - 04 November 2015

Tuesday, June 16, 2015

Izinkan Kami

Pada masanya,
Izinkan pertemuan kami bermuara pada laut lepas pernikahan.
Izinkan kami menjadi akhir bagi jalan setapak satu sama lain.
Izinkan kami menjadi alasan tawa hadir bagi satu sama lain pada coretan kuas perjalanan.
Izinkan tangan kami bertaut menjadi pengobat segala sakit.
Izinkan kami berkisah bersama sampai waktu yang tak bisa kami hitung lamanya.

Pada Lauh Mahfudz-Mu,
Izinkan nama kami bersanding sampai lembar terakhir di dalamnya.
Sampai gugur daun usia dari pohon kehidupan.

Sunday, June 8, 2014

Seutas Janji Yang Terpenuhi dan Yang Teringkari

Janji.

Satu kata tersebut kumasukkan dalam kategori kata yang kubenci. Kata sederhana itu mampu menyulapmu serupa orang penuh hutang dengan debt collector yang akan mengejarmu dengan setia, lebih setia daripada kekasihmu. Atau mengubahmu seperti terdakwa pengadilan yang berhak dituntut jika tidak terpenuhi janjimu. Lebih parah lagi, ketika kata tersebut ternyata membuatmu menjadi seorang pengharap tidak rasional yang entah sengaja ataupun tidak mengikat kaki pada janji itu sendiri. Tak bersedia pergi kemanapun. Irasional. Bahkan justru mampu membuatmu menjadi seorang pemberi harapan yang menggantung orang lain hanya dengan seutas benang tipis. Sekali lalai, orang lain terluka.

Janji adalah kata yang sederhana. Terlalu sederhana. Hingga tak sadar kita akan dampaknya. Hingga segala kehati-hatian dikesampingkan. Sebab terlalu mudah dia diucap. Maka, aku membencinya. Sengaja kupenjarakan kata tersebut pada kerongkongan paling dalam. Aku kunci yang kuncinya sengaja ku buang ke sembarang sudut. Ah. Tapi aku tak tahu, mantra apa yang kamu gunakan sampai aku terhipnotis. Aku tak tahu, cara seperti apa yang kamu lakukan untuk menemukan kunci itu dan memberikannya padaku.

"Aku akan pergi." Katanya.
"Sampai kapan?" Begitu responku. Sejujurnya aku membenci responku sendiri. Untuk apa menanyakan sampai kapan?! Toh intinya kau akan pergi juga.
"Belum tahu. Belum bisa dipastikan. Tapi, bisa aku minta satu hal?" Ragu-ragu kau lontarkan pertanyaan itu. Ragu pula aku untuk mengangguk.
"Tunggu aku. Berjanjilah."
"Kamu tahu sendiri, aku tak pernah berjanji."

Ah! Permintaan itu sungguh keterlaluan. Kau meminta kata yang aku kurung dan kubenci -sejak aku paham atas konsekuensi dari kata itu- untuk muncul ke permukaan percakapan kita. Lalu, janji macam apa itu? Ketika aku bahkan tak tahu akan sampai kapan. Ketika kau sendiri tidak bisa memberikan garansi apapun untuk kembali. Ini ide gila!

"Kau tahu alasan aku tak pernah mau berjanji atas apapun? Karena masing pihak akan merasa terbebani. Karena masing pihak akan saling mengharap. Karena masing pihak bisa saja saling melukai. Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Sama sekali tidak mudah." Ucapku memberi alasan.

Ada jeda diam disini. Lama. Lama, sampai dingin menyergap sebab kita berdua, namun sendiri. Dalam pikiran masing-masing.

Kemudian akhirnya kau memecah keheningan.

"Yang aku tahu, dengan janjimu aku punya alasan untuk kembali pulang. Sebab aku butuh alasan untuk pulang. Sebab aku butuh pulang. Untuk alasan itu, tak bisakah kamu membuat sedikit perkecualian? Sekali sepanjang usiamu. Sekali."

