Friday, August 19, 2022
Kuharap Kita ....
Monday, September 21, 2020
Single and Happy
#30DaysWritingChallenge
Seharusnya Day-6!
Yup! Ini curang. Kalau pada saat day-5 kemarin alasan saya adalah overtime, untuk day-6 ini alasan saya karena para keponakan kesayangan saya kemarin sempat menginap. So, I took care of them. Mencari alasan memang selalu mudah!
Single and happy.
Saya sendiri agak heran dengan munculnya tema ini dalam writing challenge. Buat saya, single dan happy tidak perlu dihubung-hubungkan. Tidak ada yang bisa menjamin statusmu akan berhubungan dengan kebahagiaan. Karena bahagia bukan tentang apa saja yang kamu miliki, tapi tentang bagaimana kamu menilai apa yang kamu miliki.
Saya single. Dan saya bahagia.
That's right! Tapi bukan berarti kalau esok hari saya tidak single, artinya saya tidak bahagia. Saya bahagia karena saya menikmati kehidupan single saya. Banyak teman saya yang seumuran atau bahkan lebih muda, sekarang sedang sibuk memikirkan urusan sekolah anaknya. Sedang berkutat dengan urusan rumah atau sejenisnya. Kalau sekarang saya punya banyak waktu untuk menulis, beberapa teman saya mungkin sedang mencoba menenangkan anaknya yang sedang menangis.
I'm almost 30, by the way. Dan menjadi wanita yang belum menikah dengan usia ini di Indonesia artinya saya harus sering menjadi tuli dari omongan orang. That's my secret being happy nowadays.
"Puas-puasin lah. Enakan juga single. Nggak usah mikir suami sama anak. Bisa goler-goler sampe siang."
"Nikahlah. Udah nggak jamannya jalan sendiri, kemana-mana sendiri. Masa nggak bosen kayak gitu terus?"
Sungguh nasehat-nasehat yang bertentangan. Lalu, saya sadar bahwa banyak orang sibuk menilai kebahagiaan orang sesuai dengan standar hidup mereka. Tapi dari situ juga saya belajar, bahwa sungguh tidak ada hubungannya antara statusmu dan kebahagiaan. Apapun statusmu, kau bisa dan berhak bahagia. Saya single, saya bahagia dan bukan berarti saya bisa mengutuk manusia-manusia yang sudah memutuskan untuk berkeluarga dengan mengatakan mereka tidak bahagia. Pun sebaliknya.
Satu yang perlu kita ingat bersama,
tidak perlulah kita mengkerdilkan sesuatu hanya karena kita tidak menjalani hidup semacam itu.
Pun, tidak perlulah berlebihan bangga terhadap apa yang kita jalani.
Bahagia adalah tentang bagaimana kamu mengolah rasa terhadap apa yang kamu miliki.
My Parents
#30DaysWritingChallenge
Seharusnya Day-5!
Wohoo! See? Baru hari ke-5 sudah muncul ketidak-konsistenan. Maafkan kekhilafan hamba. Jum'at kemarin adalah hari overtime setempat kerja. Dan tentu saja pulang-pulang, badan otomatis tidak mau lepas dari kasur. Anyway, writing about my parents? I actually did that a long time ago. Jadi, saya bagikan saja link nya disini, karena setelah saya baca ulang tidak ada yang berubah dari pemikiran saya pada waktu itu.
It was 9 years ago. Pada awal saya menjalani umur 20an. Dan sekarang, saya hampir masuk dunia berkepala 3. I feel so old!
https://viairianti.blogspot.com/2011/04/gadis-kecil-dan-mama.html
https://viairianti.blogspot.com/2011/03/gadis-kecil-dan-ayah.html
Percaya atau tidak, setiap kali saya membaca ulang apapun yang pernah saya tulis kadang-kadang saya pun terheran-heran. How could I write that kind of thing?! Tapi, bukannya saya tidak mau menuliskan lagi tentang orangtua saya. Bagi saya, tulisan dulu masih sangat mewakili perasaan saya kepada mereka sekarang.
Sehat dan bahagia selalu! That's all I need from both of you.
Love,
Your little girl
Thursday, September 17, 2020
Places I Want to Visit
#30DaysWritingChallenge
Day-4
"What places you want to visit?"
