Pages

Wednesday, January 2, 2013

Rel Pertemuan Semu

Reska

Kamu. Masihkah rela menengadahkan kepala pada langit malam untuk melihat sebaran cahaya kecil diantara gelap pekatnya? Bagaimana dengan malam nanti? Kurasa malam nanti, langit tak mampu menyajikan apa-apa kehadapan mu. Kecuali ribuan percikan cahaya warna warni yang memang dijanjikan menyala disaat yang sama. Barangkali bintang mu sembunyi di balik kabut asap hasil dari setiap pecikan itu. Masihkah kamu akan bersedia duduk lama pada loteng yang selalu memelukmu tiap malam, malam ini?

Hari ini, penghuni dunia akan ada dalam euforia yang sama. Aneh memang. Hanya untuk mengganti kalender lama yang sudah mulai lusuh di pojok rumah saja, mereka rela untuk repot-repot membuat rencana. Menukar pundi-pundi uang dengan terompet atau petasan yang tiba-tiba menjamur menjadi aksesoris pinggir jalan yang dijual.

"Kamu selalu saja sinis tentang semua hal yang menjadi euforia bagi semua orang." Komentarmu.
"Bukan sinis. Aku hanya heran dengan sikap orang yang latah." Aku membela diri.
"Biarkan saja. Toh, mereka senang dengan kelatahan mereka. Sama dengan kamu yang senang dengan arah berlawanan-mu."
"Bukan berlawanan arah, hanya saja merasa tak perlu untuk menghebohkan segala hal dengan berlebihan."
"Sudahlah. Kamu memang selalu seperti itu." Kamu menyudahi perdebatan.

Kamu mungkin tahu aku membenci tanggal ini. Selalu. Kamu mungkin tahu sejak fajar tadi aku sudah memaki matahari karena tak bersedia meloncatkan diri. Sehingga tetangga depan rumah pun sudah memulai meniupkan terompet yang menurutku miskin nada itu. Yang kamu tidak tahu, aku lebih membenci tanggal ini di tahun ini. Sebab atap langit kita berbeda. Sebab dinding kita adalah puluhan kota. Sebab memoriku merekam kepergianmu pada tanggal ini, di tahun lalu. Sebab sejak itu, kamu tak ada. Menghilang. Aku benci karena banyak sebab.

"Lo yakin mau nyamperin dia?" Tanya temanku. Dan hanya kubalas dengan menunjukkan karcis kereta yang menempel pada tangan kananku. "Bukannya lo bakalan tambah BT disana? Itu bukan tipe kota yang bakalan lo suka." Lanjutnya.
"Gue disana cuma semalem. Pagi gue balik. Jadi, gue nggak harus suka sama tu kota buat sampe disana nanti malem." Jawabku.
"Kalo lo kesana, lo harus janji datengin dia. Nyatain apa yang selama ini cuma lo biarin hidup di hati lo. Ini udah setaun, kalo lo nggak bisa juga, gue ragu lo laki-laki atau bukan." Ucapnya sambil menyelipkan kertas dengan dua baris tulisan. Suatu alamat.

Matahari mulai meredam sinarnya. Keretaku sore ini. Menurut jadwal, aku akan sampai di kotamu pukul 23.32 WIB. Kereta musim tahun baru. Mungkin seharusnya aku menamakannya seperti itu. Beberapa anak kecil meniup terompetnya disusul dengan omelan dari orangtua mereka. Di depan pintu kereta beberapa pedagang tidak lagi berteriak berbagai merek minuman atau makanan tetapi berganti dengan meneriakkan perlengkapan tahun baru. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang.

