Pages

Friday, August 19, 2022

Kuharap Kita ....


Kuharap kamu...
Baris kata yang tak pernah bosan kubaca
Perjalanan yang selalu kunikmati

Kuharap aku...
Jalan setapak yang tak lelah kamu telusuri
Petualangan yang selalu kamu pilih

Kuharap kita...
Penuh langkah beriringan
Atas cerita yang tak memiliki akhir





Monday, September 21, 2020

Single and Happy

 #30DaysWritingChallenge

Seharusnya Day-6!

Yup! Ini curang. Kalau pada saat day-5 kemarin alasan saya adalah overtime, untuk day-6 ini alasan saya karena para keponakan kesayangan saya kemarin sempat menginap. So, I took care of them. Mencari alasan memang selalu mudah!

Single and happy.

Saya sendiri agak heran dengan munculnya tema ini dalam writing challenge. Buat saya, single dan happy tidak perlu dihubung-hubungkan. Tidak ada yang bisa menjamin statusmu akan berhubungan dengan kebahagiaan. Karena bahagia bukan tentang apa saja yang kamu miliki, tapi tentang bagaimana kamu menilai apa yang kamu miliki.

Saya single. Dan saya bahagia.

That's right! Tapi bukan berarti kalau esok hari saya tidak single, artinya saya tidak bahagia. Saya bahagia karena saya menikmati kehidupan single saya. Banyak teman saya yang seumuran atau bahkan lebih muda, sekarang sedang sibuk memikirkan urusan sekolah anaknya. Sedang berkutat dengan urusan rumah atau sejenisnya. Kalau sekarang saya punya banyak waktu untuk menulis, beberapa teman saya mungkin sedang mencoba menenangkan anaknya yang sedang menangis. 

I'm almost 30, by the way. Dan menjadi wanita yang belum menikah dengan usia ini di Indonesia artinya saya harus sering menjadi tuli dari omongan orang. That's my secret being happy nowadays.

"Puas-puasin lah. Enakan juga single. Nggak usah mikir suami sama anak. Bisa goler-goler sampe siang."

"Nikahlah. Udah nggak jamannya jalan sendiri, kemana-mana sendiri. Masa nggak bosen kayak gitu terus?"

Sungguh nasehat-nasehat yang bertentangan. Lalu, saya sadar bahwa banyak orang sibuk menilai kebahagiaan orang sesuai dengan standar hidup mereka. Tapi dari situ juga saya belajar, bahwa sungguh tidak ada hubungannya antara statusmu dan kebahagiaan. Apapun statusmu, kau bisa dan berhak bahagia. Saya single, saya bahagia dan bukan berarti saya bisa mengutuk manusia-manusia yang sudah memutuskan untuk berkeluarga dengan mengatakan mereka tidak bahagia. Pun sebaliknya.

Satu yang perlu kita ingat bersama, 

tidak perlulah kita mengkerdilkan sesuatu hanya karena kita tidak menjalani hidup semacam itu. 

Pun, tidak perlulah berlebihan bangga terhadap apa yang kita jalani.

Bahagia adalah tentang bagaimana kamu mengolah rasa terhadap apa yang kamu miliki.

My Parents

 #30DaysWritingChallenge

Seharusnya Day-5!

Wohoo! See? Baru hari ke-5 sudah muncul ketidak-konsistenan. Maafkan kekhilafan hamba. Jum'at kemarin adalah hari overtime setempat kerja. Dan tentu saja pulang-pulang, badan otomatis tidak mau lepas dari kasur. Anyway, writing about my parents? I actually did that a long time ago. Jadi, saya bagikan saja link nya disini, karena setelah saya baca ulang tidak ada yang berubah dari pemikiran saya pada waktu itu.

It was 9 years ago. Pada awal saya menjalani umur 20an. Dan sekarang, saya hampir masuk dunia berkepala 3. I feel so old!

https://viairianti.blogspot.com/2011/04/gadis-kecil-dan-mama.html

https://viairianti.blogspot.com/2011/03/gadis-kecil-dan-ayah.html

Percaya atau tidak, setiap kali saya membaca ulang apapun yang pernah saya tulis kadang-kadang saya pun terheran-heran. How could I write that kind of thing?! Tapi, bukannya saya tidak mau menuliskan lagi tentang orangtua saya. Bagi saya, tulisan dulu masih sangat mewakili perasaan saya kepada mereka sekarang.

Sehat dan bahagia selalu! That's all I need from both of you.


Love,


Your little girl

Thursday, September 17, 2020

Places I Want to Visit

 #30DaysWritingChallenge

Day-4

"What places you want to visit?"

Wizarding World in London!!!!

Harry Potter Filming Locations!!!

Apalagi yang bisa saya sebutkan selain itu? Tidak ada. Hidup dalam masa Pandemi membuat saya menjadi manusia yang ikhlas tinggal di dalam rumah yang isinya saya lagi-saya lagi. Menjadi manusia yang tidak berharap bisa jalan-jalan dengan bebas. Kembali bisa keluar rumah tanpa harus khawatir ada kemungkinan menularkan/ditularkan orang saja sudah syukur. Tapi, pada saat tema ini menjadi tema ke-4 dari challenge, I can't stop thinking about those places!! 

Memutar balik mesin waktu kembali ke masa sekolah, saya pernah ditanya oleh teman,

"Kalau bisa keluar negeri mau kemana?"

"London."

"Kenapa London?"

"Mau ke Wizarding World-nya Harry Potter."

"Itu doang?"

"Iya."

Seabsurd itu saya. Bahkan kalaupun saya diberi rejeki hanya bisa mengunjungi London dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka dengan senang hati dan suka cita, saya akan ke Wizarding World lalu kembali ke Indonesia Raya. Hahaha. Call me idiot. I admit it.

Mengingat masa yang lebih purba, sebelum Wizarding World diciptakan di muka bumi ini saya pun pernah mengutarakan kepada teman saya,

"Kalau bisa pengen keliling UK deh."

"Mau kemana aja emang?"

"Ketempat syuting Harry Potter."

Saya bahkan masih mengingat dengan jelas muka-muka keheranan teman-teman saya. I'm a weirdo!

Bagi saya, Harry Potter bukan hanya sekedar cerita. Bukunya adalah pintu pertama saya menyetuh dunia novel. Kisahnya adalah kisah yang bertumbuh bersama dengan saya. Saya masih ingat bagaimana rasanya menanti-nanti novel terbaru setiap tahunnya. Bahkan saya ingat, bagaimana dulu saya harus memesan bukunya jauh-jauh hari sebelum buku-buku tersebut terbit.

Saya bahkan harus ikhlas mendengar omelan mama, karena buku-buku tersebut membuat saya lupa makan, lupa tidur dan sepertinya lupa pipis. Oh, oke. Sepertinya bukan saya yang ikhlas, tapi mama saya yang harus ikhlas mengomel sepanjang hari. Hari-hai terbitnya buku terbaru Harry Potter sepertinya adalah masa kelam untuk beliau.

So, will I be there someday?

Tidak tahu. Tapi menuliskannya saja sudah cukup membuat saya tersenyum sendiri.

Wednesday, September 16, 2020

Ingatan, Kenangan

#30DaysWritingChallenge

Day-3

Tidak. Aku tidak akan mendongengkan kenanganku disini. Sebab, barangkali kau akan bosan, dan tertidur sebelum dongeng kenangan selesai kuceritakan.