Wizarding World in London!!!!
Harry Potter Filming Locations!!!
Apalagi yang bisa saya sebutkan selain itu? Tidak ada. Hidup dalam masa Pandemi membuat saya menjadi manusia yang ikhlas tinggal di dalam rumah yang isinya saya lagi-saya lagi. Menjadi manusia yang tidak berharap bisa jalan-jalan dengan bebas. Kembali bisa keluar rumah tanpa harus khawatir ada kemungkinan menularkan/ditularkan orang saja sudah syukur. Tapi, pada saat tema ini menjadi tema ke-4 dari challenge, I can't stop thinking about those places!!
Memutar balik mesin waktu kembali ke masa sekolah, saya pernah ditanya oleh teman,
"Kalau bisa keluar negeri mau kemana?"
"London."
"Kenapa London?"
"Mau ke Wizarding World-nya Harry Potter."
"Itu doang?"
"Iya."
Seabsurd itu saya. Bahkan kalaupun saya diberi rejeki hanya bisa mengunjungi London dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka dengan senang hati dan suka cita, saya akan ke Wizarding World lalu kembali ke Indonesia Raya. Hahaha. Call me idiot. I admit it.
Mengingat masa yang lebih purba, sebelum Wizarding World diciptakan di muka bumi ini saya pun pernah mengutarakan kepada teman saya,
"Kalau bisa pengen keliling UK deh."
"Mau kemana aja emang?"
"Ketempat syuting Harry Potter."
Saya bahkan masih mengingat dengan jelas muka-muka keheranan teman-teman saya. I'm a weirdo!
Bagi saya, Harry Potter bukan hanya sekedar cerita. Bukunya adalah pintu pertama saya menyetuh dunia novel. Kisahnya adalah kisah yang bertumbuh bersama dengan saya. Saya masih ingat bagaimana rasanya menanti-nanti novel terbaru setiap tahunnya. Bahkan saya ingat, bagaimana dulu saya harus memesan bukunya jauh-jauh hari sebelum buku-buku tersebut terbit.
Saya bahkan harus ikhlas mendengar omelan mama, karena buku-buku tersebut membuat saya lupa makan, lupa tidur dan sepertinya lupa pipis. Oh, oke. Sepertinya bukan saya yang ikhlas, tapi mama saya yang harus ikhlas mengomel sepanjang hari. Hari-hai terbitnya buku terbaru Harry Potter sepertinya adalah masa kelam untuk beliau.
So, will I be there someday?
Tidak tahu. Tapi menuliskannya saja sudah cukup membuat saya tersenyum sendiri.
Wednesday, September 16, 2020
Ingatan, Kenangan
Tidak. Aku tidak akan mendongengkan kenanganku disini. Sebab, barangkali kau akan bosan, dan tertidur sebelum dongeng kenangan selesai kuceritakan.
Untukku, ada 3 macam kenangan yang dimiliki manusia. Kenangan serupa danau, yang selalu cukup menggoda untukmu bermain disana. Dimana waktu dunia terasa melambat. Kau bisa saja bertahan disana sambil membaca ingatan kenangan berjilid-jilid sampai tanpa sadar senja mengusirmu dengan halus. Ada juga kenangan serupa taman depan rumah, yang selalu kau coba modifikasi dengan tatanan paling indah hanya agar kau merasa bahwa, ingatan kenangan tersebut tidak terlalu buruk untuk kau bawa sampai tua. Sampai renta. Terakhir, kau bisa saja menemukan kenangan serupa genangan bekas air hujan yang bersikeras kau hindari. Demi tidak kotornya sepatumu. Yang membuatmu bersikeras melayangkan doa pada Tuhan, agar matahari bersedia mengeringkan genangan itu, sampai hilang. Sampai kering. Sampai tak terlihat olehmu.
Oh, jangan tanyakan soal teori atau mengajakku berdebat soal ini. Karena aku tidak sedang mengerjakan karya ilmiah.