15 menit sebelum terompet-terompet ditiupkan dengan brutal dan tanpa peraturan. 15 menit sebelum percikan cahaya warna-warni mengganti posisi bintang. 15 menit sebelum teriakan-teriakan sedikit buta nada menguadara. Aku sampai pada stasiun kotamu. Dengan secarik kertas berisi dua baris tulisan di kantong celana jeans. Aku keluar menelantarkan diri dipinggiran jalan dekat stasiun yang merupakan pusat kota ini dan disulap menjadi lautan manusia. Benar saja, beberapa menit kemudian terompet, kembang api, petasan dan segala hal bermusim tahun baru mengkolaborasikan diri menjadi kolaborasi abstrak dan dimainkan dengan tidak manusiawi. Di tengah malam.

Pandanganku terpaku, melihat ribuan percikan cahaya dilemparkan pada langit. Adakah kita melihat percikan yang sama? Carik kertas itu masih setia kubiarkan tertidur dalam saku celanaku. Barangkali hanya ini yang aku inginkan. Merasa bahwa kita satu langit. Dinding antar kita menipis. Bahwa aku dan kamu memiliki probabilitas untuk memandang cahaya yang sama. Aku tak butuh dua baris dalam saku ini. Begini saja sudah cukup. 

Pukul 02.00, lautan manusia menyurut. Malam mulai kembali normal selayaknya malam yang seharusnya. Aku kembali ke dalam stasiun. Menunggu kereta kepulanganku. Pukul 07.00 pagi nanti.

Di kotamu, aku akan menulis....
Aku cinta.

Gea

Hari ini akan menjadi hari yang panjang untukmu, bukan? Euforia yang dinikmati dan dinanti banyak manusia di muka bumi ini adalah satu hal yang tidak pernah kamu nikmati. Satu hal yang seringkali kamu maki. Ah, aku masih mengingat bagaimana setiap tanggal ini aku harus mendengar rentetan panjang kicauanmu.

Euforia ini tidak membuatku membenci prgantian kalender. Meskipun setiap malam ini, langit yang tak pernah absen aku pandangi harus terkontaminasi sebaran cahaya warna-warni yang dilemparkan banyak orang. Tidak, aku tidak pernah membenci euforia ini. Pun tidak juga menyukainya. Setidaknya aku merasa tidak perlu menambah-nambahkan makianmu.

"Kamu mau kesana?" Tanya sahabat yang menemaniku sejak di kota ini.
Aku mengangguk yakin. "Udah pesen tiket dari kemarin-kemarin. Besok pagi langsung balik kok. Nggak bolos kantor."
"Terus mau ngapain kalau cuma langsung balik? Gunanya apaan?"
"Nggak tahu. Rasanya hanya ingin ada di kota itu saja." Sampai saat ini akupun tidak tahu apa tujuanku untuk datang ke kota itu dimalam nanti. "Dia benci euforia macam ini. Aku rasa aku harus disana untuk sekedar merasa mendengarkan rentetan kicauan makian darinya."
Disini, langit warna warni. Apa kamu melihatnya? Terompet yang kamu bilang miskin nada itu berbunyi berkali-kali. Apa kamu mendengarnya? Mungkin tidak, karena kamu jelas-jelas mencintai keberlawanan arahmu. Pukul 23.00 tadi, aku sampai di kota kita. Sedikit berharap kita berbagi pemandangan yang sama. Di kota yang sama. Stasiun ini musim tahun baru. Sekali saja, tenggelamlah bersama euforia ini. Agar aku merasa kamu ada. Disampingku. Sebab aku tak tahu alasan aku membunuh beratus-ratus kilo untuk berada di kota kita dengan pakaian kantor yang masih lengkap, selain sekedar ingin merasa bahwa tangan-tanganmu memelukku.

Aku kembali ke dalam stasiun setelah langit mulai pekat kembali. Pukul 05.00 nanti, akan ada kereta kepulangan yang menjemputku.

Di kota kita, aku akan berbisik....
Aku cinta.

