Pages

Monday, May 6, 2013

Seorang Miner Adalah Ksatria Diantara Banyak Pria

Apakah seorang miner berarti? Tak diragukan jawabnya adalah ya.
Lebih penting dan berarti dari pikiran kebanyakan orang.

Dia adalah ksatria diantara sekian banyak pria. Dia merupakan tulang punggung indusrti, seorang serdadu yang bertempur digaris depan setiap hari melawan musuh abadi umat manusia, rasa lapar, rasa sakit, dan rasa terabaikan.

Petani membajak lahan, dengan segala peralatan modern mereka, berawal dari tambang. Produk-produk yang dihasilkan seorang miner memberi makan dunia dengan harga yang bisa mereka jangkau.

Seorang miner ada dibelakang ruang operasi dokter. Semua metal yang membuat pisau bedah awalnya ada ditangan seorang miner. Mesin cetak bisa berputar karena miner telah menghasilkan bahannya dengan sekop dan pacul mereka. Surat kabar yang anda baca setiap hari, buku-buku panduan di universitas terlahir dari kegelapan disebuah penambangan.


Apakah seorang miner berarti? Tak diragukan jawabnya adalah ya.
Lebih penting dan berarti dari pikiran kebanyakan orang.

Miner seorang yang gagah berani. Dia pergi ketempat dimana sedikit orang yang berani kesana, dan dia melakukannya setiap hari. Dia menjalani hidup dalam bahaya, namun dia tak pernah mundur untuk menaklukkanya. Miner merasakan cucuran keringat dibahu mereka agar orang lain bisa hidup dalam kenyamanan. Tangan dan wajahnya bermandikan lumpur agar orang lain bisa hidup bersih.

Miner bekerja dimana sinar sang Surya tak pernah ada, dimana cahaya bintang tak pernah kelihatan, dengan tujuan menghasilkan cahaya yang bisa menerangi dunia. Metal yang diperlukan sebuah turbin raksasa dan kawat tipis yang menghasilkan cahaya pada sebuah bola lampu semua berawal dari tambang.

Dia adalah manusia biasa, namun dengan hati yang besar dan perasaan yang sangat mendalam, dia tidak malu untuk menangis pada saat tangisan diperlukan. Perasaan seorang penambang sedalam bahan galian yang dia cari. Saat memasuki “shaft” dia sadar sepenuhnya bahwa lelaki pemberani pendahulunya telah berkorban untuk membuat hal itu tercipta baginya.

Miner adalah pemuja sejati. Dia membangun rumah ibadah yang besar, monument dari satu keyakinan yang menjulang berabad-abad, bermula dari tambang batu dimana dia mengambil bebatuan untuk membangun fondasi dan dinding, agar orang lain bisa beribadah dengan khusyuk dalam ketenangan dan kedamaian.

Secara spiritual, miner hadir di tempat ibadah melebihi semua pendeta dan ulama. Pikirkanlah, siapa yang menciptakan plat perak dimana cawan suci diletakkan? Atau siapa yang mengambil dari perut bumi piala keselamatan dan penebusan yang terbuat dari emas?
Perhatian seorang miner adalah perhatian untuk sesama. Ingatlah hal itu lain kali anda mendengar bunyi dentang lonceng gereja atau bedhug masjid yang memberikan seruan kepada semua orang untuk datang dan berbagi dalam keyakinan.


Apakah seorang miner berarti? Tak diragukan jawabnya adalah ya.
Lebih penting dan berarti dari pikiran kebanyakan orang.

Negara-negara industri haus akan produk yang mereka hasilkan bagaikan seorang raksasa yang mencari di padang gurun. Tuntutan peradaban modern terus bertambah, bertambah dan bertambah.

Miner menjawab semua itu dan tak kan pernah mengecewakan kaumnya akan panggilan tugas mulia ini. Dengan kekuatan dan ketabahan sebagaimana layaknya bijih yang dia ambil dari perut bumi, miner memimpin dunia menuju masa depan.