Tuesday, September 15, 2020
Things That Makes Me Happy
#30DaysWritingChallenge
Day-2
Sepertinya saya butuh banyak waktu untuk mengingat hal apa yang membuat saya bahagia. Semakin saya dewasa, rasanya hampir semua kejadian terasa biasa saja. Tapi kalau harus saya sebutkan, sepertinya berjalan kaki. Sebagai manusia yang lahir dan sempat tinggal di kota kecil, berjalan kaki menjadi satu kebiasaan. Bagaimana tidak? Pada masa itu, kemanapun saya pergi hampir selalu tidak bersedia menaiki bis kota. Bagi saya, berjalan membuat saya bisa meromantisasi banyak hal. Rumput, pohon, sungai, bebatuan, pedagang pinggir jalan dan lain sebagainya. Sesimpel itu.
Sekarang?
Tentu saja tidak. Sulit bagi saya menemukan tempat berjalan kaki yang nyaman di kota saya sekarang ini. Ditambah cuaca yang seringkali panasnya tidak mengenal ampun.
Menonton Korean drama. Yang ini sepertinya tidak bisa ditawar. Bukan karena Korean-wave sedang merajalela, tapi saya rasa saya sudah terlanjur tenggelam dalam dunia drama untuk waktu yang cukup lama. Barangkali 17 tahun atau bahkan lebih. Dari dunia ini saya belajar sedikit tentang dunia kedokteran, jurnalistik, penyakit psikologis dan banyak hal. Harus diakui, menonton Korean drama bukan hanya melulu soal tangis-tangisan tapi juga soal detail dari tema yang diangkat.
Pegunungan dan hujan. Lagi-lagi saya harus mengakui kota tempat lahir saya sungguh berpengaruh banyak. Cuaca dingin, hijau pemandangan, dan air hujan sepertinya memang komposisi yang pas bagi saya, meski hanya duduk manis menikmati.
Diakui atau tidak, bahagia memang hanya berkutat pada hal-hal sederhana yang kadang terlewat. Dia tidak gaduh, tidak juga megah. Dia lebih memilih menyelip diam-diam dan menyapa lembut serupa angin sepoi-sepoi.
Monday, September 14, 2020
My Personality
#30DaysWritingChallenge
Day-1
Sebelum memulai challenge ini, ijinkan saya mengucapkan "selamat datang kembali" teruntuk diri saya sendiri. Menantang diri untuk mulai menulis lagi saat ini rasanya seperti memaksa pulang kampung disaat tidak libur. Menyenangkan tapi juga khawatir. Khawatir tidak punya cukup waktu, khawatir segalanya terasa terburu-buru dan tidak bisa dinikmati, sekaligus senang. Senang berharap bisa melarikan diri sejenak dari riuh dan hingar bingar isi kepala.
Sejujurnya menulis topik ini adalah yang seringkali saya hindari. Kepribadian saya. Dalam proses menulis ini sesungguhnya saya berdoa semoga saya cukup mengenal dan cukup bisa menilai diri saya sendiri. Kalau boleh saya pengakuan dosa, terkadang saya terlalu sibuk menganalisis orang lain sampai lupa jalan pulang untuk menganalisis diri sendiri. Who's with me?
Mungkin saya harus mulai dengan:
"Woman outside, man inside." Hahaha.
Sebenarnya ini mencontek dari penuturan orang-orang disekitar saya selama ini. Lalu, berdasar pada tes yang pernah iseng tidak berhadiah saya kerjakan dalam buku "Why Men Don't Listen & Women Can't Read Maps", hasil skor saya menunjukkan hasil skor cara otak saya berpikir ada diambang batas skor yang biasanya dimiliki laki-laki. But, thanks God, I can't read maps! Setidaknya, itu adalah salah satu hal yang paling wanita dalam diri saya dan harus dipertahankan. Selamat!
Selanjutnya, jangan berharap saya bisa dengan sukarela menjalani sesuatu terutama tentang prinsip atau jalan hidup yang tidak saya sukai. I don't care what you say, I live my own life. Menjalani hidup sesuai dengan standar orang lain buat saya adalah hal yang menguras tenaga dan sia-sia. Bagi saya, hidup bukanlah sekolah melainkan belajar. Dalam hidup tidak ada level atau istilah "naik-tidak naik", tapi bagaimana kita berproses mengambil nilai dari kejadian yang dijalani. Jadi, saya tidak perlu menjalani ujian yang sama dengan orang lain, bukan?