Monday, December 17, 2012

Deru Rindu

Aku ingin lari ke hadapanmu. Barangkali dengan cara itu rinduku habis, berceceran di sepanjang jalan. Rindu yang tak jarang menderu layaknya ombak menabrakan diri pada bibir pantai. Inginku merengkuhmu. Entah dalam rengkuhan nyata atau sekedar merengkuh dalam pandangan. Paling tidak, biarkan rinduku menyentuhmu. Agar ia tak meronta lagi. Tali jarak ini, bisakah kupotong agar langkah kita dekat? Sebab, sejak sepi menajamkan rindu, aku kesakitan. Kesakitan yang terus menerus. Kita harus bertemu. Meski sesingkat titik embun merasakan sinar surya.

Sejak rindu belajar mengeja aksara, baris namamu yang ia tahu.

Sunday, December 16, 2012

BORNEO MALENGGANG






KOMUNITAS BORNEO MALENGGANG
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia





Sejarah Berdiri

Maret 2011         : Tim Tari Gede-gede
Maret 2012         : Tim Tari FPSB UII
September 2012  : Komunitas Borneo Malenggang



Saya percaya, setiap orang memiliki tim solidnya sendiri-sendiri. Dan saya tahu, saya punya kalian.









Terimakasih sudah menjadi satu tubuh yang lengkap dan melengkapi, menjadi tempat berlari untuk melepas kegilaan-kegilaan dan untuk tawa yang sudah bersedia digaungkan ditengah-tengah kita.





Terimakasih untuk setiap pelajaran dan pengalaman yang dibagi bersama, telah berusaha untuk menampilkan yang terbaik yang bisa dilakukan dan untuk semangat yang semoga bukan hanya ucapan tapi juga tindakan.








SELAMAT DATANG KOMUNITAS BORNEO MALENGGANG

SEMOGA PANJANG UMUR BORNEO MALENGGANG

Thursday, December 13, 2012

Kanvas Abu-Abu

Satu hari, aku pernah membayangkan bagaimana jadinya bertemu denganmu di masa ketika semua hal sudah berbeda. Keadaan, rasa, rindu yang tidak lagi berwujud sama. Yang telah lebur, mencair dan pergi mengalir pergi tak terarah. Akan jadi seperti apa kita? Barangkali hanya saling senyum yang tidak bisa dibilang ikhlas. Barangkali hanya mengucap sedikit sapa yang tidak bisa dibilang akrab. Barangkali hanya sama-sama gagu untuk memulai.

Warung makan itu. Warung makan sederhana. Kecil. Bukan restoran mewah, atau cafe tempat orang berkumpul. Hanya warung makan, yang akhirnya bersedia menjadi tempat mewujudkan bayangan yang selama ini hanya hidup dalam pikiranku. Yang menjawab semua pertanyaan "bagaimana jika". Dan menghapus pernyataan "barangkali".

"Dunia itu lebih banyak daerah abu-abu." Ucapmu dulu di percakapan kecil kita.
"Mana mungkin? Dunia itu hitam dan putih. Segala hal bisa dipastikan. Baik, buruk, mudah, sulit. Segalanya. Segalanya memiliki posisi masing-masing. Segalanya bisa dikategorikan." Bantahku.
Kamu tersenyum tipis. "Yang kamu lupa adalah, abu-abu pun adalah posisi. Abu-abu pun adalah kategori."
"Tidak pernah ada posisi yang ragu-ragu, ndra. Kamu akan selalu bisa menentukan mana yang hitam dan mana yang putih. Tidak pernah ada yang abu-abu."
"Itu dunia menurut pandangan ideal, risa. Pada kenyataannya dunia ini tidak masuk akal. Akan selalu ada abu-abu. Selalu."

Beberapa purnama telah terlewat sejak percakapan kecil kita tentang zona abu-abu. Tentang keragu-raguan. Tentang ketidakpastian. Beberapa lembar lukisan langit jingga telah terlewat sejak kita tidak lagi tentang kita. Ribuan embun pagi hari pun telah terlewat sejak aku dan kamu memiliki garis dan cerita yang telah kita tulis sendiri-sendiri. Dan aku masih tetap memandang bahwa dunia ini hanya ada dua pilihan. Bukan tiga.