Ditulis oleh: Herry Siswanto
Kota          : Tembagapura

Tulisan di atas adalah karya dari penambang yang Alhamdulillah ditakdirkan jadi orangtua saya. Tulisan ini dibuat dalam rangka "farewell party" setelah 24 tahun menjadi penambang yang lebih sering memotong-motong detik waktu di bawah tanah dibandingkan di atas tanah. Lebih sering pulang dengan lumpur di tubuh daripada rapi dan bersih selayaknya manusia pada umumnya. Begitulah.

Tuesday, February 26, 2013

Perihal Menemukanmu (Kembali)

source: http://www.123rf.com/

Perihal cinta yang bukan lagi sekedar urusan cinta. Perihal ikatan yang tidak cukup hanya berlandas rasa.

Cermin dihadapanku memantulkan bayangan pria dengan kaos lusuh rumahan, garis-garis keriput yang mulai terlihat jelas tanpa aku harus mendekatkan wajahku ke arah cermin dan helai-helai rambut yang kian memutih. Hidupku sudah panjang. Aku mulai mencarimu di sudut rumah yang seringkali kau gunakan selepas kau berkutat dengan alat-alat dapurmu, taman belakang rumah kita. Aku tidak menghampirimu. Aku hanya duduk di ruang keluarga kita yang hanya berbatas kaca denganmu. Sebab hari ini aku menyadari satu hal. Perihal aku yang menemukanmu kembali.

Kamu hanya mengenakan daster, dengan rambut dijepit yang juga mulai memutih.Berlaku selayaknya seorang psikolog yang setia mendengarkan kliennya, sebab anak gadis kita tengah bercerita entah tentang apa. Aku tak terlalu bisa mendengarkannya dengan jelas. Yang aku tahu, hidupmu sudah panjang. Tak lama anak lelaki kita pun menyatu dengan kalian. Dan keadaan menjadi penuh candaan renyah dari masing-masing kalian. Aku menemukanmu kembali.

Ikatan kita telah mencapai angka 20. Ikatan yang tidak cukup hanya berlandas rasa. Ya. 20 tahun. Dalam 20 tahun, aku pernah mencintaimu mati-matian. Jungkir balik. Dalam 20 tahun pula, aku pernah kehilanganmu. Kehilangan rasa padamu. Dan mati-matian berusaha mencintaimu kembali. 

Barangkali kamu tak pernah tahu rasanya. Rasa bersalah sebab terlalu teledor hingga kamu hilang dari rasaku. Barangkali kamu tak pernah tahu rasanya. Rasa berusaha menemukanmu kembali selama bertahun-tahun. Entah dengan cara apapun itu. Barangkali kamu pun tak pernah tahu rasa frustasi yang menghampiri karena hanya mampu menghargaimu selama beberapa tahun terakhir. Aku sempat sangat ingin mencintaimu dengan rasa yang sama besarnya dengan saat dimana awal ikatan kita bermula. Saat awal desir kalimat yang kuucapkan di hadapan banyak orang menjadi penanda bahwa kita satu.

Aku pernah mencintaimu mati-matian. Pernah mati-matian berusaha mencintaimu kembali. Dan kemudian, berhasil menemukanmu kembali dengan posisi yang pantas dalam hati. Berhasil menemukan aku kembali. Aku yang menjatuhkan rasa tepat dihadapanmu. Berhasil tertawa melihat tingkah-tingkah kecilmu. 

Telah beribu kanvas yang terpaku pada dinding-dinding kehidupan kita. Ikatan kita barangkali memang tidak hanya perihal rasa. Seharusnya sudah kupahami sejak awal.

Untuk 20 tahun ini, terimakasih telah membuatku menemukanmu kembali. Terimakasih telah menungguku kembali. Terimakasih telah bersama-sama menemukanku kembali.