Untukku, ada 3 macam kenangan yang dimiliki manusia. Kenangan serupa danau, yang selalu cukup menggoda untukmu bermain disana. Dimana waktu dunia terasa melambat. Kau bisa saja bertahan disana sambil membaca ingatan kenangan berjilid-jilid sampai tanpa sadar senja mengusirmu dengan halus. Ada juga kenangan serupa taman depan rumah, yang selalu kau coba modifikasi dengan tatanan paling indah hanya agar kau merasa bahwa, ingatan kenangan tersebut tidak terlalu buruk untuk kau bawa sampai tua. Sampai renta. Terakhir, kau bisa saja menemukan kenangan serupa genangan bekas air hujan yang bersikeras kau hindari. Demi tidak kotornya sepatumu. Yang membuatmu bersikeras melayangkan doa pada Tuhan, agar matahari bersedia mengeringkan genangan itu, sampai hilang. Sampai kering. Sampai tak terlihat olehmu.

Oh, jangan tanyakan soal teori atau mengajakku berdebat soal ini. Karena aku tidak sedang mengerjakan karya ilmiah. 

Tuesday, September 15, 2020

Things That Makes Me Happy

#30DaysWritingChallenge

Day-2

Sepertinya saya butuh banyak waktu untuk mengingat hal apa yang membuat saya bahagia. Semakin saya dewasa, rasanya hampir semua kejadian terasa biasa saja. Tapi kalau harus saya sebutkan, sepertinya berjalan kaki. Sebagai manusia yang lahir dan sempat tinggal di kota kecil, berjalan kaki menjadi satu kebiasaan.  Bagaimana tidak? Pada masa itu, kemanapun saya pergi hampir selalu tidak bersedia menaiki bis kota. Bagi saya, berjalan membuat saya bisa meromantisasi banyak hal. Rumput, pohon, sungai, bebatuan, pedagang pinggir jalan dan lain sebagainya. Sesimpel itu. 

Sekarang?

Tentu saja tidak. Sulit bagi saya menemukan tempat berjalan kaki yang nyaman di kota saya sekarang ini. Ditambah cuaca yang seringkali panasnya tidak mengenal ampun.

Menonton Korean drama. Yang ini sepertinya tidak bisa ditawar. Bukan karena Korean-wave sedang merajalela, tapi saya rasa saya sudah terlanjur tenggelam dalam dunia drama untuk waktu yang cukup lama. Barangkali 17 tahun atau bahkan lebih. Dari dunia ini saya belajar sedikit tentang dunia kedokteran, jurnalistik, penyakit psikologis dan banyak hal. Harus diakui, menonton Korean drama bukan hanya melulu soal tangis-tangisan tapi juga soal detail dari tema yang diangkat.

Pegunungan dan hujan. Lagi-lagi saya harus mengakui kota tempat lahir saya sungguh berpengaruh banyak. Cuaca dingin, hijau pemandangan, dan air hujan sepertinya memang komposisi yang pas bagi saya, meski hanya duduk manis menikmati.

Diakui atau tidak, bahagia memang hanya berkutat pada hal-hal sederhana yang kadang terlewat. Dia tidak gaduh, tidak juga megah. Dia lebih memilih menyelip diam-diam dan menyapa lembut serupa angin sepoi-sepoi.

Monday, September 14, 2020

My Personality

#30DaysWritingChallenge

Day-1

Sebelum memulai challenge ini, ijinkan saya mengucapkan "selamat datang kembali" teruntuk diri saya sendiri. Menantang diri untuk mulai menulis lagi saat ini rasanya seperti memaksa pulang kampung disaat tidak libur. Menyenangkan tapi juga khawatir. Khawatir tidak punya cukup waktu, khawatir segalanya terasa terburu-buru dan tidak bisa dinikmati, sekaligus senang. Senang berharap bisa melarikan diri sejenak dari riuh dan hingar bingar isi kepala. 

Sejujurnya menulis topik ini adalah yang seringkali saya hindari. Kepribadian saya. Dalam proses menulis ini sesungguhnya saya berdoa semoga saya cukup mengenal  dan cukup bisa menilai diri saya sendiri. Kalau boleh saya pengakuan dosa, terkadang saya terlalu sibuk menganalisis orang lain sampai lupa jalan pulang untuk menganalisis diri sendiri. Who's with me?

Mungkin saya harus mulai dengan:

"Woman outside, man inside." Hahaha.

Sebenarnya ini mencontek dari penuturan orang-orang disekitar saya selama ini. Lalu, berdasar pada tes yang pernah iseng tidak berhadiah saya kerjakan dalam buku "Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps", hasil skor saya menunjukkan hasil skor cara otak saya berpikir ada diambang batas skor yang biasanya dimiliki laki-laki. But, thanks God, I can't read maps! Setidaknya, itu adalah salah satu hal yang paling wanita dalam diri saya dan harus dipertahankan. Selamat!

Selanjutnya, jangan berharap saya bisa dengan sukarela menjalani sesuatu terutama tentang prinsip atau jalan hidup yang tidak saya sukai. I don't care what you say, I live my own life. Menjalani hidup sesuai dengan standar orang lain buat saya adalah hal yang menguras tenaga dan sia-sia. Bagi saya, hidup bukanlah sekolah melainkan belajar. Dalam hidup tidak ada level atau istilah "naik-tidak naik", tapi bagaimana kita berproses mengambil nilai dari kejadian yang dijalani. Jadi, saya tidak perlu menjalani ujian yang sama dengan orang lain, bukan?

Jangan berharap menemukan saya dalam keramaian, bahkan meski di tempat tersebut ada diskon dimana-mana. Hahaha. (Sombong ala anak sultan!). Oh, oke! Kecuali kalau itu diskon buku besar-besaran. Lahir dan sempat besar di lembah sepertinya memang memiliki pengaruh cukup besar bagi saya.

Itu saja? 

Sebenarnya tidak. 

Tapi menulis 3 hal ini saja, energi saya habis untuk menganalisis. Menemukan jalan kepada diri sendiri memang bukan pekerjaan mudah. 

Sunday, February 17, 2019

Secarik Kisah yang Sama

Sahara.

Ini adalah pagi pertama pertemuan kita. Kamu duduk pada salah satu bangku kayu yang cukup rapuh di taman bermain. Aku berayun pada salah ayunan yang sudah cukup berkarat. Beberapa anak bermain ditemani orangtua mereka. Kupikir kamu adalah salah satu ayah anak-anak itu. Siang menjelang, sinar matahari yang terlalu elok panasnya perlahan mengusir para orangtua dan anak-anak tersebut. Tapi kamu tidak juga beranjak, pun aku. Ah, kamu bukan bagian dari para orangtua itu, barangkali kamu hanya seperti aku. Melewati beberapa jam dengan kosong, lalu pulang dengan hampa. 

Sudah seminggu kita bertemu. Di waktu yang hampir sama setiap hari, dengan posisi yang juga nyaris selalu sama. Kecuali jika ada orang yang sudah mendahului duduk pada bangku kayu itu, atau anak yang bermain di atas ayunan. Siang ini, sudah kuputuskan aku akan menghampirimu. Sebab aku sangat mengenal tatapan itu. Tatapan yang tidak benar-benar menatap apapun. Sebab aku pun  begitu.

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku ketika menghampirimu dan hanya dibalas anggukan dan segaris senyum.
"Aku tidak." Responku setelah melihat jawabanmu. Aku tahu, kamu tidak benar-benar baik.
"Kamu boleh cerita kalau mau." Jawabmu singkat.