Aku kalah. Seutas janji terikrar. Kau janji akan kembali, aku janji untuk menanti.

***

Sudah dua tahun lebih sejak kepergianmu. Hari ini, banyak sekali orang disini. Banyak sekali. Di rumahku. Sebagian besar memakai baju hitam. Sebagian lagi, bernuansa gelap. Hanya sedikit yang menggunakan warna sedikit cerah. Doa dan ucapan duka cita bergantian diucapkan oleh para tamu. Ayat-ayat Tuhan dibacakan sejak pagi tadi. Ada air muka sendu yang berusaha ditegarkan. Ada juga air mata yang pasrah dijatuhkan. Ada kata maaf yang diucapkan dari pihak keluargaku kepada tamu yang datang. Banyak sekali. Maaf yang diatasnamakan aku. Meski aku sendiri tidak ingat kapan aku pernah menitipkan maaf-maaf itu untuk disampaikan oleh keluargaku.

Dari sekumpulan orang yang ada disini, aku menangkap sosokmu. Meski jauh, aku bisa memastikan itu kau. Hanya saja, air mukamu tidak bisa kupastikan. Tidak jelas. Raut itu, entah apa maksudnya. Tatapan kosong tapi berisi. Tahu tujuan tapi hilang arah. Aku gagal menerka.

Perlahan langkahmu mendekat. Pada keluargaku. Pada petiku.

"Disa minta maaf. Untuk janji yang tidak sempat ditepati. Dia menitipkan ini." Susah payah ibu mengucapkan kalimat singkat itu padamu. Ada getar disana. Getar sebab ingin terlihat tegar. Sepucuk kertas itu diberikan padamu.

Tidak ada ucapan duka cita darimu. Tidak seperti tamu lain. Tidak pula ada ucapan doa darimu. Tidak sepatah katapun. Berlalu begitu saja setelah menerima sepucuk kertas itu. Duduk diantara banyak tamu, tapi terlihat sendiri. Diam. Dengan sepucuk kertas yang sama sekali tidak kau buka. Hanya tatapan lurus ke depan, tapi tidak terlihat menatap apapun.

Ada penyakit yang menemaniku tak lama sejak kau meninggalkan kota ini. Tak hanya menemani, ternyata ia pun menggerogoti. Sayangnya, tubuhku tidak cukup kuat untuk melawannya. Aku rasa tubuhku terlalu cepat menyerah. Untuk satu janji yang pernah aku ucap, aku ingin menepatinya. Satu-satunya janji yang pernah terikrar. Yang pernah terlontar. Tapi penyakitku tidak mengijinkan.  Seandainya, kau pulang lebih cepat. Barangkali aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku bisa menepati janjiku. Barangkali aku bisa pergi darimu tanpa harus menitipkan maaf pada ibu.

Aku tidak pandai berjanji, bukan? Satu-satunya janji yang kau minta, tidak juga aku lunasi. Sebab pada akhirnya, kau pulang setelah aku mengingkari janji. Setelah aku tidak bisa menanti. Kertas itu, tidak kunjung kau buka. Dan kau sama sekali tak berniat membukanya. Haruskah aku yang membacakan? Meski tak terdengar olehmu.

Maaf untuk tidak menanti. Terimakasih karena kembali.

Terlalu singkat sepucuk kertas itu untuk seorang yang telah mengingkari janji. Aku ingin menulis lebih banyak. Hanya saja, penyakitku menghilangkan beberapa persen fungsi tanganku. Pada dua kalimat itu saja, aku harus berdoa lebih banyak pada Tuhan agar bisa terbaca tulisanku olehmu.

Pada langkahmu, aku lekat. Pada setiap jejak kaki yang kau buat, aku mendampingi. Untuk tebusan sebuah janji yang aku ingkari.


Source: http://popcultureaddictlifeguide.blogspot.com

Thursday, February 27, 2014

Ada Yang Janggal Pada Hutan Kenanganmu

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Hampir tak ada gugur daun disini.
Kemana kau sembunyikan?
Atau memang kau larang pohon-pohon ini melepas sedikit beban mereka?
Agar tak terbaca kenanganmu oleh siapapun.
Termasuk kau.