Wednesday, January 2, 2013

Rel Pertemuan Semu

Reska

Kamu. Masihkah rela menengadahkan kepala pada langit malam untuk melihat sebaran cahaya kecil diantara gelap pekatnya? Bagaimana dengan malam nanti? Kurasa malam nanti, langit tak mampu menyajikan apa-apa kehadapan mu. Kecuali ribuan percikan cahaya warna warni yang memang dijanjikan menyala disaat yang sama. Barangkali bintang mu sembunyi di balik kabut asap hasil dari setiap pecikan itu. Masihkah kamu akan bersedia duduk lama pada loteng yang selalu memelukmu tiap malam, malam ini?

Hari ini, penghuni dunia akan ada dalam euforia yang sama. Aneh memang. Hanya untuk mengganti kalender lama yang sudah mulai lusuh di pojok rumah saja, mereka rela untuk repot-repot membuat rencana. Menukar pundi-pundi uang dengan terompet atau petasan yang tiba-tiba menjamur menjadi aksesoris pinggir jalan yang dijual.

"Kamu selalu saja sinis tentang semua hal yang menjadi euforia bagi semua orang." Komentarmu.
"Bukan sinis. Aku hanya heran dengan sikap orang yang latah." Aku membela diri.
"Biarkan saja. Toh, mereka senang dengan kelatahan mereka. Sama dengan kamu yang senang dengan arah berlawanan-mu."
"Bukan berlawanan arah, hanya saja merasa tak perlu untuk menghebohkan segala hal dengan berlebihan."
"Sudahlah. Kamu memang selalu seperti itu." Kamu menyudahi perdebatan.

Kamu mungkin tahu aku membenci tanggal ini. Selalu. Kamu mungkin tahu sejak fajar tadi aku sudah memaki matahari karena tak bersedia meloncatkan diri. Sehingga tetangga depan rumah pun sudah memulai meniupkan terompet yang menurutku miskin nada itu. Yang kamu tidak tahu, aku lebih membenci tanggal ini di tahun ini. Sebab atap langit kita berbeda. Sebab dinding kita adalah puluhan kota. Sebab memoriku merekam kepergianmu pada tanggal ini, di tahun lalu. Sebab sejak itu, kamu tak ada. Menghilang. Aku benci karena banyak sebab.

"Lo yakin mau nyamperin dia?" Tanya temanku. Dan hanya kubalas dengan menunjukkan karcis kereta yang menempel pada tangan kananku. "Bukannya lo bakalan tambah BT disana? Itu bukan tipe kota yang bakalan lo suka." Lanjutnya.
"Gue disana cuma semalem. Pagi gue balik. Jadi, gue nggak harus suka sama tu kota buat sampe disana nanti malem." Jawabku.
"Kalo lo kesana, lo harus janji datengin dia. Nyatain apa yang selama ini cuma lo biarin hidup di hati lo. Ini udah setaun, kalo lo nggak bisa juga, gue ragu lo laki-laki atau bukan." Ucapnya sambil menyelipkan kertas dengan dua baris tulisan. Suatu alamat.

Matahari mulai meredam sinarnya. Keretaku sore ini. Menurut jadwal, aku akan sampai di kotamu pukul 23.32 WIB. Kereta musim tahun baru. Mungkin seharusnya aku menamakannya seperti itu. Beberapa anak kecil meniup terompetnya disusul dengan omelan dari orangtua mereka. Di depan pintu kereta beberapa pedagang tidak lagi berteriak berbagai merek minuman atau makanan tetapi berganti dengan meneriakkan perlengkapan tahun baru. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang.

15 menit sebelum terompet-terompet ditiupkan dengan brutal dan tanpa peraturan. 15 menit sebelum percikan cahaya warna-warni mengganti posisi bintang. 15 menit sebelum teriakan-teriakan sedikit buta nada menguadara. Aku sampai pada stasiun kotamu. Dengan secarik kertas berisi dua baris tulisan di kantong celana jeans. Aku keluar menelantarkan diri dipinggiran jalan dekat stasiun yang merupakan pusat kota ini dan disulap menjadi lautan manusia. Benar saja, beberapa menit kemudian terompet, kembang api, petasan dan segala hal bermusim tahun baru mengkolaborasikan diri menjadi kolaborasi abstrak dan dimainkan dengan tidak manusiawi. Di tengah malam.