Untukmu, aku sudah menggoreskan deret namamu pada kertas hitam dengan tinta warna hitam. Untukmu, aku sudah menyiapkan dan meletakkanmu di tempat sampah memori untuk sedikit mengesampingkanmu dari rekaman ingatan ku. Untukmu, aku sudah mematikan rasa. Untukku, semua tentangmu sudah ku pastikan. SEMUA.

Hingga pagi ini datang dengan ramah. Mengetuk dengan pelan dan mengantarkan hangat seperti yang biasa dia lakukan. Tak ada yang berbeda. Sampai aku duduk di warung sederhana. Sendiri. Dan tak berapa lama ada sosok yang dulu sempat sangat aku kenal. Suara yang sangat akrab dengan telingaku, kamu. Tapi tidak lagi sendiri. Dan segala hal menjadi kabur. Abu-abu.

Aku mengalihkan pandangan. Mencari tempat mataku menatap, apa saja asal bukan kamu. Aku mempercepat mengosongkan piring dihadapanku. Meminimalisir waktu untuk tidak berlama-lama berada disini. Aku berusaha tak terlihat, minimal olehmu. Dan sedikit perasaan lega karena aku terlewat darimu. 

Tiba-tiba, ponselku berbunyi.

Sendiri aja?

Iya.

Ooh. Selamat makan.

Dan aku tak yakin lagi untuk membalasnya.

"Indra." Aku memanggilmu sesaat setelah membayar pesanan. Sekedar mencoba baik-baik saja.
"Ris. Sendiri aja?" Kaget. Atau mungkin tepatnya pura-pura kaget. Kamu mengulang pertanyaanmu persis seperti pesan singkat yang tadi kubaca. Gugup. Gagu. Dan sama-sama tersenyum kaku.
"Iya. Duluan ya?" Aku mencoba tersenyum paksa. Kepadamu dan wanita disebelahmu.
"Iya. Hati-hati." Jawabnya yang hanya kubalas dengan senyuman.

Aku terduduk di dalam mobil. Diam. Membiarkan detik-detik berjalan. Otakku membuatmu ada dalam daftar yang kutulis di atas lembar kanvas hitam. Tapi degup jantung tak beraturan tadi, membuatmu menjadi abu-abu. Aku ragu-ragu. Mencoba mencari dimana kamu sebenarnya tapi tak juga bisa kupastikan. Siang ini, langit abu-abu. Guntur berteriak. Awan memecah isinya. Aku tak juga bergerak.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi kembali.

Ini hujan. Jangan ngebut-ngebut. Nama Indra lagi-lagi tertera sebagai pengirim.

Iya. Kamu semoga langgeng sama dia.

Seandainya kamu yang ada disini sekarang. Sayangnya, kamu tak pernah bisa aku tebak. Tak pernah bisa ku pastikan. 

Tubuhku gemetar. Aku lunglai. Tapi mencoba menyalakan mobil dan bergegas pergi dari tempat ini. Menjauh. Menjauhkan bayangmu.





Keragu-raguan ini menakutiku. Kanvas milikmu, abu-abu.



"Sebab kamu disana. Menjadi daerah abu-abu ditengah hitam dan putih. Menjadi satu kemungkinan yang tak kunjung bisa dipastikan."

Tuesday, September 4, 2012

Sembunyi

Sayang, nyanyikanlah syair lagu itu. Karena di celah nadanya aku sembunyikan rasaku. Sayang, hanyutlah pada lautan tulisan itu. Karena di antara baris-barisnya aku sembunyikan rinduku. Sayang, pandangilah balutan warna pada kanvas itu. Karena di balik cerahnya aku sembunyikan cemburuku.