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Kudengar pohon-pohon ingin berbicara padamu.
Tapi kau seolah tuli.
Kudengar daun-daun itu rindu jatuh, luruh pada tanah.
Rindu kau baca sebelum habis menyatu dengan bumi.
Tapi lagi-lagi kau seolah tak tahu.

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Pada kotak kaca tepat di tengah hutan.
Daun kenangan serupa kertas yang dirobek menjadi penghuninya.
Kelabu pekat melekat pada lembaran-lembaran daun itu.
Apa yang coba kau kurung?
Apa yang coba kau elak?

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Ketika aku merasa kenangan itu terlalu kuat untuk kau lepas.
Terlalu sakit untuk kau ingat.
Hingga mati-matian kau kurung dalam kotak kaca.
Agar tak terjamah oleh tangan namun tetap kau lihat.
Meski kau tolak.

Ara, tak ada yang salah dengan kelabu kenanganmu.
Sudah terlalu banyak kejanggalan disini.
Luruhkan saja.
Biar pohon melepas daun yang ingin jatuh untuk kau baca.
Kemudian hilang menjelma pupuk.
Biar pecah kotak kaca itu dan berhamburan kelabu milikmu.
Berhamburan dimakan angin.

Sebab, tak ada yang lebih bahagia.
Tak ada yang lebih bahagia dibanding menerima semua.

Wednesday, February 26, 2014

Sepucuk Surat Teruntuk Han

source: http://bhindthepen.com

Han, sungguh aku meminta maaf. Sebab surat ini akhirnya kutulis untukmu, meski belum kuputuskan akan memberikannya padamu atau tidak. Saat ini, aku hanya merasa aku harus mengalirkan semua. Harus. Kalau tidak, barangkali aku akan meledak serupa bom rakitan para teroris. Aku harus menuliskannya, meski entah akan kau baca, kusimpan, kukubur sampai kau menemukannya ketika rambut kita telah sama-sama memutih atau barangkali aku bakar seketika setelah selesai kutulis.

Jujur saja, aku masih berpikir bagaimana cara memulainya. Bagaimana cara menceritakan kisah yang aku pikir takkan pernah aku kisahkan, dulu. Terlebih padamu. Rajutan tinta ini, sungguh aku tidak tahu harus memulainya darimana. Sebab dulu, sempat aku berpikir akan menyimpan memori ini dalam absurdnya ingatan. Rahasia yang hanya dapat kubaca sendiri sampai otakku habis dimakan pikun. Tapi aku harus menuliskannya. Harus. Sebelum mati aku dihimpit sesak yang mendesak.

Han, kau sering kali bertanya doa apa yang aku kirimkan dengan pos kilat kepada Tuhan di setiap tahun tanggal kelahiranku. Kemudian, aku selalu mengatakan padamu bahwa doa itu rahasia orang yang berdoa dan Tuhan. Tidak boleh diberitahukan siapapun kalau ingin dikabulkan. Tetapi sampai saat ini, doaku belum dikabulkan, Han. Barangkali doaku sedang mengantri terhimpit dikerumunan doa-doa lain. Semoga doa itu tidak pingsan atau bahkan mati sebelum sampai ke pangkuan Tuhan. Maka, aku akan memberitahumu. Doaku. Yang setiap tahun selalu kau tanyakan. Aku akan mengatakan pada Tuhan bahwa ini akan menjadi rahasia Kita bertiga. Hanya bertiga. Aku, Tuhan, dan kau.

"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita ........................."

Selalu seperti itu setiap tahunnya. Selalu. Dalam 5 tahun terakhir. Sekarang kau tahu kan kenapa aku tidak pernah mau memberitahumu? Karena harusnya tidak perlu ada doa seperti itu. Seharusnya aku sudah cinta sejak tali pernikahan ini mengikat kita. Sejak janji sehidup semati menjadi kontrak tak terpatahkan. Atau bahkan seharusnya jauh sebelum itu.
 