Pandanganku terpaku, melihat ribuan percikan cahaya dilemparkan pada langit. Adakah kita melihat percikan yang sama? Carik kertas itu masih setia kubiarkan tertidur dalam saku celanaku. Barangkali hanya ini yang aku inginkan. Merasa bahwa kita satu langit. Dinding antar kita menipis. Bahwa aku dan kamu memiliki probabilitas untuk memandang cahaya yang sama. Aku tak butuh dua baris dalam saku ini. Begini saja sudah cukup. 

Pukul 02.00, lautan manusia menyurut. Malam mulai kembali normal selayaknya malam yang seharusnya. Aku kembali ke dalam stasiun. Menunggu kereta kepulanganku. Pukul 07.00 pagi nanti.

Di kotamu, aku akan menulis....
Aku cinta.

Gea

Hari ini akan menjadi hari yang panjang untukmu, bukan? Euforia yang dinikmati dan dinanti banyak manusia di muka bumi ini adalah satu hal yang tidak pernah kamu nikmati. Satu hal yang seringkali kamu maki. Ah, aku masih mengingat bagaimana setiap tanggal ini aku harus mendengar rentetan panjang kicauanmu.

Euforia ini tidak membuatku membenci prgantian kalender. Meskipun setiap malam ini, langit yang tak pernah absen aku pandangi harus terkontaminasi sebaran cahaya warna-warni yang dilemparkan banyak orang. Tidak, aku tidak pernah membenci euforia ini. Pun tidak juga menyukainya. Setidaknya aku merasa tidak perlu menambah-nambahkan makianmu.

"Kamu mau kesana?" Tanya sahabat yang menemaniku sejak di kota ini.
Aku mengangguk yakin. "Udah pesen tiket dari kemarin-kemarin. Besok pagi langsung balik kok. Nggak bolos kantor."
"Terus mau ngapain kalau cuma langsung balik? Gunanya apaan?"
"Nggak tahu. Rasanya hanya ingin ada di kota itu saja." Sampai saat ini akupun tidak tahu apa tujuanku untuk datang ke kota itu dimalam nanti. "Dia benci euforia macam ini. Aku rasa aku harus disana untuk sekedar merasa mendengarkan rentetan kicauan makian darinya."
Disini, langit warna warni. Apa kamu melihatnya? Terompet yang kamu bilang miskin nada itu berbunyi berkali-kali. Apa kamu mendengarnya? Mungkin tidak, karena kamu jelas-jelas mencintai keberlawanan arahmu. Pukul 23.00 tadi, aku sampai di kota kita. Sedikit berharap kita berbagi pemandangan yang sama. Di kota yang sama. Stasiun ini musim tahun baru. Sekali saja, tenggelamlah bersama euforia ini. Agar aku merasa kamu ada. Disampingku. Sebab aku tak tahu alasan aku membunuh beratus-ratus kilo untuk berada di kota kita dengan pakaian kantor yang masih lengkap, selain sekedar ingin merasa bahwa tangan-tanganmu memelukku.

Aku kembali ke dalam stasiun setelah langit mulai pekat kembali. Pukul 05.00 nanti, akan ada kereta kepulangan yang menjemputku.

Di kota kita, aku akan berbisik....
Aku cinta.

Monday, December 17, 2012

Deru Rindu

Aku ingin lari ke hadapanmu. Barangkali dengan cara itu rinduku habis, berceceran di sepanjang jalan. Rindu yang tak jarang menderu layaknya ombak menabrakan diri pada bibir pantai. Inginku merengkuhmu. Entah dalam rengkuhan nyata atau sekedar merengkuh dalam pandangan. Paling tidak, biarkan rinduku menyentuhmu. Agar ia tak meronta lagi. Tali jarak ini, bisakah kupotong agar langkah kita dekat? Sebab, sejak sepi menajamkan rindu, aku kesakitan. Kesakitan yang terus menerus. Kita harus bertemu. Meski sesingkat titik embun merasakan sinar surya.