Jangan berharap menemukan saya dalam keramaian, bahkan meski di tempat tersebut ada diskon dimana-mana. Hahaha. (Sombong ala anak sultan!). Oh, oke! Kecuali kalau itu diskon buku besar-besaran. Lahir dan sempat besar di lembah sepertinya memang memiliki pengaruh cukup besar bagi saya.
Itu saja?
Sebenarnya tidak.
Tapi menulis 3 hal ini saja, energi saya habis untuk menganalisis. Menemukan jalan kepada diri sendiri memang bukan pekerjaan mudah.
Sunday, February 17, 2019
Secarik Kisah yang Sama
Monday, December 25, 2017
Pada Akhir Hari
Selalu bersiaplah pulang, padaku.
Sampai habis tinta Tuhan menulis skenario kita.
Tuesday, September 20, 2016
Aku ini...
Wednesday, January 6, 2016
Mengalirlah, Untuk Hidupmu
Sudah ku temui wanita dengan berbagai latar dan seluk beluk, tapi kamu memang berbeda. Aku tak tau, ntah aku yang memang kurang tajam dalam penglihatan, atau memang dirimu yang sengaja menjadi samar, agar semua tetap pada keadaan seperti biasanya.
Hadirmu yang melepaskan dahaga, menyejukkan, dan kadang berbahaya jika dalam jumlah besar, sepeti banjir bandang.
Saturday, January 2, 2016
day 6# - untuk Via dan ruang biru
tidak, aku tidak akan menyapa si Kesederhanaan. aku tidak akan bicara dengan sang Kesederhanaan. aku akan langsung bicara denganmu, Via.
aku mau kamu tau, aku rindu ruang birumu. ruang biru dan hampir semua biru. warna bodoh. bodoh karena kamu lah yang menyukainya. aku rindu isinya dan sekitarnya, kecuali pemiliknya. karena kamu harus tau, aku semacam membutuhkanmu. aku butuh kesederhanaanmu untuk menghentikanku menjadi Sang Berlebih. aku butuh kecukupanmu untuk menyumbatku mengeluh. aku butuh positifmu untuk mengalihkan negatifku.
aku butuh ruang birumu. bukan untuk menyaksikan salju vulkanik jatuh dari langit pertama kali seumur hidup, tapi untuk membunuh waktu bersamamu. sebenarnya kamu teladan paling baik untuk segalanya. aku tak tau akan dimana lagi mengenal sosok yang mampu selalu baik baik saja dalam menjalani hidupnya. entah dimana lagi ada sosok yang punya segalanya tapi mampu berlaku biasa saja, sekaligus sosok yang saat tak memiliki mampu berlaku seperti segalanya telah terpenuhi.
aku mau ruang birumu. bukan untuk menumpang koneksi internet, tapi untuk mendengar kalimat-kalimat yang selalu bodoh keluar dari mulutmu. kalimat jenaka, dan kenapa kamu tak menjadi pelawak atau sekedar pembodoh saja? aku tak tahu bagaimana jalan pikirmu. bagaimana jalan rasamu. bagaimana otakmu, bagaimana hatimu. tapi bolehkah aku meminjam dan mengopi sedikit? walaupun aku tau otakmu secadas underoath dengan IQ ratusan berpangkat dua, aku masih tak paham. aku tak paham bagaimana kamu bisa tenang saat berpapasan dengan apapun. atau mungkin hanya tampak tenang? kalau begitu paling tidak beritahu aku bagaimana caranya tampak selalu tenang. dan baik baik saja.
aku merindukan ruangan biru bodohmu. bukan hanya rindu helai rambut berserakan, tapi semua isinya dengan nyanyianmu beserta pilihan lagu yang selalu idiot dengan raut wajah paling polos. dan kamu. sungguh. aku rasa aku akan butuh itu selamanya. apakah aku bisa? sepertinya aku akan butuh bicara denganmu selamanya. apa bisa? aku akan butuh berbagi, bercerita, bertanya, dan bahkan berteori denganmu selamanya, seseringnya. apa mungkin? aku tak tahu akan dengan cara apa lagi aku menemukan orang yang mampu memproses dan menerima informasi apapun. APAPUN! sistem saraf pusatmu memang ksatria. akan seperti apa lagi aku mengenal orang yang mampu mendengar dan memahami apapun bentuk aksara. kepribadianmu memang raja.
sesungguhnya aku tak perlu menulis surat. aku bahkan sudah pernah menulis surat cinta penuh gombalan untukmu. toh kamu sudah tau dan kapanpun aku bisa menyampaikan langsung padamu. tapi aku rasa kamu pantas di abadikan dalam satu bentuk berbeda. dan inilah seadanya. bersenang-senang lah dalam liburanmu. karena kami disini juga bersenang-senang tanpamu dan akan segera membuatmu iri. salam untuk Lombok, anggap saja dari Defri yang rindu pulang walau sesungguhmya salam itu dariku untukmu.