Aku punya banyak cerita. Tentang banyak orang. Seperti kertas, aku adalah tempat mereka menulis kisah mereka. Kadang tulisan tangan mereka apik, menyenangkan untuk dibaca. Tapi, tak jarang pula berantakan dan penuh tekanan hingga malas orang membacanya. Seperti tempat sampah, aku adalah tempat mereka membuang busuk kehidupan yang mereka punya. Aku penuh dengan kehidupan banyak orang, lalu kehilangan diri sendiri. Aku sibuk menjadi tempat mereka berlari dari kehidupan mereka, tapi tidak punya tempat berlari untukku sendiri. Aku sibuk menjadi penyembuh bagi mereka, lalu sakit dan tak menemukan penyembuh apapun. Terlalu lama. Tidak ada yang bisa menyembuhkanku. Aku sudah terlanjur robek dan membusuk. 

Kamu dengan seksama mendengarkan. Tanpa respon apapun, namun tatapan itu menghangatkan.

"Aku harap, kamu tidak menjalani hidup sepertiku." Kataku menutup cerita.


Respati.

Siang itu aku sedikit kaget dengan sapaan yang tak biasa dari orang asing. Sudah lama aku tak mendengar orang menanyakan keadaanku. Aku tidak yakin kapan pertama kali kamu duduk di ayunan yang sama pada taman bermain ini setiap pagi. Kupikir kamu adalah salah satu ibu dari anak-anak yang bermain. Ternyata tidak. Kamu tetap disana bahkan ketika para orangtua dan anak-anak itu terusir oleh sinar matahari siang. Barangkali kamu hanya seperti aku.

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyamu ketika menghampiriku dan hanya kubalas anggukan dan segaris senyum.
Aku rasa ini adalah perkara kebiasaan. Terbiasa untuk berkata baik-baik saja. Selanjutnya, aku akan membiarkan orang-orang untuk berkeluh kesah. Dan kurasa, kamu butuh itu sekarang.

"Aku tidak." Responmu setelah melihat jawabanku. 
"Kamu boleh cerita kalau mau." Jawabku singkat.

Aku mendengar dengan seksama. Ceritamu, familiar. Seperti mendengar kisahku diceritakan ulang olehmu.

"Aku harap, kamu tidak menjalani hidup sepertiku." Katamu menutup cerita.

Aku sudah menjalani hidup sepertimu. Serupa memory card, hidupku penuh dengan rentetan rekaman kejadian banyak orang di sekitarku. Aku sibuk menjadi seperti para dokter yang mencoba menyembukan pasien, kemudian tak sadar jatuh sakit pada akhirnya. Aku sibuk menjadi pendengar, tapi tidak menemukan siapapun untuk bercerita. Aku pikir aku baik-baik saja, ternyata aku sudah terlalu jauh tenggelam dalam laut kehidupan orang lain. Aku tidak lagi bisa menemukan aku. 

Kamu dengan seksama mendengarkan. Tanpa respon apapun, namun tatapan itu menghangatkan.

"Aku harap, kamu segera menemukan penyelamatmu." Kataku menutup cerita.


***

Hari ini, waktu terasa berjalan cepat. Dua manusia itu masih setia duduk di taman bermain. Matahari semakin menggelincir ke barat, kemudian mereka saling memutuskan untuk pulang. Mereka tak lagi pulang dengan benar-benar hampa, ada yang terisi disana. Entah apa. Langkah mereka ringan, dan diam-diam berjanji dalam hati akan kembali esok hari.

Tak ada yang bisa memaksa hati untuk sembuh. Ia akan menemukan caranya sendiri.


source: https://dissolve.com

Monday, December 25, 2017

Pada Akhir Hari

Ketika senja dimakan laut, tenggelamkan tubuhmu dalam peluk kecilku. Utuh. Agar luruh separuh lelah.


Source: https://drawinglics.com/s/couples-hugging-drawing-tumblr.py

Sejak tetes embun menyentuh daun, pintu hari ini terbuka dan memaksa makhluk bumi bergerak melewati. Kau, aku, mereka, serupa ternak digiring lepas dari kandang. Seiring terbuka mata yang menghapus mimpi semalam, ada bahu yang harus tegap melawan desir angin. Ada kaki yang harus melangkah meski terseok. Ada kepala yang harus lantang menatap ke depan. Demi jalannya sebuah hari.

Punggungmu menyamar, menjauh dari pandangan. Suara langkahmu terkubur ramai pagi. Entah akan seperti apa hari ini untukmu. Entah akan seperti apa hari ini untukku. Kita akan melewati banyak hal. 

Satu hari matahari mungkin akan tak tahu malu menyilaukanmu. Teriakan bahagia sekelompok anak kecil yang bermain menyertai suara langkahmu. Denting piano pianis melagu mengalir bersama desah napasmu. Dan harimu berwarna.

Satu hari matahari dan  air langit mungkin ingin berjumpa hingga rintik hujan jatuh bersama sinar matahari yang malu-malu mengintip dibalik putih awan. Tawa bahagia sekelompok anak kecil yang bermain dibungkam teriakan ibu yang meminta pulang. Denting piano pianis melagu meski tertatih mengeja nada. Dan harimu baik-baik saja.

Hari ini, matahari enggan muncul, sedang air langit mungkin rindu bumi, menjatuhkan dirinya pada tiap jengkal tanah dan membasahimu. Tangisan sendu anak kecil mengiris telingamu. Denting piano pianis tak terdengar dari arah manapun. Dan harimu menjadi abu.

Tapi, selalu bersiaplah untuk pulang.

Hari menggelap, lampu jalan mulai menyala. Bayang tubuhmu menjelas mendekati. Pada tubuhmu, aku menangkap tanda bekas percikan air jalan dicelanamu. Aku mendengar tangis yang berusaha kau telan seharian. Aku merasakan gigil kedinginan yang coba kau tahan. 

Pada akhir hari ini, tenggelamlah dalam peluk kecilku. Menangislah pada rengkuhku. Sebagai kompensasi perjalananmu yang melelahkan. 

Selalu bersiaplah pulang, padaku. 
Sampai habis tinta Tuhan menulis skenario kita.

Tuesday, September 20, 2016

Aku ini...

Aku ini pelari maraton
Yang seolah lari menjauh darimu
Lari terengah-engah
Pincang dimakan lelah
Dan lupa bahwa garis akhir pelarian adalah tempat yang sama dengan titik awal

Aku ini pemimpi yang gila
Yang seolah lari menjauh darimu
Memilih dibuai malam mimpi
Habis ditelan gelap yang pekat
Dan tak sadar bahwa ada pagi yang akan mengembalikanku pada nyata

Aku ini pengendara
Yang seolah lari menjauh darimu
Sibuk mencari tempat singgah
Tersesat ditemani peta kumal teronggok di kursi penumpang
Dan tak tahu bahwa akhir perjalananku adalah tempatmu berpijak





Ini aku, yang pergi, tapi berakhir padamu.




           
Picture: https://id.pinterest.com/pin/397653842074335350/

Wednesday, January 6, 2016

Mengalirlah, Untuk Hidupmu

Dari sekian banyak teman wanita yang pernah aku kenal, kamu lah yang entah aku tak tau atau memang kamu sulit ditebak. 

Sudah ku temui wanita dengan berbagai latar dan seluk beluk, tapi kamu memang berbeda. Aku tak tau, ntah aku yang memang kurang tajam dalam penglihatan, atau memang dirimu yang sengaja menjadi samar, agar semua tetap pada keadaan seperti biasanya.
 