Sayang, semisal ikatan waktumu sedikit melonggar dan kau memiliki cukup ruang untuk bergerak, temukanlah mereka. Temukan mereka yang aku sembunyikan darimu. Sebab aku tak memiliki cukup keberanian untuk meletakkan mereka diatas nampan dan menyuguhkannya dihadapanmu.

Sayang, temukan aku. Sebab aku telah sesak di desak rindu. Sebab aku telah sesak dihimpit rasa. Sebab ada baris kata yang ingin kubisikan tepat didekatmu.

"Aku mencintamu, pasti."

Tuesday, August 28, 2012

Menyelipkan Kenangan

Akan ada saatnya, ketika bertemu satu sama lain bukanlah  merupakan hal yang mudah dilakukan. Maka temui aku dalam kenanganmu.  Kenangan yang akan aku simpan dalam amplop mungil berwarna biru muda dan aku selipkan dalam butiran memorimu. Berharap akan dengan mudah kau temukan dalam tumpukan kenangan lain, karena biru muda adalah warna favoritmu.

Kepadamu, aku ingin menyelipkan secarik kenangan yang akan menggariskan senyum ketika kau baca. Yang akan membuatmu sedikit melamun ditengah waktumu menyesap pahit kopi. Atau mungkin yang akan berkelebat saat kau berada di sekitar teman terbaikmu.Di masa depan. Kenanglah kita. Dalam ingatan terbaikmu dan dengan senyum paling bahagia.

“Jalan yuk!” Ajakku dari seberang telepon mu.
“Mau kemana?” Jawabmu.
“Nggak usah banyak nanya. Jemput aja dulu, ntar baru aku kasih tau mau kemananya.”
“Dih? Ni anak ……”
Telepon sengaja segera kututup sebelum terlalu lama mendengar banyak alasan darimu dan segera menggantinya dengan mengirim pesan singkat.

Buruan mandi! Abis itu jemput aku. Oke? Jangan kelamaan, keburu siang.

Brisik! Iya, bentar.

Aku mengenalmu dengan baik. Sangat baik. Dan itu membuatku tahu bagaimana cara menanganimu. Sebut saja seperti itu. Meski dengan banyak omelan, toh kau pun akan datang juga akhirnya.

“Mau kemana sih? Pagi-pagi udah ribut.” Tanyamu ketika berada didepan rumah ku.
“Keliling kota. Kita tourist-day ya?” Aku mencetuskan ide gilaku. Meskipun sebenarnya tidak terlalu gila.
“Gila! Mau ngapain sih?!”
TOURIST-DAY! Udaaah, ikutin aja sih. Pokoknya kita keliling kota dan aturannya cuma satu, berlagak jadi turis. Titik.”  Jelasku sambil menekankan kata ‘turis’.
“Male…….”
“Ayok buruan berangkat, keburu panas.” Paksaku sambil mendorongmu keluar dari halaman rumah.

Inilah salah satu hal yang akan aku masukkan dalam amplop mungil berwarna biru muda yang nantinya akan kau miliki. Berlibur. Menjadi turis di kota sendiri. Menelusuri jalan yang  mungkin setiap hari kita susuri. Berdua. Mengabadikan momen dalam sebuah jepretan kamera di depan bangunan khas kota ini yang mungkin sudah bosan kita lihat. Menyecap makanan pinggir jalan  yang lagi-lagi telah kita lewati berkali-kali. Tapi disinilah kita. Melakukan hal-hal yang biasa dengan cara yang tidak biasa.