Pernah dengan sukarela aku menjatuhkan rasa pada lelaki, sebelum dirimu. Aku menemukan benih diantara kami dan memutuskan untuk menanam benih itu dalam hati masing-masing tanpa tahu jenis dari benih tersebut. Kupikir barangkali itu benih mawar, lily atau mungkin justru benih pohon besar dan kuat. Dan kau tahu? Sialnya aku mengetahui apa jenis benih tersebut setelah menikah denganmu. Ilalang. Benih itu ilalang. Ilalang yang meski kurusak seperti apapun akan tetap bersikeras tumbuh. Yang meski kubiarkan tanpa air dan pupuk tetep mampu bertahan. Benih semacam itu, Han. Benih yang aku kutuk setiap hari. 

Benih itu pernah membuatku meminta pada Tuhan untuk mempertemukanku dengannya kembali, dan Tuhan mengiyakan permintaanku. Kau ingat, saat kita merayakan hari jadi pernikahan yang ke-3 bersama anak kita? Saat itu aku bertemu dengannya, Han. Ya. Lelaki yang menghampiri kita, berjabat tangan denganmu dan kusapa dengan gagu itu. Masih sangat kuingat bagaimana aku menahan lari jantung yang tiba-tiba menjadi hiperaktif. Masih kuingat senyum dipaksaan yang aku berikan sambil berdoa semoga kau tidak menyadarinya. Sejak saat itu aku tahu, aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Sebab benih itu masih terlalu kuat. Terlalu banyak. Dan aku belum menemukan cara untuk membasmi semuanya.

Kita akan baik-baik saja, Han. Aku akan membuatnya baik-baik saja. Percayalah, akan ada saatnya aku menemukan hati yang pernah kujatuhkan padanya. Dan aku janji, setelah aku menemukan hati itu seketika itu pula aku akan langsung memberikannya padamu. Aku akan menemukan benih kita. Benih untuk memenuhi lahan rasa yang kupunya agar tak ada tempat lagi bagi ilalang. Aku akan berdoa lebih keras lagi pada Tuhan.

"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita. Barangkali sama seperti aku mencintainya."

Seperti itu, berulang-ulang.

Monday, October 28, 2013

Lembaran Kuyup Di Tengah Bising Perdebatan

Semesta punya banyak kehidupan. Hanya saja, seringkali manusia lupa atau mungkin sengaja melupakan hingga bisa berlagak sebagai pemeran utama, sedang pada nyatanya semua manusia juga figuran. Sedang pada nyatanya, kehidupan mereka hanya satu dari sekian banyak tumpukan skenario yang sama-sama usang. Sama-sama lusuh. Tertimbun semesta.

Banyak yang lupa. Bahkan warna pun punya kehidupan, ketika merah dan biru tidak lagi menjadi pemeran utama tetapi harus rela menyatu, melebur demi menjadi violet. Menjadi figuran. Samar dari pandangan. Tak banyak yang ingat. Tak banyak.

Pada salah satu lembaran lusuh dari tumpukan skenario, terbaca perdebatan disana. Tentang lelaki dan perempuan. Lelaki dan perempuan yang sedang berebut tahta kesakitan. Bersikeras menjadi yang paling sakit diantara keduanya. Menganggap masing-masing dari mereka adalah tokoh utama yang sedih dan pedihnya layak dilihat.

"Akulah yang paling sakit. Aku yang dua kakinya harus menapak pada dua perahu berbeda karena tak bisa memilih. Aku!" Ucap lelaki itu.
"Lalu bagaimana denganku? Kau pikir menjadi bayang-bayang adalah impianku? Kau pikir enak menjadi seorang yang selalu berusaha tak terlihat? Pura-pura tak ada!" Wanita itu melawan.
"Aku tahu. Tapi paling tidak mengertilah posisiku barang sedikit."
"Mengerti posisimu yang bisa mengambil untung dari dua perahu? Posisi seperti itu yang kau sebut paling sakit, ketika posisimu justru yang paling bisa menyakiti?"  Tawa sinis tergambar pada wajah wanita itu.
"Bukan seperti itu! Aku bukannya tak mau memilih tapi tak mampu! Kau pikir aku tega menyakiti wanita yang selama ini justru menjadi salah satu orang yang menjagaku? Lalu, kau pikir aku bisa meninggalkanmu keika kau menjadi keinginan hati?!"