Aku tau, di dalam dirimu sebenarnya mengalir berliter-liter air kehidupan yang suatu saat nanti akan kamu berikan semuanya kepada orang yang tepat. Ntah, suatu waktu itu pasti akan datang. Kamu, tenang dalam pikiran dan perbuatan. Bagaikan air, yang tak pernah bisa ditebak kemana arusnya. Dari hilir ke hulu atau sebaliknya. Padahal semua tau, air selalu mengalir dari yng tinggi ke tempat rendah. Tapi bukan itu, bukan itu yang aku tuliskan disini. Melainkan arus, arus airmu. Arus kehidupanmu, kemana akan kau muarakan? Ke lautan luas, atau hanya ke sebidang petak tanah sawah, kecil memang, tp mungkin sangat berarti untuk kelangsungan hidup seseorang. 

Hadirmu yang melepaskan dahaga, menyejukkan, dan kadang berbahaya jika dalam jumlah besar, sepeti banjir bandang.
 
Tetaplah seperti air, sejuk dalam sentuhan, hangat dalam seduhan kopi, dan penghilang lelah ketika mandi. Bermuaralah kemana pun kamu mau, karna engkau air. Yang bebas mengalir kemana saja. 


Written by: Hendrik Nova Adiyatma 

***

Tulisan dari seorang teman tentang saya (kipiknya). Sekarang saya tahu kenapa laki-laki ini disebut Raja Kipik oleh adek bontot saya.

Berhujanlah kata-kata, kawan. Sebab lewat mereka, kamu tahu hakikat kemerdekaan yang sebenarnya.

Saturday, January 2, 2016

day 6# - untuk Via dan ruang biru

Selamat malam, Kesederhanaan.

tidak, aku tidak akan menyapa si Kesederhanaan. aku tidak akan bicara dengan sang Kesederhanaan. aku akan langsung bicara denganmu, Via.


aku mau kamu tau, aku rindu ruang birumu. ruang biru dan hampir semua biru. warna bodoh. bodoh karena kamu lah yang menyukainya. aku rindu isinya dan sekitarnya, kecuali pemiliknya. karena kamu harus tau, aku semacam membutuhkanmu. aku butuh kesederhanaanmu untuk menghentikanku menjadi Sang Berlebih. aku butuh kecukupanmu untuk menyumbatku mengeluh. aku butuh positifmu untuk mengalihkan negatifku.


aku butuh ruang birumu. bukan untuk menyaksikan salju vulkanik jatuh dari langit pertama kali seumur hidup, tapi untuk membunuh waktu bersamamu. sebenarnya kamu teladan paling baik untuk segalanya. aku tak tau akan dimana lagi mengenal sosok yang mampu selalu baik baik saja dalam menjalani hidupnya. entah dimana lagi ada sosok yang punya segalanya tapi mampu berlaku biasa saja, sekaligus sosok yang saat tak memiliki mampu berlaku seperti segalanya telah terpenuhi.


aku mau ruang birumu. bukan untuk menumpang koneksi internet, tapi untuk mendengar kalimat-kalimat yang selalu bodoh keluar dari mulutmu. kalimat jenaka, dan kenapa kamu tak menjadi pelawak atau sekedar pembodoh saja? aku tak tahu bagaimana jalan pikirmu. bagaimana jalan rasamu. bagaimana otakmu, bagaimana hatimu. tapi bolehkah aku meminjam dan mengopi sedikit? walaupun aku tau otakmu secadas underoath dengan IQ ratusan berpangkat dua, aku masih tak paham. aku tak paham bagaimana kamu bisa tenang saat berpapasan dengan apapun. atau mungkin hanya tampak tenang? kalau begitu paling tidak beritahu aku bagaimana caranya tampak selalu tenang. dan baik baik saja.


aku merindukan ruangan biru bodohmu. bukan hanya rindu helai rambut berserakan, tapi semua isinya dengan nyanyianmu beserta pilihan lagu yang selalu idiot dengan raut wajah paling polos. dan kamu. sungguh. aku rasa aku akan butuh itu selamanya. apakah aku bisa? sepertinya aku akan butuh bicara denganmu selamanya. apa bisa? aku akan butuh berbagi, bercerita, bertanya, dan bahkan berteori denganmu selamanya, seseringnya. apa mungkin? aku tak tahu akan dengan cara apa lagi aku menemukan orang yang mampu memproses dan menerima informasi apapun. APAPUN! sistem saraf pusatmu memang ksatria. akan seperti apa lagi aku mengenal orang yang mampu mendengar dan memahami apapun bentuk aksara. kepribadianmu memang raja.


sesungguhnya aku tak perlu menulis surat. aku bahkan sudah pernah menulis surat cinta penuh gombalan untukmu. toh kamu sudah tau dan kapanpun aku bisa menyampaikan langsung padamu. tapi aku rasa kamu pantas di abadikan dalam satu bentuk berbeda. dan inilah seadanya. bersenang-senang lah dalam liburanmu. karena kami disini juga bersenang-senang tanpamu dan akan segera membuatmu iri. salam untuk Lombok, anggap saja dari Defri yang rindu pulang walau sesungguhmya salam itu dariku untukmu.





Selamat malam, Via. 


source: http://cobacekajadulu.blogspot.co.id/2011/01/day-6-untuk-via-dan-ruang-biru.html

Note:
tulisan pertama dan terakhir dari adik bungsu yang selalu menjadi yang paling muda untuk apapun. bahkan perkara "pulang" kepada Sang Maha Pencipta pun tetap saja yang paling muda. kamu "pulang" terlalu cepat, bon. semoga kamu senang bisa bermain lebih lama. Amin.

Yang Tidak Bersedia Beranjak

Pada tiap-tiap kepergian, akan selalu ada kekosongan yang ditinggalkan. Celah-celah yang sempat terisi tidak serta merta tertutup seketika setelah ditinggalkan pemiliknya. Pada tiap-tiap kepergian, akan selalu ada alat pemutar waktu otomatis di dalam kepala pemilik kenangan yang kadang dengan sedikit memaksa menyeretnya untuk tenggelam dalam kolam memori. Aku tahu itu. Kau tahu itu. Tidak pernah ada yang mudah untuk menghadapi kepergian. Tidak pernah.

Ada hukum alam dalam satu hubungan. Bahwa pihak yang lebih kuat yang akan meninggalkan terlebih dahulu. Bahwa pihak yang lebih lemah harus rela menunggu waktu datang untuk menghapus lukisan-lukisan peninggalan yang tertempel disegala sisi dinding ruang. Begitu katanya. Atau justru harus benar ikhlas jika lukisan-lukisan itu tidak bersedia dihapus dan memaksa menjadi dekorasi ruangan yang tidak diinginkan.

"Bukan aku seharusnya yang bersikeras berdiri di sisimu. Aku tidak punya hak menghalangimu bergerak dari hidupmu saat ini. Kita harus saling melepaskan. Saling meninggalkan. Sebelum melukai satu sama lain." Begitu keputusanmu. Keputusan sepihak yang semena-mena, menurutku.  
 
Langkah kaki kepergianmu menggema di ujung jalan setapak. Langkah kaki kepergianmu aku hitung dalam hati sampai lelah. Langkah kaki kepergianmu meninggalkan jejak yang kemudian hilang dihembus angin. Sedang aku mengecil di ujung jalan lainnya, berusaha bertahan dari langkah kakimu yang menjauh namun perlahan menusuk hati. Semakin jauh semakin menusuk tajam.

Ditinggalkan adalah perkara menguatkan diri dari semua benda disekitarku yang membicarakanmu. Ditinggalkan adalah perkara menjadi tuli untuk setiap berita tentangmu. Atau ditinggalkan adalah perkara melenyapkan semua jejak tentangmu. Tapi aku bisa apa? Aku bisa apa ketika ruang kosong yang tercipta setelah aku melenyapkan segalanya tetap saja berbicara tentangmu?! Ketika pigura-pigura yang kupecahkan tetap berteriak namamu.