Selamat malam, Via.
source: http://cobacekajadulu.blogspot.co.id/2011/01/day-6-untuk-via-dan-ruang-biru.html
Note:
tulisan pertama dan terakhir dari adik bungsu yang selalu menjadi yang paling muda untuk apapun. bahkan perkara "pulang" kepada Sang Maha Pencipta pun tetap saja yang paling muda. kamu "pulang" terlalu cepat, bon. semoga kamu senang bisa bermain lebih lama. Amin.
Yang Tidak Bersedia Beranjak
Thursday, November 5, 2015
Pramadhani Reihan Tuasikal
Maaf ternyata aku tidak setangguh ekspektasimu.
Pramadhani Reihan Tuasikal
18 Februari 1992 - 04 November 2015
Tuesday, June 16, 2015
Izinkan Kami
Sunday, June 8, 2014
Seutas Janji Yang Terpenuhi dan Yang Teringkari
Janji adalah kata yang sederhana. Terlalu sederhana. Hingga tak sadar kita akan dampaknya. Hingga segala kehati-hatian dikesampingkan. Sebab terlalu mudah dia diucap. Maka, aku membencinya. Sengaja kupenjarakan kata tersebut pada kerongkongan paling dalam. Aku kunci yang kuncinya sengaja ku buang ke sembarang sudut. Ah. Tapi aku tak tahu, mantra apa yang kamu gunakan sampai aku terhipnotis. Aku tak tahu, cara seperti apa yang kamu lakukan untuk menemukan kunci itu dan memberikannya padaku.
"Aku akan pergi." Katanya.
"Sampai kapan?" Begitu responku. Sejujurnya aku membenci responku sendiri. Untuk apa menanyakan sampai kapan?! Toh intinya kau akan pergi juga.
"Belum tahu. Belum bisa dipastikan. Tapi, bisa aku minta satu hal?" Ragu-ragu kau lontarkan pertanyaan itu. Ragu pula aku untuk mengangguk.
"Tunggu aku. Berjanjilah."
"Kamu tahu sendiri, aku tak pernah berjanji."
Ah! Permintaan itu sungguh keterlaluan. Kau meminta kata yang aku kurung dan kubenci -sejak aku paham atas konsekuensi dari kata itu- untuk muncul ke permukaan percakapan kita. Lalu, janji macam apa itu? Ketika aku bahkan tak tahu akan sampai kapan. Ketika kau sendiri tidak bisa memberikan garansi apapun untuk kembali. Ini ide gila!
"Kau tahu alasan aku tak pernah mau berjanji atas apapun? Karena masing pihak akan merasa terbebani. Karena masing pihak akan saling mengharap. Karena masing pihak bisa saja saling melukai. Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Sama sekali tidak mudah." Ucapku memberi alasan.
Ada jeda diam disini. Lama. Lama, sampai dingin menyergap sebab kita berdua, namun sendiri. Dalam pikiran masing-masing.
Kemudian akhirnya kau memecah keheningan.
"Yang aku tahu, dengan janjimu aku punya alasan untuk kembali pulang. Sebab aku butuh alasan untuk pulang. Sebab aku butuh pulang. Untuk alasan itu, tak bisakah kamu membuat sedikit perkecualian? Sekali sepanjang usiamu. Sekali."
Aku kalah. Seutas janji terikrar. Kau janji akan kembali, aku janji untuk menanti.