“Dapet darimana ide kayak gini?” Kamu membuka percakapan ketika kita menapak langkah di salah satu jalan di kota ini.
“Dari sini.” Jawabku sambil menunjuk kepala. “Kita nggak mungkin punya waktu untuk liburan sama-sama keluar kota. Jadi, kita harus bisa liburan sama-sama di kota sendiri.” Lanjutku.
Kamu tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHA. Dalam rangka apaan?” Tanyamu lagi setelah berhasil menghantikan tawamu.
“Nggak ada. Di masa depan nanti, belum tentu kita punya waktu buat liburan sama-sama. Jangankan liburan, ketemu aja mungkin udah susah.”
“Emang kamu mau kemana?” Ada garis khawatir di wajahmu. Terlihat. Meskipun aku tau kau berusaha menyembunyikannya.
“Belum tau. Tapi kemanapun aku, kamu. Dimanapun kita, disini atau di tempat lain. Kita akan punya kehidupan masing-masing, kan?”
“…”
“Makanya itu, kita harus liburan sama-sama. Sebelum kehabisan waktu.” Ucapku sambil tersenyum.

Ada banyak tawa yang kita gantung di sepanjang perjalanan kita hari ini. Ada banyak warna yang kita gariskan. Ada banyak celoteh yang kita rekam dalam-dalam di kaset memori. Ada banyak gambar yang terabadikan. Hari ini.

“Aku udah pernah bilang kan kalo kamu teman terbaikku?” Kali ini aku membuka pembicaraan di sela-sela kita menyantap makan.
“Iya.” Jawabmu singkat.
“Dan kamu juga tahu kalau aku menganggapmu lebih dari teman terbaik.” Lanjutmu.
Aku terdiam. Aku sudah tau kalimat ini akan kembali terucap. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Sangat kecil. Aku bahkan ragu kamu melihat anggukanku atau tidak.
“Dan?” Tanyamu.
“Kamu tetap teman terbaik, van.”
Lagi-lagi ada senyum kecilmu disana. Tulus. “Iya, aku tahu.”

Kalau rasa mampu menerima permintaan, aku memilih untuk meminta rasa agar mengalir menjadi satu dengan aliran rasa paling tulus yang kau miliki. Setidaknya menurutku. Tapi rasa tidak memiliki kebaikan semacam itu, dia lebih memilih mengalir ke arah manapun yang ia kehendaki. Sebenarnya, diam-diam aku mengirimkan doa pada Tuhan, meminta agar Tuhan bersedia menjungkirbalikkan perasaanku untukmu. Tapi sepertinya malaikat tidak bersedia mengamini, sehingga doaku pun tidak terkirim. Mungkin tersangkut di gumpalan awan sana. Atau mungkin doa itu hanya berputar di langit-langit kamarku. Entahlah.

“Thanks ya?” Ucapmu setelah mengantarku ke depan pintu rumah.
“Aku yang makasih. Kan aku yang ngajak tadi.”
“Iya. Sama-sama makasih kalau gitu.”
Aku tersenyum. “Van, aku mau kamu mengingatku se-menyenangkan ini. Itu saja.”
“Selalu, ren.” Jawabmu sambil tersenyum dan mengusap kecil kepalaku.
“Bye. Lain kali kita liburan lagi. Semoga masih ada waktu.” Pamitmu.

Secarik kenangan hari ini, aku masukkan dalam amplop mungil berwarna biru. Seperti kataku tadi, akan aku kirimkan segera dan aku selipkan dalam butiran memorimu. Kusisipkan tawaku disana, berharap tawa itu akan menular padamu.

Jika esok, waktu menyembunyikan kita berdua, maka temui aku dalam kenanganmu.

Saturday, August 4, 2012

Akhir Tanpa Akhir

Aku ingin menceritakan satu kisah, sekedar ingin kuperingatkan saja pada kalian yang tergelitik untuk menelusuri kisah ini, kisah ini tanpa akhir. Lebih tepatnya belum memiliki akhir, karena aku sendiri belum dapat memutuskan akhir seperti apa yang seharusnya tertulis. Jadi lebih baik kalian putuskan dulu apakah kalian ingin tetep membacanya, atau tidak.