"Pergilah. Kamu layak mendapatkan cinta yang baru." Bisikmu terakhir kali. Seperti sudah terlalu lelah berkata-kata.

Kakiku tidak bersedia beranjak kemanapun. Tidak bersedia dilangkahkan kemanapun meski bersikeras kau dorong pergi.

Aku percaya, hati memilih caranya sendiri untuk bertahan hidup. Untuk baik-baik saja. Memintaku menunggumu adalah salah satu cara untuk membuat hati bertahan hidup. Memintaku menggantungkan harap bahwa kau akan kembali adalah cara hati menjadi baik-baik saja.

Sebab itu, dititik ini aku menunggumu. Ditemani waktu yang terombang-ambing ketidakpastian.

Thursday, November 5, 2015

Pramadhani Reihan Tuasikal

Selamat malam, gadis tangguh.

Aku bertanya-tanya, keadaan seperti apa yang akan membuatku kembali pada blog yang mungkin sudah berganti penghuni menjadi laba-laba. Atau bahkan tarantula. Ternyata keadaan seperti ini. Saat ini. Pada hari disaat dering telepon dini hari menjadi momok yang menakutkan. Yang ingin tidak aku acuhkan tapi tetap tidak bisa ditolak. Hari disaat namamu berhamburan dimana-mana. Segala doa dikirimkan dengan berbagai macam cara yang kilat. Manusia sosial media menjelma kamu. Semua. Kemudian, memori terbaik tentangmu dipanggil kembali oleh para pemiliknya. Memori yang barangkali sudah banyak terkubur dibalik kertas-kertas lusuh kehidupan. Ah. Jadi begini rasanya diingatkan tentang kamu.

Bona, aku banyak melakukan kesalahan. Hari ini. Sungguh. Jadi aku rasa sudah seharusnya aku meminta maaf terlebih dulu. Jurus-jurus tangguhku yang kamu agung-agungkan itu tidak berlaku hari ini. Mereka lari. Pergi. Tanpa ijin. Jurus yang selalu tenang atau paling tidak terlihat tenang itu hilang. Terbang. Jurus selalu baik-baik saja atau paling tidak terlihat baik-baik sajapun tiba-tiba sembunyi. Mungkin mereka sibuk mengantar dan menjagamu supaya kamu tetap baik-baik saja. Semoga saja begitu.
Maaf ternyata aku tidak setangguh ekspektasimu. 

Ah. Sudahlah. Surat ini seharusnya membuatmu bahagia saat membacanya, bukan? Sama seperti aku yang dulu bahagia membaca suratmu. Jadi, terimakasih Bona sudah menjadi adik tangguh yang tidak merepotkan kakak-kakakmu yang memang ratu repot ini. Terimakasih sudah menjadi adik kuat yang bahkan melepasmu pergi ke kota yang kejam itu tidak membuat kami khawatir. Karena kami tahu, kamu jauh lebih kuat untuk melawan kota kejam itu. Terimakasih sudah membuat kami selalu merasa kamu baik-baik saja bahkan disaat kamu harus berjuang untuk tetap baik-baik saja pada sakit yang tidak kenal ampun itu. Meski sebenarnya aku lebih senang mendengar kamu merengek sejadi-jadinya.

Maaf tidak sempat membiarkan kamarku diacak-acak olehmu dan tidak sempat menyanyi lagu-lagu pilihan idiot dengan tampang polos. Maaf tidak sempat membawamu keliling jogja setelah kamu sembuh.  Tapi malam ini, aku keliling Jogja. Sekedar untuk merasa utangku terlunasi. Semoga kamu tahu. Baik-baik di "rumah" ya. Bermainlah. Bersenang-senanglah. Sebab Allah SWT sangat dekat denganmu. Amin. Sekali lagi, terimakasih karena membiarkan memoriku hanya mengingat kamu yang sehat. Kamu yang bahagia. Kamu yang tangguh. 

Di waktu lain nanti, kalau kita diijinkan bertemu kembali semoga akan ada lebih banyak waktu bersama. Lebih banyak cerita yang dikisahkan. Lebih banyak teori yang diperdebatkan. Lebih banyak hal idiot menyenangkan yang dilakukan.
Jogja hujan, sayang. Semoga suratku tidak luntur sebelum sampai padamu. Atau sobek sebelum terbaca olehmu. 

"Tangguh itu bersikeras kamu genggam dalam perjalananmu pulang. Sampai akhir."



Pramadhani Reihan Tuasikal
18 Februari 1992 - 04 November 2015

Tuesday, June 16, 2015

Izinkan Kami

Pada masanya,
Izinkan pertemuan kami bermuara pada laut lepas pernikahan.
Izinkan kami menjadi akhir bagi jalan setapak satu sama lain.
Izinkan kami menjadi alasan tawa hadir bagi satu sama lain pada coretan kuas perjalanan.
Izinkan tangan kami bertaut menjadi pengobat segala sakit.
Izinkan kami berkisah bersama sampai waktu yang tak bisa kami hitung lamanya.

Pada Lauh Mahfudz-Mu,
Izinkan nama kami bersanding sampai lembar terakhir di dalamnya.
Sampai gugur daun usia dari pohon kehidupan.

Sunday, June 8, 2014

Seutas Janji Yang Terpenuhi dan Yang Teringkari

Janji.

Satu kata tersebut kumasukkan dalam kategori kata yang kubenci. Kata sederhana itu mampu menyulapmu serupa orang penuh hutang dengan debt collector yang akan mengejarmu dengan setia, lebih setia daripada kekasihmu. Atau mengubahmu seperti terdakwa pengadilan yang berhak dituntut jika tidak terpenuhi janjimu. Lebih parah lagi, ketika kata tersebut ternyata membuatmu menjadi seorang pengharap tidak rasional yang entah sengaja ataupun tidak mengikat kaki pada janji itu sendiri. Tak bersedia pergi kemanapun. Irasional. Bahkan justru mampu membuatmu menjadi seorang pemberi harapan yang menggantung orang lain hanya dengan seutas benang tipis. Sekali lalai, orang lain terluka.

Janji adalah kata yang sederhana. Terlalu sederhana. Hingga tak sadar kita akan dampaknya. Hingga segala kehati-hatian dikesampingkan. Sebab terlalu mudah dia diucap. Maka, aku membencinya. Sengaja kupenjarakan kata tersebut pada kerongkongan paling dalam. Aku kunci yang kuncinya sengaja ku buang ke sembarang sudut. Ah. Tapi aku tak tahu, mantra apa yang kamu gunakan sampai aku terhipnotis. Aku tak tahu, cara seperti apa yang kamu lakukan untuk menemukan kunci itu dan memberikannya padaku.

"Aku akan pergi." Katanya.
"Sampai kapan?" Begitu responku. Sejujurnya aku membenci responku sendiri. Untuk apa menanyakan sampai kapan?! Toh intinya kau akan pergi juga.
"Belum tahu. Belum bisa dipastikan. Tapi, bisa aku minta satu hal?" Ragu-ragu kau lontarkan pertanyaan itu. Ragu pula aku untuk mengangguk.
"Tunggu aku. Berjanjilah."
"Kamu tahu sendiri, aku tak pernah berjanji."

Ah! Permintaan itu sungguh keterlaluan. Kau meminta kata yang aku kurung dan kubenci -sejak aku paham atas konsekuensi dari kata itu- untuk muncul ke permukaan percakapan kita. Lalu, janji macam apa itu? Ketika aku bahkan tak tahu akan sampai kapan. Ketika kau sendiri tidak bisa memberikan garansi apapun untuk kembali. Ini ide gila!