Sejak rindu belajar mengeja aksara, baris namamu yang ia tahu.

Sunday, December 16, 2012

BORNEO MALENGGANG






KOMUNITAS BORNEO MALENGGANG
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia





Sejarah Berdiri

Maret 2011         : Tim Tari Gede-gede
Maret 2012         : Tim Tari FPSB UII
September 2012  : Komunitas Borneo Malenggang



Saya percaya, setiap orang memiliki tim solidnya sendiri-sendiri. Dan saya tahu, saya punya kalian.









Terimakasih sudah menjadi satu tubuh yang lengkap dan melengkapi, menjadi tempat berlari untuk melepas kegilaan-kegilaan dan untuk tawa yang sudah bersedia digaungkan ditengah-tengah kita.





Terimakasih untuk setiap pelajaran dan pengalaman yang dibagi bersama, telah berusaha untuk menampilkan yang terbaik yang bisa dilakukan dan untuk semangat yang semoga bukan hanya ucapan tapi juga tindakan.








SELAMAT DATANG KOMUNITAS BORNEO MALENGGANG

SEMOGA PANJANG UMUR BORNEO MALENGGANG

Thursday, December 13, 2012

Kanvas Abu-Abu

Satu hari, aku pernah membayangkan bagaimana jadinya bertemu denganmu di masa ketika semua hal sudah berbeda. Keadaan, rasa, rindu yang tidak lagi berwujud sama. Yang telah lebur, mencair dan pergi mengalir pergi tak terarah. Akan jadi seperti apa kita? Barangkali hanya saling senyum yang tidak bisa dibilang ikhlas. Barangkali hanya mengucap sedikit sapa yang tidak bisa dibilang akrab. Barangkali hanya sama-sama gagu untuk memulai.

Warung makan itu. Warung makan sederhana. Kecil. Bukan restoran mewah, atau cafe tempat orang berkumpul. Hanya warung makan, yang akhirnya bersedia menjadi tempat mewujudkan bayangan yang selama ini hanya hidup dalam pikiranku. Yang menjawab semua pertanyaan "bagaimana jika". Dan menghapus pernyataan "barangkali".

"Dunia itu lebih banyak daerah abu-abu." Ucapmu dulu di percakapan kecil kita.
"Mana mungkin? Dunia itu hitam dan putih. Segala hal bisa dipastikan. Baik, buruk, mudah, sulit. Segalanya. Segalanya memiliki posisi masing-masing. Segalanya bisa dikategorikan." Bantahku.
Kamu tersenyum tipis. "Yang kamu lupa adalah, abu-abu pun adalah posisi. Abu-abu pun adalah kategori."
"Tidak pernah ada posisi yang ragu-ragu, ndra. Kamu akan selalu bisa menentukan mana yang hitam dan mana yang putih. Tidak pernah ada yang abu-abu."
"Itu dunia menurut pandangan ideal, risa. Pada kenyataannya dunia ini tidak masuk akal. Akan selalu ada abu-abu. Selalu."

Beberapa purnama telah terlewat sejak percakapan kecil kita tentang zona abu-abu. Tentang keragu-raguan. Tentang ketidakpastian. Beberapa lembar lukisan langit jingga telah terlewat sejak kita tidak lagi tentang kita. Ribuan embun pagi hari pun telah terlewat sejak aku dan kamu memiliki garis dan cerita yang telah kita tulis sendiri-sendiri. Dan aku masih tetap memandang bahwa dunia ini hanya ada dua pilihan. Bukan tiga.

Untukmu, aku sudah menggoreskan deret namamu pada kertas hitam dengan tinta warna hitam. Untukmu, aku sudah menyiapkan dan meletakkanmu di tempat sampah memori untuk sedikit mengesampingkanmu dari rekaman ingatan ku. Untukmu, aku sudah mematikan rasa. Untukku, semua tentangmu sudah ku pastikan. SEMUA.