Bersikeras lelaki itu bertaruh bahwa ia yang paling sakit. Dia yang harus menjaga keseimbangan dirinya agar kedua perahu itu tidak oleng, terbalik. Agar dia juga tidak kuyup oleh air laut karena dua perahu tersebut memutuskan membuangnya. Berkali-kali pula lelaki itu menganggap ialah yang memiliki luka paling banyak, sebagai kompensasi melindungi dua wanita. Dia percaya, dia dikutuk Tuhan untuk memiliki memar yang banyak karena sempat terlalu tamak. Maka dia pun bersedia menjadi yang paling sakit. Maka dia pun tak pernah rela jika wanita itu menganggap dirinya paling sakit ketika dia merasa dia lah yang pantas sakit.  "Aku yang paling luka." Begitu ucapnya.

Tak lelah wanita itu berdebat bahwa ia yang paling banyak menangis sampai dia kekeringan. Sampai kemarau. Sampai miskin air. Karena dia lah yang harus menjelma menjadi hantu. Yang harus menjadi pengemis pinggiran jalan. Tak terlihat atau tak dilihat. Ia harus menjaga lelaki itu dan dirinya sendiri agar orang tak sinis melihat mereka. Lebih baik membuat orang tak menyadari kehadiran mereka dibanding harus dilirik sinis. Begitu pikirnya. Dia tahu, Tuhan sudah murka karena dia mengambil milik orang lain tanpa permisi. Dia pencuri. Maka dia pun percaya dia lah yang paling sakit. "Aku yang menangis sampai kering." Begitu katanya.

"Kau enak! Ketika kau memutuskan melepas salah satu, kau masih bisa berpegang pada satu yang lain! Sedang aku? Ketika kau memutuskan melepasku, aku bisa apa selain mengapung sendiri diatas kapal dan buta arah!" Wanita itu mengamuk.
"Menurutmu begitu? Menurutmu aku bisa dengan mudah melepas salah satu? Kalau mudah, sudah daridulu aku lakukan! Kau tidak pernah terpikir jika kalian melepasku, aku kuyup dimakan laut?!" Balas lelaki itu dengan nada tak kalah tinggi.

Satu lembaran pada tumpukan skenario itu terus berdebat. Berisik. Menggema. Tanpa mereka sadar, ada lembaran lain pada tumpukan itu. Tak hanya lusuh dan usang tapi juga basah. Hampir sobek. Ada wanita lain disana sedang menggenggam payung. Berusaha melindungi lembaran skenarionya agar tak basah dari hujan air matanya sendiri. Tapi gagal. Wanita yang sebenarnya telah lama menempati tahta kesakitan tanpa perlu berdebat. Sebab ia yang terkhianat tapi tetap mencoba percaya. Ia yang tahu tapi harus berpura bodoh. Ia yang rela tapi belum juga ikhlas. Ia yang berusaha bahagia tapi tak bisa berhenti menangis.

Barangkali, wanita ini tokoh utama dalam cerita. Tapi dilupakan oleh lelakinya sendiri dan dianggap figuran. Yang sedih dan pedihnya tidak perlu dilihat. Barangkali, dia wanita yang lembar skenarionya tak boleh sobek demi jalannya sebuah cerita.

Wanita ini menggenggam erat ujung payungnya. Agar tak sobek lembar skenario oleh air matanya. Agar bisa selesai sebuah cerita. Barangkali ujungnya adalah tawa dia dan lelakinya. Tanpa ada tokoh wanita lain. Barangkali.


gambar diambil dari: www.merdeka.com