"Kau tahu alasan aku tak pernah mau berjanji atas apapun? Karena masing pihak akan merasa terbebani. Karena masing pihak akan saling mengharap. Karena masing pihak bisa saja saling melukai. Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Sama sekali tidak mudah." Ucapku memberi alasan.

Ada jeda diam disini. Lama. Lama, sampai dingin menyergap sebab kita berdua, namun sendiri. Dalam pikiran masing-masing.

Kemudian akhirnya kau memecah keheningan.

"Yang aku tahu, dengan janjimu aku punya alasan untuk kembali pulang. Sebab aku butuh alasan untuk pulang. Sebab aku butuh pulang. Untuk alasan itu, tak bisakah kamu membuat sedikit perkecualian? Sekali sepanjang usiamu. Sekali."

Aku kalah. Seutas janji terikrar. Kau janji akan kembali, aku janji untuk menanti.

***

Sudah dua tahun lebih sejak kepergianmu. Hari ini, banyak sekali orang disini. Banyak sekali. Di rumahku. Sebagian besar memakai baju hitam. Sebagian lagi, bernuansa gelap. Hanya sedikit yang menggunakan warna sedikit cerah. Doa dan ucapan duka cita bergantian diucapkan oleh para tamu. Ayat-ayat Tuhan dibacakan sejak pagi tadi. Ada air muka sendu yang berusaha ditegarkan. Ada juga air mata yang pasrah dijatuhkan. Ada kata maaf yang diucapkan dari pihak keluargaku kepada tamu yang datang. Banyak sekali. Maaf yang diatasnamakan aku. Meski aku sendiri tidak ingat kapan aku pernah menitipkan maaf-maaf itu untuk disampaikan oleh keluargaku.

Dari sekumpulan orang yang ada disini, aku menangkap sosokmu. Meski jauh, aku bisa memastikan itu kau. Hanya saja, air mukamu tidak bisa kupastikan. Tidak jelas. Raut itu, entah apa maksudnya. Tatapan kosong tapi berisi. Tahu tujuan tapi hilang arah. Aku gagal menerka.

Perlahan langkahmu mendekat. Pada keluargaku. Pada petiku.

"Disa minta maaf. Untuk janji yang tidak sempat ditepati. Dia menitipkan ini." Susah payah ibu mengucapkan kalimat singkat itu padamu. Ada getar disana. Getar sebab ingin terlihat tegar. Sepucuk kertas itu diberikan padamu.

Tidak ada ucapan duka cita darimu. Tidak seperti tamu lain. Tidak pula ada ucapan doa darimu. Tidak sepatah katapun. Berlalu begitu saja setelah menerima sepucuk kertas itu. Duduk diantara banyak tamu, tapi terlihat sendiri. Diam. Dengan sepucuk kertas yang sama sekali tidak kau buka. Hanya tatapan lurus ke depan, tapi tidak terlihat menatap apapun.

Ada penyakit yang menemaniku tak lama sejak kau meninggalkan kota ini. Tak hanya menemani, ternyata ia pun menggerogoti. Sayangnya, tubuhku tidak cukup kuat untuk melawannya. Aku rasa tubuhku terlalu cepat menyerah. Untuk satu janji yang pernah aku ucap, aku ingin menepatinya. Satu-satunya janji yang pernah terikrar. Yang pernah terlontar. Tapi penyakitku tidak mengijinkan.  Seandainya, kau pulang lebih cepat. Barangkali aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku bisa menepati janjiku. Barangkali aku bisa pergi darimu tanpa harus menitipkan maaf pada ibu.

Aku tidak pandai berjanji, bukan? Satu-satunya janji yang kau minta, tidak juga aku lunasi. Sebab pada akhirnya, kau pulang setelah aku mengingkari janji. Setelah aku tidak bisa menanti. Kertas itu, tidak kunjung kau buka. Dan kau sama sekali tak berniat membukanya. Haruskah aku yang membacakan? Meski tak terdengar olehmu.

Maaf untuk tidak menanti. Terimakasih karena kembali.

Terlalu singkat sepucuk kertas itu untuk seorang yang telah mengingkari janji. Aku ingin menulis lebih banyak. Hanya saja, penyakitku menghilangkan beberapa persen fungsi tanganku. Pada dua kalimat itu saja, aku harus berdoa lebih banyak pada Tuhan agar bisa terbaca tulisanku olehmu.

Pada langkahmu, aku lekat. Pada setiap jejak kaki yang kau buat, aku mendampingi. Untuk tebusan sebuah janji yang aku ingkari.


Source: http://popcultureaddictlifeguide.blogspot.com

Thursday, February 27, 2014

Ada Yang Janggal Pada Hutan Kenanganmu

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Hampir tak ada gugur daun disini.
Kemana kau sembunyikan?
Atau memang kau larang pohon-pohon ini melepas sedikit beban mereka?
Agar tak terbaca kenanganmu oleh siapapun.
Termasuk kau.

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Kudengar pohon-pohon ingin berbicara padamu.
Tapi kau seolah tuli.
Kudengar daun-daun itu rindu jatuh, luruh pada tanah.
Rindu kau baca sebelum habis menyatu dengan bumi.
Tapi lagi-lagi kau seolah tak tahu.

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Pada kotak kaca tepat di tengah hutan.
Daun kenangan serupa kertas yang dirobek menjadi penghuninya.
Kelabu pekat melekat pada lembaran-lembaran daun itu.
Apa yang coba kau kurung?
Apa yang coba kau elak?

Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Ketika aku merasa kenangan itu terlalu kuat untuk kau lepas.
Terlalu sakit untuk kau ingat.
Hingga mati-matian kau kurung dalam kotak kaca.
Agar tak terjamah oleh tangan namun tetap kau lihat.
Meski kau tolak.

Ara, tak ada yang salah dengan kelabu kenanganmu.
Sudah terlalu banyak kejanggalan disini.
Luruhkan saja.
Biar pohon melepas daun yang ingin jatuh untuk kau baca.
Kemudian hilang menjelma pupuk.
Biar pecah kotak kaca itu dan berhamburan kelabu milikmu.
Berhamburan dimakan angin.

Sebab, tak ada yang lebih bahagia.
Tak ada yang lebih bahagia dibanding menerima semua.

Wednesday, February 26, 2014

Sepucuk Surat Teruntuk Han

source: http://bhindthepen.com

Han, sungguh aku meminta maaf. Sebab surat ini akhirnya kutulis untukmu, meski belum kuputuskan akan memberikannya padamu atau tidak. Saat ini, aku hanya merasa aku harus mengalirkan semua. Harus. Kalau tidak, barangkali aku akan meledak serupa bom rakitan para teroris. Aku harus menuliskannya, meski entah akan kau baca, kusimpan, kukubur sampai kau menemukannya ketika rambut kita telah sama-sama memutih atau barangkali aku bakar seketika setelah selesai kutulis.

Jujur saja, aku masih berpikir bagaimana cara memulainya. Bagaimana cara menceritakan kisah yang aku pikir takkan pernah aku kisahkan, dulu. Terlebih padamu. Rajutan tinta ini, sungguh aku tidak tahu harus memulainya darimana. Sebab dulu, sempat aku berpikir akan menyimpan memori ini dalam absurdnya ingatan. Rahasia yang hanya dapat kubaca sendiri sampai otakku habis dimakan pikun. Tapi aku harus menuliskannya. Harus. Sebelum mati aku dihimpit sesak yang mendesak.