Sudah dua tahun lebih sejak kepergianmu. Hari ini, banyak sekali orang disini. Banyak sekali. Di rumahku. Sebagian besar memakai baju hitam. Sebagian lagi, bernuansa gelap. Hanya sedikit yang menggunakan warna sedikit cerah. Doa dan ucapan duka cita bergantian diucapkan oleh para tamu. Ayat-ayat Tuhan dibacakan sejak pagi tadi. Ada air muka sendu yang berusaha ditegarkan. Ada juga air mata yang pasrah dijatuhkan. Ada kata maaf yang diucapkan dari pihak keluargaku kepada tamu yang datang. Banyak sekali. Maaf yang diatasnamakan aku. Meski aku sendiri tidak ingat kapan aku pernah menitipkan maaf-maaf itu untuk disampaikan oleh keluargaku.
Dari sekumpulan orang yang ada disini, aku menangkap sosokmu. Meski jauh, aku bisa memastikan itu kau. Hanya saja, air mukamu tidak bisa kupastikan. Tidak jelas. Raut itu, entah apa maksudnya. Tatapan kosong tapi berisi. Tahu tujuan tapi hilang arah. Aku gagal menerka.
Perlahan langkahmu mendekat. Pada keluargaku. Pada petiku.
"Disa minta maaf. Untuk janji yang tidak sempat ditepati. Dia menitipkan ini." Susah payah ibu mengucapkan kalimat singkat itu padamu. Ada getar disana. Getar sebab ingin terlihat tegar. Sepucuk kertas itu diberikan padamu.
Tidak ada ucapan duka cita darimu. Tidak seperti tamu lain. Tidak pula ada ucapan doa darimu. Tidak sepatah katapun. Berlalu begitu saja setelah menerima sepucuk kertas itu. Duduk diantara banyak tamu, tapi terlihat sendiri. Diam. Dengan sepucuk kertas yang sama sekali tidak kau buka. Hanya tatapan lurus ke depan, tapi tidak terlihat menatap apapun.
Ada penyakit yang menemaniku tak lama sejak kau meninggalkan kota ini. Tak hanya menemani, ternyata ia pun menggerogoti. Sayangnya, tubuhku tidak cukup kuat untuk melawannya. Aku rasa tubuhku terlalu cepat menyerah. Untuk satu janji yang pernah aku ucap, aku ingin menepatinya. Satu-satunya janji yang pernah terikrar. Yang pernah terlontar. Tapi penyakitku tidak mengijinkan. Seandainya, kau pulang lebih cepat. Barangkali aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku bisa menepati janjiku. Barangkali aku bisa pergi darimu tanpa harus menitipkan maaf pada ibu.
Aku tidak pandai berjanji, bukan? Satu-satunya janji yang kau minta, tidak juga aku lunasi. Sebab pada akhirnya, kau pulang setelah aku mengingkari janji. Setelah aku tidak bisa menanti. Kertas itu, tidak kunjung kau buka. Dan kau sama sekali tak berniat membukanya. Haruskah aku yang membacakan? Meski tak terdengar olehmu.
Maaf untuk tidak menanti. Terimakasih karena kembali.
Terlalu singkat sepucuk kertas itu untuk seorang yang telah mengingkari janji. Aku ingin menulis lebih banyak. Hanya saja, penyakitku menghilangkan beberapa persen fungsi tanganku. Pada dua kalimat itu saja, aku harus berdoa lebih banyak pada Tuhan agar bisa terbaca tulisanku olehmu.
Pada langkahmu, aku lekat. Pada setiap jejak kaki yang kau buat, aku mendampingi. Untuk tebusan sebuah janji yang aku ingkari.
Thursday, February 27, 2014
Ada Yang Janggal Pada Hutan Kenanganmu
Hampir tak ada gugur daun disini.
Kemana kau sembunyikan?
Atau memang kau larang pohon-pohon ini melepas sedikit beban mereka?
Agar tak terbaca kenanganmu oleh siapapun.
Termasuk kau.
Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Kudengar pohon-pohon ingin berbicara padamu.
Tapi kau seolah tuli.
Kudengar daun-daun itu rindu jatuh, luruh pada tanah.
Rindu kau baca sebelum habis menyatu dengan bumi.
Tapi lagi-lagi kau seolah tak tahu.
Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Pada kotak kaca tepat di tengah hutan.
Daun kenangan serupa kertas yang dirobek menjadi penghuninya.
Kelabu pekat melekat pada lembaran-lembaran daun itu.
Apa yang coba kau kurung?
Apa yang coba kau elak?
Ada yang janggal pada hutan kenanganmu.