Hingga pagi ini datang dengan ramah. Mengetuk dengan pelan dan mengantarkan hangat seperti yang biasa dia lakukan. Tak ada yang berbeda. Sampai aku duduk di warung sederhana. Sendiri. Dan tak berapa lama ada sosok yang dulu sempat sangat aku kenal. Suara yang sangat akrab dengan telingaku, kamu. Tapi tidak lagi sendiri. Dan segala hal menjadi kabur. Abu-abu.

Aku mengalihkan pandangan. Mencari tempat mataku menatap, apa saja asal bukan kamu. Aku mempercepat mengosongkan piring dihadapanku. Meminimalisir waktu untuk tidak berlama-lama berada disini. Aku berusaha tak terlihat, minimal olehmu. Dan sedikit perasaan lega karena aku terlewat darimu. 

Tiba-tiba, ponselku berbunyi.

Sendiri aja?

Iya.

Ooh. Selamat makan.

Dan aku tak yakin lagi untuk membalasnya.

"Indra." Aku memanggilmu sesaat setelah membayar pesanan. Sekedar mencoba baik-baik saja.
"Ris. Sendiri aja?" Kaget. Atau mungkin tepatnya pura-pura kaget. Kamu mengulang pertanyaanmu persis seperti pesan singkat yang tadi kubaca. Gugup. Gagu. Dan sama-sama tersenyum kaku.
"Iya. Duluan ya?" Aku mencoba tersenyum paksa. Kepadamu dan wanita disebelahmu.
"Iya. Hati-hati." Jawabnya yang hanya kubalas dengan senyuman.

Aku terduduk di dalam mobil. Diam. Membiarkan detik-detik berjalan. Otakku membuatmu ada dalam daftar yang kutulis di atas lembar kanvas hitam. Tapi degup jantung tak beraturan tadi, membuatmu menjadi abu-abu. Aku ragu-ragu. Mencoba mencari dimana kamu sebenarnya tapi tak juga bisa kupastikan. Siang ini, langit abu-abu. Guntur berteriak. Awan memecah isinya. Aku tak juga bergerak.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi kembali.

Ini hujan. Jangan ngebut-ngebut. Nama Indra lagi-lagi tertera sebagai pengirim.

Iya. Kamu semoga langgeng sama dia.

Seandainya kamu yang ada disini sekarang. Sayangnya, kamu tak pernah bisa aku tebak. Tak pernah bisa ku pastikan. 

Tubuhku gemetar. Aku lunglai. Tapi mencoba menyalakan mobil dan bergegas pergi dari tempat ini. Menjauh. Menjauhkan bayangmu.





Keragu-raguan ini menakutiku. Kanvas milikmu, abu-abu.



"Sebab kamu disana. Menjadi daerah abu-abu ditengah hitam dan putih. Menjadi satu kemungkinan yang tak kunjung bisa dipastikan."

Tuesday, September 4, 2012

Sembunyi

Sayang, nyanyikanlah syair lagu itu. Karena di celah nadanya aku sembunyikan rasaku. Sayang, hanyutlah pada lautan tulisan itu. Karena di antara baris-barisnya aku sembunyikan rinduku. Sayang, pandangilah balutan warna pada kanvas itu. Karena di balik cerahnya aku sembunyikan cemburuku.

Sayang, semisal ikatan waktumu sedikit melonggar dan kau memiliki cukup ruang untuk bergerak, temukanlah mereka. Temukan mereka yang aku sembunyikan darimu. Sebab aku tak memiliki cukup keberanian untuk meletakkan mereka diatas nampan dan menyuguhkannya dihadapanmu.

Sayang, temukan aku. Sebab aku telah sesak di desak rindu. Sebab aku telah sesak dihimpit rasa. Sebab ada baris kata yang ingin kubisikan tepat didekatmu.

"Aku mencintamu, pasti."