Han, kau sering kali bertanya doa apa yang aku kirimkan dengan pos kilat kepada Tuhan di setiap tahun tanggal kelahiranku. Kemudian, aku selalu mengatakan padamu bahwa doa itu rahasia orang yang berdoa dan Tuhan. Tidak boleh diberitahukan siapapun kalau ingin dikabulkan. Tetapi sampai saat ini, doaku belum dikabulkan, Han. Barangkali doaku sedang mengantri terhimpit dikerumunan doa-doa lain. Semoga doa itu tidak pingsan atau bahkan mati sebelum sampai ke pangkuan Tuhan. Maka, aku akan memberitahumu. Doaku. Yang setiap tahun selalu kau tanyakan. Aku akan mengatakan pada Tuhan bahwa ini akan menjadi rahasia Kita bertiga. Hanya bertiga. Aku, Tuhan, dan kau.

"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita ........................."

Selalu seperti itu setiap tahunnya. Selalu. Dalam 5 tahun terakhir. Sekarang kau tahu kan kenapa aku tidak pernah mau memberitahumu? Karena harusnya tidak perlu ada doa seperti itu. Seharusnya aku sudah cinta sejak tali pernikahan ini mengikat kita. Sejak janji sehidup semati menjadi kontrak tak terpatahkan. Atau bahkan seharusnya jauh sebelum itu.
 
Pernah dengan sukarela aku menjatuhkan rasa pada lelaki, sebelum dirimu. Aku menemukan benih diantara kami dan memutuskan untuk menanam benih itu dalam hati masing-masing tanpa tahu jenis dari benih tersebut. Kupikir barangkali itu benih mawar, lily atau mungkin justru benih pohon besar dan kuat. Dan kau tahu? Sialnya aku mengetahui apa jenis benih tersebut setelah menikah denganmu. Ilalang. Benih itu ilalang. Ilalang yang meski kurusak seperti apapun akan tetap bersikeras tumbuh. Yang meski kubiarkan tanpa air dan pupuk tetep mampu bertahan. Benih semacam itu, Han. Benih yang aku kutuk setiap hari. 

Benih itu pernah membuatku meminta pada Tuhan untuk mempertemukanku dengannya kembali, dan Tuhan mengiyakan permintaanku. Kau ingat, saat kita merayakan hari jadi pernikahan yang ke-3 bersama anak kita? Saat itu aku bertemu dengannya, Han. Ya. Lelaki yang menghampiri kita, berjabat tangan denganmu dan kusapa dengan gagu itu. Masih sangat kuingat bagaimana aku menahan lari jantung yang tiba-tiba menjadi hiperaktif. Masih kuingat senyum dipaksaan yang aku berikan sambil berdoa semoga kau tidak menyadarinya. Sejak saat itu aku tahu, aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Sebab benih itu masih terlalu kuat. Terlalu banyak. Dan aku belum menemukan cara untuk membasmi semuanya.

Kita akan baik-baik saja, Han. Aku akan membuatnya baik-baik saja. Percayalah, akan ada saatnya aku menemukan hati yang pernah kujatuhkan padanya. Dan aku janji, setelah aku menemukan hati itu seketika itu pula aku akan langsung memberikannya padamu. Aku akan menemukan benih kita. Benih untuk memenuhi lahan rasa yang kupunya agar tak ada tempat lagi bagi ilalang. Aku akan berdoa lebih keras lagi pada Tuhan.

"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita. Barangkali sama seperti aku mencintainya."

Seperti itu, berulang-ulang.

Monday, October 28, 2013

Lembaran Kuyup Di Tengah Bising Perdebatan

Semesta punya banyak kehidupan. Hanya saja, seringkali manusia lupa atau mungkin sengaja melupakan hingga bisa berlagak sebagai pemeran utama, sedang pada nyatanya semua manusia juga figuran. Sedang pada nyatanya, kehidupan mereka hanya satu dari sekian banyak tumpukan skenario yang sama-sama usang. Sama-sama lusuh. Tertimbun semesta.

Banyak yang lupa. Bahkan warna pun punya kehidupan, ketika merah dan biru tidak lagi menjadi pemeran utama tetapi harus rela menyatu, melebur demi menjadi violet. Menjadi figuran. Samar dari pandangan. Tak banyak yang ingat. Tak banyak.

Pada salah satu lembaran lusuh dari tumpukan skenario, terbaca perdebatan disana. Tentang lelaki dan perempuan. Lelaki dan perempuan yang sedang berebut tahta kesakitan. Bersikeras menjadi yang paling sakit diantara keduanya. Menganggap masing-masing dari mereka adalah tokoh utama yang sedih dan pedihnya layak dilihat.

"Akulah yang paling sakit. Aku yang dua kakinya harus menapak pada dua perahu berbeda karena tak bisa memilih. Aku!" Ucap lelaki itu.
"Lalu bagaimana denganku? Kau pikir menjadi bayang-bayang adalah impianku? Kau pikir enak menjadi seorang yang selalu berusaha tak terlihat? Pura-pura tak ada!" Wanita itu melawan.
"Aku tahu. Tapi paling tidak mengertilah posisiku barang sedikit."
"Mengerti posisimu yang bisa mengambil untung dari dua perahu? Posisi seperti itu yang kau sebut paling sakit, ketika posisimu justru yang paling bisa menyakiti?"  Tawa sinis tergambar pada wajah wanita itu.
"Bukan seperti itu! Aku bukannya tak mau memilih tapi tak mampu! Kau pikir aku tega menyakiti wanita yang selama ini justru menjadi salah satu orang yang menjagaku? Lalu, kau pikir aku bisa meninggalkanmu keika kau menjadi keinginan hati?!"

Bersikeras lelaki itu bertaruh bahwa ia yang paling sakit. Dia yang harus menjaga keseimbangan dirinya agar kedua perahu itu tidak oleng, terbalik. Agar dia juga tidak kuyup oleh air laut karena dua perahu tersebut memutuskan membuangnya. Berkali-kali pula lelaki itu menganggap ialah yang memiliki luka paling banyak, sebagai kompensasi melindungi dua wanita. Dia percaya, dia dikutuk Tuhan untuk memiliki memar yang banyak karena sempat terlalu tamak. Maka dia pun bersedia menjadi yang paling sakit. Maka dia pun tak pernah rela jika wanita itu menganggap dirinya paling sakit ketika dia merasa dia lah yang pantas sakit.  "Aku yang paling luka." Begitu ucapnya.

Tak lelah wanita itu berdebat bahwa ia yang paling banyak menangis sampai dia kekeringan. Sampai kemarau. Sampai miskin air. Karena dia lah yang harus menjelma menjadi hantu. Yang harus menjadi pengemis pinggiran jalan. Tak terlihat atau tak dilihat. Ia harus menjaga lelaki itu dan dirinya sendiri agar orang tak sinis melihat mereka. Lebih baik membuat orang tak menyadari kehadiran mereka dibanding harus dilirik sinis. Begitu pikirnya. Dia tahu, Tuhan sudah murka karena dia mengambil milik orang lain tanpa permisi. Dia pencuri. Maka dia pun percaya dia lah yang paling sakit. "Aku yang menangis sampai kering." Begitu katanya.

"Kau enak! Ketika kau memutuskan melepas salah satu, kau masih bisa berpegang pada satu yang lain! Sedang aku? Ketika kau memutuskan melepasku, aku bisa apa selain mengapung sendiri diatas kapal dan buta arah!" Wanita itu mengamuk.
"Menurutmu begitu? Menurutmu aku bisa dengan mudah melepas salah satu? Kalau mudah, sudah daridulu aku lakukan! Kau tidak pernah terpikir jika kalian melepasku, aku kuyup dimakan laut?!" Balas lelaki itu dengan nada tak kalah tinggi.