Ketika aku merasa kenangan itu terlalu kuat untuk kau lepas.
Terlalu sakit untuk kau ingat.
Hingga mati-matian kau kurung dalam kotak kaca.
Agar tak terjamah oleh tangan namun tetap kau lihat.
Meski kau tolak.
Ara, tak ada yang salah dengan kelabu kenanganmu.
Sudah terlalu banyak kejanggalan disini.
Luruhkan saja.
Biar pohon melepas daun yang ingin jatuh untuk kau baca.
Kemudian hilang menjelma pupuk.
Biar pecah kotak kaca itu dan berhamburan kelabu milikmu.
Berhamburan dimakan angin.
Sebab, tak ada yang lebih bahagia.
Tak ada yang lebih bahagia dibanding menerima semua.
Wednesday, February 26, 2014
Sepucuk Surat Teruntuk Han
Han, sungguh aku meminta maaf. Sebab surat ini akhirnya kutulis untukmu, meski belum kuputuskan akan memberikannya padamu atau tidak. Saat ini, aku hanya merasa aku harus mengalirkan semua. Harus. Kalau tidak, barangkali aku akan meledak serupa bom rakitan para teroris. Aku harus menuliskannya, meski entah akan kau baca, kusimpan, kukubur sampai kau menemukannya ketika rambut kita telah sama-sama memutih atau barangkali aku bakar seketika setelah selesai kutulis.
Pernah dengan sukarela aku menjatuhkan rasa pada lelaki, sebelum dirimu. Aku menemukan benih diantara kami dan memutuskan untuk menanam benih itu dalam hati masing-masing tanpa tahu jenis dari benih tersebut. Kupikir barangkali itu benih mawar, lily atau mungkin justru benih pohon besar dan kuat. Dan kau tahu? Sialnya aku mengetahui apa jenis benih tersebut setelah menikah denganmu. Ilalang. Benih itu ilalang. Ilalang yang meski kurusak seperti apapun akan tetap bersikeras tumbuh. Yang meski kubiarkan tanpa air dan pupuk tetep mampu bertahan. Benih semacam itu, Han. Benih yang aku kutuk setiap hari.
Benih itu pernah membuatku meminta pada Tuhan untuk mempertemukanku dengannya kembali, dan Tuhan mengiyakan permintaanku. Kau ingat, saat kita merayakan hari jadi pernikahan yang ke-3 bersama anak kita? Saat itu aku bertemu dengannya, Han. Ya. Lelaki yang menghampiri kita, berjabat tangan denganmu dan kusapa dengan gagu itu. Masih sangat kuingat bagaimana aku menahan lari jantung yang tiba-tiba menjadi hiperaktif. Masih kuingat senyum dipaksaan yang aku berikan sambil berdoa semoga kau tidak menyadarinya. Sejak saat itu aku tahu, aku tidak mau lagi bertemu dengannya. Sebab benih itu masih terlalu kuat. Terlalu banyak. Dan aku belum menemukan cara untuk membasmi semuanya.
Kita akan baik-baik saja, Han. Aku akan membuatnya baik-baik saja. Percayalah, akan ada saatnya aku menemukan hati yang pernah kujatuhkan padanya. Dan aku janji, setelah aku menemukan hati itu seketika itu pula aku akan langsung memberikannya padamu. Aku akan menemukan benih kita. Benih untuk memenuhi lahan rasa yang kupunya agar tak ada tempat lagi bagi ilalang. Aku akan berdoa lebih keras lagi pada Tuhan.
"Aku ingin mencintai Han. Sama seperti aku mencintai anak-anak kita. Barangkali sama seperti aku mencintainya."
Seperti itu, berulang-ulang.
Monday, October 28, 2013
Lembaran Kuyup Di Tengah Bising Perdebatan
Monday, September 30, 2013
AHSENA
Ibu, sekali saja bu! Sekali saja pecahkan gelembungku! Sekali saja. Biar aku memanggilnya. Memanggil namanya dan dia berbalik. Itu saja, bu. Itu saja.
Tubuhku memanggil. Air mataku berteriak. Raut wajahku menyebut.
"Ahsena."
Tapi gelembungku jauh lebih tebal dari yang kukira. Ahsena. Laki-laki itu sama sekali tak pernah berbalik.