"Selamat ulang tahun. Maaf baru bisa ngucapin sekarang. Sengaja, biar bisa jadi orang terakhir." Ucap Odi dengan segaris senyum di ujung pertemuan kita malam itu. Waktu menunjukkan pukul 23.15, setidaknya menurut jam yang menempel di tangan kiriku.
Aku tersenyum. "Kamu aneh. Biasanya orang-orang berlomba-lomba buat jadi yang pertama."
"Kenapa harus jadi yang pertama kalau akhirnya ditinggalkan?  Bukannya lebih baik jadi tempat terakhir dan tempat menetap?" Balasnya dengan ringan.
Aku hanya bisa membalas dengan tersenyum canggung.
"Kalau aku minta satu permintaan boleh?" Tanya Odi kali ini dengan suara yang sedikit lirih.
"Apa?"
"Kalau aku minta kamu berhenti mencari tempat menetap lain, bisa?"
"Maksudnya?"
"Aku minta kamu tetep disini. Disampingku. Nggak ada orang lain lagi. Mau?" Tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
"..." Aku mengangguk. Pelan. Agak berat.

Anggukan berat beberapa saat lalu bukan karena aku ragu. Bagaimana bisa disebut ragu kalau akupun sudah memutuskan memang hanya dia satu-satunya? Anggukan berat itu karena Pras. Iya, Pras yang kebetulan adalah sahabat dekat Odi. Lelaki yang hampir disaat bersamaan pernah mendekatiku. Beberapa minggu lebih dulu dibandingkan Odi. Kebetulan. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya adanya suatu kebetulan di dunia ini. Bagaimanapun, bukankah semua hal memang sudah tertulis? Jadi bagaimana mungkin ada suatu "kebetulan"?

Sebenarnya aku lebih suka kalau dari awal mereka menjadi musuh saja. Musuh bebuyutan kalau perlu. Hingga aku tak perlu repot-repot memikirkan nasib dan perasaan Pras. Memikirkan perasaanku sendiri yang jatuh cinta berkali-kali pada Odi saja sudah cukup merepotkan. Dan sekarang ditambah memikirkan Pras dan hubungan persahabatan mereka. Ini benar-benar merepotkan.

***

Hari ini genap satu bulan perayaan untukku dan Odi.
"Aya!" Panggil seseorang dari arah belakangku.
Aku berbalik. Benar saja. Pras sedikit berlari menghampiriku.
"Kenapa?"
"Bisa ngomong berdua bentar?"
"Apa?"

Alih-alih menjawab, Pras justru menarikku ke taman samping kampus yang memang jarang terjamah mahasiswanya.

"Mau ngomong apa?" Tanyaku lagi setelah duduk beberapa saat.
"Udah berapa lama kamu sama Odi?"
"Ngapain sih tanya kayak gitu?"
"Aku tanya, udah berapa lama kamu sama Odi?" Tanyanya ulang. Dari suaranya aku tahu Pras menahan emosinya.
"Satu bulan." Jawabku ketus.
"Jadi dia alasanmu menjauh tiba-tiba dari aku?"
"Bukan."
"Bohong!" Tuduhnya kali ini sedikit berteriak.
"Memang bukan."
"Jadi kalau bukan dia, gara-gara apa tiba-tiba kamu jauh?"
"Harusnya sebelum kamu tanya, kamu ngaca dulu pantes atau nggak dulu kamu deketin aku!" Jawabku keras.
"Maksudnya?" Kali ini suaranya melunak.
"Odi bilang kamu punya cewek. Dan masih berani-beraninya waktu itu kamu deketin aku?!"
"..." Pras terdiam. Sejenak.
"Jadi itu alasan kamu menjauh dari aku dan lebih memilih Odi?"
"Iya." Jawabku pendek dan yakin.
"Hanya itu?"
"Iya."
"Kalau alasannya hanya itu, harusnya kamu pun nggak memilih Odi." Ucap Pras ragu.
"Maksudnya?"
"Buat Odi pun, kamu bukan satu-satunya, Aya." Jawabnya sambil berdiri dan berjalan pelan.
"..."

Lidah ini tiba-tiba gagu. Beku. Dan semua menjadi abu-abu.