Satu lembaran pada tumpukan skenario itu terus berdebat. Berisik. Menggema. Tanpa mereka sadar, ada lembaran lain pada tumpukan itu. Tak hanya lusuh dan usang tapi juga basah. Hampir sobek. Ada wanita lain disana sedang menggenggam payung. Berusaha melindungi lembaran skenarionya agar tak basah dari hujan air matanya sendiri. Tapi gagal. Wanita yang sebenarnya telah lama menempati tahta kesakitan tanpa perlu berdebat. Sebab ia yang terkhianat tapi tetap mencoba percaya. Ia yang tahu tapi harus berpura bodoh. Ia yang rela tapi belum juga ikhlas. Ia yang berusaha bahagia tapi tak bisa berhenti menangis.

Barangkali, wanita ini tokoh utama dalam cerita. Tapi dilupakan oleh lelakinya sendiri dan dianggap figuran. Yang sedih dan pedihnya tidak perlu dilihat. Barangkali, dia wanita yang lembar skenarionya tak boleh sobek demi jalannya sebuah cerita.

Wanita ini menggenggam erat ujung payungnya. Agar tak sobek lembar skenario oleh air matanya. Agar bisa selesai sebuah cerita. Barangkali ujungnya adalah tawa dia dan lelakinya. Tanpa ada tokoh wanita lain. Barangkali.


gambar diambil dari: www.merdeka.com

Monday, September 30, 2013

AHSENA

Mereka bilang, duniaku ini riuh. Banyak celoteh lalu lalang di sekitar. Banyak kisah berhamburan di pinggir jalan. Bahkan katanya, rumah-rumah di sekitarku juga berbicara. Tak jarang ada yang mengeluh dengan ramainya duniaku. Namun ibu bilang, aku ini spesial. Menurut ibu, sejak dulu aku mempunyai gelembung. Gelembung dimana tak banyak orang bisa masuk ke dalamnya. Gelembung ini membuat aku harus menikmati hingar-bingar kesunyian. Mendengar sepi yang berteriak.

Seperti biasa, aku menjaga warung milik ibu. Sejak awal, sudah kubilang bukan kalau tak banyak orang bisa masuk ke dalam gelembungku? Maka, ibu sengaja selalu menyuruhku menjaga warung. "Tak apa nak kalau tak ada yang bisa berada dalam gelembungmu, tapi setidaknya biarkan orang mendekati. Dipinggiran saja tak apa." Begitu menurut ibu.

Begitulah. Warung kami memang satu-satunya di sekitar daerahku. Banyak orang mampir untuk membeli sesuatu. Ya, mampir. Kalaupun ada yang bertahan cukup lama di warung, itu karena bertemu ibu dan mengobrol. Bukan bertemu aku. Tak ada seorangpun yang pernah mengobrol denganku selain ibu. Kecuali kalau kalian menghitung "Berapa mbak?" atau "Warungnya lagi ramai ya mbak?" dengan mulut dibesar-besarkan sebagai obrolan.

Setiap malam aku punya singgasana tersendiri di depan warung. Kursi tua dari bambu yang bentuknya saja sudah tidak jelas. Malam memang mempunyai nikmatnya sendiri bukan? Sunyi dan damainya membuat banyak orang jatuh cinta dengan malam. Kujamin tak hanya aku yang mencintai malam. Kalian mungkin akan tertawa, aku, orang yang sudah ada dalam gelembung sunyi masih juga mencari kesunyian. Aku sendiri juga kurang mengerti alasannya. Hanya saja, setiap malam banyak percakapan di kepalaku. Banyak sekali. Mereka berkeliaran.

Tak lama, seorang laki-laki dengan pakaian kantor yang tidak lagi terlihat rapi datang dan menunjuk sebuah rokok. Dia salah satu pelanggan warung kami. Maka dengan sigap, aku mengambil rokok yang diminta dan mengambil uang yang diulurkannya. Begitu setiap hari. Laki-laki itu selalu datang, lebih sering membeli sebungkus rokok saja meski kadang ditambah dengan sebotol air mineral. Tapi kali ini, setelah mengulurkan uang, dia duduk di singgasanaku dan dengan bahasa isyarat dia meminta kertas dan pulpen. Dengan segera aku mengambil yang diminta.

-Boleh saya duduk disini dulu?- Begitu tulisnya dan hanya saya balas dengan anggukan.

Sejak hari itu, setiap hari laki-laki tersebut selalu membeli sebungkus rokok terkadang dengan sebotol air mineral dan duduk di kursi yang aku anggap singgasanaku. Diam saja dan hanya berbicara dengan rokoknya. Barangkali saat ini dia sudah mengubah kepemilikan dari singgasana itu. Karena jelas aku menjadi tersingkir. Namun, setelah beberapa saat duduk, dia kembali berdiri dan mengulurkan selembar kertas padaku yang berada di belakang meja kaca.

-Saya sedang butuh teman cerita. Keberatan kalau kamu menemani?-

Dia memberi isyarat memintaku duduk di sebelahnya dan akupun mengikuti. Sepertinya dia sudah mulai bercerita. Aku tak tahu tentang apa. Gelembungku membisukan segalanya. Tapi raut wajahnya menggambar sesuatu. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Sesuatu yang sedih. Entah apa itu. Begitupun hari-hari selanjutnya. Seperti kebiasaan baru, dia akan bercerita tentang entah apapun itu dan aku mencoba mendengar raut-raut wajahnya sembari menerka. Sedih, kesal, gembira, bahkan kosong. Ya. Raut wajah kosong yang sampai saat ini  tidak pernah aku mengerti artinya.

Oh iya, namanya Ahsena. Nama laki-laki itu. Dia menuliskannya sewaktu pertama kali dia memintaku menjadi teman bercerita. Ah-se-na. Kalian tahu? Diam-diam aku sering menyebut namanya. Terlebih saat dia bercerita. Membaca raut wajah dan menyebut namanya, kemudian membayangkan ketika aku menyebut namanya, pemilik wajah yang lebih sering menatap lurus ke depan tersebut akan membalikkan wajahnya padaku. Tepat setelah aku menyebut namanya. Ahsena. Tapi tentu saja kalian tahu, hal itu tak pernah terjadi. Sesering apapun aku memanggil namanya, sesering itu pula gelembungku membungkam segalanya. Ahsena hanya terus bercerita tentang hal yang tidak juga aku ketahui.

Hari ini, Ahsena datang dengan membawa sesuatu. Sesuatu berbentuk undangan. Dia mengulurkannya padaku kemudian berbicara dengan ibu yang kebetulan berada di sampingku. Raut wajahnya berbicara kebahagiaan namun raut wajah ibu mendung. Mendung yang terlihat dipaksa bahagia. Kau tahu? Seperti tangis langit yang tetap mencoba menghadirkan matahari. Seperti itu. Tak lama, Ahsena pamit dan ibu memandang undangan yang kupegang. Sesegera kubuka undangan itu dan tak berapa lama muncul nama Ahsena di atas nama seorang wanita. Aku limbung, gemetar hebat. Ibu memelukku. Punggung Ahsena masih terlihat di seberang sana. Menjauh. Air mataku berteriak.

Ibu, sekali saja bu! Sekali saja pecahkan gelembungku! Sekali saja. Biar aku memanggilnya. Memanggil namanya dan dia berbalik. Itu saja, bu. Itu saja.

Tubuhku memanggil. Air mataku berteriak. Raut wajahku menyebut. 

"Ahsena."

Tapi gelembungku jauh lebih tebal dari yang kukira. Ahsena. Laki-laki itu sama sekali tak pernah berbalik.


Memanggil nama itu menjelma menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang membiasakan diri untuk tidak didengar.